Penantian panjang Mislicha Kasib, seorang jemaah haji berusia 85 tahun dari Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, akhirnya berbuah manis.
Ketekunan Mislicha mengumpulkan sisa uang belanja kebutuhan rumah dan hasil berjualan cilok sejak 1960-an, mampu mengantarkan dia ke rumah Allah SWT.
“Ibu sudah berjualan cilok sejak lama. Bahkan, saat jajanan cilok belum terkenal seperti sekarang,” kata Mariatul Qibtiyah, mewakili Mislicha, Minggu (26/4/2026).
Setiap pagi, selama 65 tahun, Mislicha mendorong gerobak ciloknya menuju ke SMPN 5 Pasuruan yang berjarak kurang lebih 1 kilometer dari rumah.
“Itu juga yang jadi rahasia ibu tetap sehat dan kuat di usia yang sudah sepuh. Ibu tetap mau dan mampu mendorong gerobak cilok sendiri. Kami anak-anaknya, hanya bantu di dapur untuk mengolah cilok beserta bumbunya,” ungkap Mariatul.
Di tengah penghasilan yang terbatas itu, Mislicha tetap berupaya agar tabungannya tetap terisi. Meski hanya Rp10 ribu atau Rp25 ribu.
“Tabungan harian itu disimpan secara mandiri di rumah. Setelah terkumpul selama satu bulan atau mencapai Rp200 ribu, tabungan itu disetorkan ke bank agar lebih aman,” terangnya.
Mariyatul Kibtiyah (Kiri), mendampingi Mislicha jemah calon haji asal Kabupaten Pasuruan saat pergi ke Tanah Suci. Foto: Rafi’ Ermawan Mg suarasurabaya.netUpaya Mislicha untuk memenuhi tabungan haji juga terbantu karena dia mengikuti arisan. Dari arisan, Mislicha mendapat sekitar Rp25 juta.
Niat Mislicha untuk menunaikan ibadah Haji semakin kuat. Pada 2017 lalu, dia memberanikan diri mendaftar haji. Meskipun dia juga tidak tahu kapan bisa berangkat.
“Alhamdulillah, kami dikabari kalau ibu bisa berangkat haji tahun 2026 ini. Kami sangat bersyukur, karena ibu juga masih diberi kesempatan untuk bisa bertamu ke rumah Allah SWT meski usianya sudah sepuh, secara fisik ibu masih kuat,” jelasnya.
Sementara itu, setelah mengetahui ibunya akan menunaikan ibadah haji, Mariatul pun ikut mendaftarkan diri pada 2020 lalu sebagai pendamping lansia.
Sebelumnya, Mariatul adalah seorang karyawan pabrik. Dia kemudian keluar dari pekerjaan lama dan mengikuti ibunya berjualan cilok.
“Saya ikut jualan cilok, tapi di depan gang rumah mulai pukul 20.00 WIB sampai 23.00 WIB. Hasil dari berjualan cilok itu juga saya tabunh untuk menemani ibu menunaikan ibadah haji. Saya senang dan tidak khawatir, karena masih bisa mendampingi ibu melaksanakan Rukun Islam kelima,” tutupnya.(kir/iss)



