Jakarta, CNBC Indonesia - Sepanjang 2025 dan awal 2026, rupiah terus tertekan hingga mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah. Namun, pelemahan rupiah tak cukup mampu mendongkrak wisatawan asing, terutama ke Bali.
Nilai tukar rupiah ambruk 3,6% sepanjang 2025 dan sudah melemah 3,12% sepanjang pekan ini. Rupiah bahkan kini sudah di level Rp 17.200 yang merupakan terlemah sepanjang sejarah.
Pelemahan ini seharusnya menjadi katalis bagi lonjakan wisatawan ke Bali karena biaya liburan menjadi lebih murah bagi turis asing. Namun realitas berkata sebaliknya, jumlah wisatawan justru menurun.
Diskon Kurs Tak Cukup Menarik Wisatawan
Secara teori, depresiasi mata uang domestik menciptakan daya tarik kuat bagi turis asing karena meningkatkan daya beli mereka.
Bali kini menawarkan pengalaman yang lebih murah dibanding sebelumnya, mulai dari akomodasi hingga konsumsi harian. Kondisi ini biasanya menjadi pendorong utama peningkatan kunjungan, terutama dari pasar Eropa.
Namun dalam kondisi saat ini, keunggulan dari pelemahan mata uang belum mampu mengimbangi berbagai faktor lain yang lebih dominan, sehingga insentif harga kehilangan daya tariknya dalam mendorong peningkatan kunjungan wisatawan.
Lebih dari 8.000 orang terpaksa menunda perjalanan mereka. Sebagian besar telah memesan tiket dengan rute transit di Doha, Abu Dhabi, dan Dubai sebelum menuju ke AS dan Eropa. Oleh karena itu, kedatangan wisatawan Eropa kini turun sekitar 800 penumpang per hari.
Penyebab Turunnya Jumlah Wisatawan
Penurunan jumlah wisatawan lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal, khususnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Iran menyebabkan gangguan pada jalur penerbangan internasional, terutama rute dari Eropa menuju Asia.
Pembatalan puluhan penerbangan dan penundaan perjalanan oleh ribuan wisatawan menunjukkan bahwa aksesibilitas menjadi kendala utama. Dalam konteks ini, meskipun Bali lebih murah, hambatan perjalanan membuat destinasi tersebut tetap sulit dijangkau.
Tekanan Ekonomi Domestik Memperburuk Sentimen
Di sisi lain, pelemahan rupiah mencerminkan tekanan ekonomi domestik yang lebih luas. Faktor seperti meningkatnya utang luar negeri, melemahnya investasi asing, serta ketidakpastian kebijakan ekonomi turut mempengaruhi persepsi global terhadap Indonesia.
Sentimen negatif ini tidak hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga pada sektor pariwisata yang sangat bergantung pada kepercayaan internasional. Ketika stabilitas ekonomi dipertanyakan, keputusan untuk bepergian pun menjadi lebih berhati-hati.
Kondisi Bali saat ini menegaskan bahwa harga bukan lagi satu-satunya faktor dalam menarik wisatawan. Aksesibilitas, stabilitas geopolitik, dan kepercayaan terhadap kondisi ekonomi menjadi variabel yang jauh lebih menentukan.
Dalam lingkungan global yang penuh ketidakpastian, keunggulan harga akibat depresiasi mata uang dapat dengan mudah teredam oleh risiko yang lebih besar.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kunjungan wisatawan ke Bali justru anjlok terus sejak Juli 2025.
Ha ini berbeda dengan Jepang yang panen turis karena yen melemah sejak 2025.
Japan National Tourism Organization melaporkan bahwa 3.466.700 wisatawan mancanegara pada Februari 2026 mengunjungi Jepang. Meski bukan rekor secara keseluruhan, angka tersebut menjadi jumlah wisatawan asing tertinggi yang pernah berkunjung pada bulan Februari sepanjang sejarah.
Jumlah kunjungan wisatawan juga melonjak 15% menjadi 42,7 juta pada 2025.
source on Google




