Bisnis.com, JAKARTA — Posisi Indonesia sebagai basis alih daya atau outsourcing global kian menguat dengan ditopang kombinasi biaya tenaga kerja yang kompetitif dan kedalaman talenta yang besar, meski masih menghadapi tantangan dari aspek kualitas bahasa dan infrastruktur digital.
Hal itu terungkap dari laporan 2026 Global Outsourcing Talent Index yang dirilis Ataraxis. Laporan tersebut menempatkan Indonesia pada posisi ke-8 dari 193 negara. Artinya, Indonesia berada dalam kelompok 4% teratas dunia.
“Indonesia berada di peringkat ke-8 dunia dalam daya saing outsourcing, menempatkannya dalam 4% negara terbaik secara global,” demikian tertulis dalam laporan yang diterima Bisnis, Jumat (24/4/2026).
Data indeks menunjukkan Indonesia memiliki kombinasi kuat dari sisi biaya tenaga kerja dan ketersediaan talenta. Skor labor cost mencapai 96 dari 100, setara dengan India dan Filipina, sedangkan dari sisi talent availability mencapai 80.
Capaian ini bahkan melampaui sejumlah negara tujuan outsourcing utama lain seperti China yang mencatat skor talenta 60 dan Malaysia 70. Indonesia juga tercatat mengungguli seluruh negara Uni Eropa serta negara-negara G7, termasuk Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang dalam peringkat daya saing outsourcing.
“Indonesia mengungguli seluruh negara G7 dan semua negara anggota Uni Eropa dalam daya saing outsourcing.”
Baca Juga
- Airlangga Sebut Kebijakan PKWT dan Outsourcing Bakal Diatur di UU Tenaga Kerja
- RUU Ketenagakerjaan, Buruh Tolak Outsourcing hingga Usul Perlindungan Ojol
- Penghapusan Outsourcing Jadi Tuntutan Utama Buruh pada Bupati Serang
Secara regional, laporan Ataraxis itu menunjukkan Indonesia berada di posisi ketiga di Asia Tenggara, di bawah Filipina dan Malaysia. Namun, Indonesia masih unggul atas Vietnam, Thailand, hingga Singapura dalam peringkat global tersebut.
Indonesia bersama Filipina dan Malaysia menjadi tiga negara yang mampu mencetak skor di atas 60 untuk seluruh indikator utama, yakni biaya tenaga kerja, kemampuan bahasa Inggris, ketersediaan talenta, infrastruktur digital, dan stabilitas bisnis.
Kemampuan Bahasa Inggris Batasi Daya SaingMeski demikian, keunggulan Indonesia belum sepenuhnya merata. Kemampuan bahasa Inggris masih menjadi salah satu faktor yang membatasi daya saing dibandingkan Filipina yang menjadi pemimpin global dalam indeks ini.
Perbandingan dengan Thailand menunjukkan hal tersebut. Kedua negara memiliki skor ketersediaan talenta yang sama, yakni 80, tetapi Thailand tertinggal jauh dalam peringkat global akibat skor kemampuan bahasa Inggris yang hanya 20, jauh di bawah Indonesia yang berada di level 60.
Sementara itu, Vietnam yang kerap disebut sebagai pesaing utama Indonesia di kawasan tercatat tertinggal dalam empat dari lima indikator, terutama pada infrastruktur digital dan stabilitas bisnis.
Di sisi lain, Singapura yang dikenal sebagai pusat bisnis Asia Tenggara justru berada pada peringkat 177 secara global. Tingginya biaya tenaga kerja menjadi faktor utama yang menekan daya saing negara tersebut dalam sektor outsourcing.
“Terlepas dari reputasi global Singapura, tingginya biaya tenaga kerja menempatkannya 169 peringkat di bawah Indonesia dalam indeks ini,” demikian tertulis dalam laporan Ataraxia.
Adapun, 2026 Global Outsourcing Talent Index merupakan pemeringkatan global yang mengukur daya saing suatu negara sebagai basis outsourcing dengan pendekatan berbasis data lintas indikator utama tenaga kerja dan ekosistem bisnis.
Metodologi indeks ini bertumpu pada lima variabel utama. Biaya tenaga kerja menjadi faktor pertama yang menilai seberapa kompetitif ongkos tenaga kerja di suatu negara.
Kemampuan bahasa Inggris menjadi variabel kedua yang mencerminkan kesiapan tenaga kerja dalam komunikasi global. Ketersediaan talenta mengukur skala dan kedalaman sumber daya manusia.
Infrastruktur digital menilai kesiapan teknologi dan konektivitas. Stabilitas bisnis dan politik menjadi indikator terakhir yang menggambarkan kepastian operasional bagi investor.
Setiap negara kemudian diberikan skor agregat berdasarkan performa di kelima dimensi tersebut. Hasil akhirnya berupa peringkat global yang menunjukkan negara mana yang paling kompetitif sebagai basis outsourcing, terutama bagi perusahaan yang ingin mengoptimalkan biaya, mengakses talenta, dan menjaga efisiensi operasional lintas negara.





