Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Washington DC
Sejarah seolah berulang bagi para rival lama. Brasil, Maroko, dan Skotlandia kembali tergabung dalam satu grup di Piala Dunia FIFA 2026, mengingatkan pada pertemuan mereka di Prancis 1998 hampir tiga dekade lalu.
Kala itu, ketiga tim bersama Norwegia menghuni Grup A dan menyajikan sejumlah laga menarik. Brasil datang sebagai juara bertahan dengan skuad bertabur bintang, termasuk Ronaldo, dan langsung menunjukkan dominasinya sejak laga pembuka melawan Skotlandia.
Maroko, yang diperkuat Mustapha Hadji dan Salaheddine Bassir, tampil cukup impresif. Mereka bermain imbang dengan Norwegia, kalah 0-3 dari Brasil, lalu menutup fase grup dengan kemenangan 3-0 atas Skotlandia.
Sempat muncul harapan lolos ke fase gugur, namun gol telat Norwegia ke gawang Brasil mengubah segalanya dan membuat Maroko tersingkir meski mengoleksi empat poin.
Akhirnya, Brasil dan Norwegia melaju ke babak 16 besar, sementara Maroko dan Skotlandia harus angkat koper. Brasil sendiri melangkah hingga final sebelum dikalahkan tuan rumah Prancis dengan skor 0-3.
Kini, 28 tahun berselang, ketiga tim kembali dipertemukan dengan wajah yang sangat berbeda, baik dari segi komposisi pemain, pelatih, maupun peta kekuatan sepak bola dunia.
Maroko datang dengan status baru sebagai kekuatan global yang terus menanjak. Jika pada 1998 mereka belum memiliki prestasi besar, kini mereka menempati peringkat delapan dunia, posisi tertinggi sepanjang sejarah mereka.
Performa impresif seperti finis di posisi keempat Piala Dunia 2022 menjadi bukti perkembangan tersebut. Tak hanya tim senior, level usia muda mereka juga bersinar dengan medali perunggu Olimpiade Paris 2024 dan gelar juara Piala Dunia U-20 2025.
Di sisi lain, Brasil masih menjadi salah satu tim elite dunia, meski sudah lama tidak meraih gelar Piala Dunia sejak 2002.
Generasi baru yang dipimpin Vinícius Jr dan Raphinha diharapkan mampu mengembalikan kejayaan. Menariknya, mereka kini ditangani pelatih asal Italia, Carlo Ancelotti, yang menjadi pelatih asing pertama Brasil di putaran final.
Sementara itu, Skotlandia akhirnya kembali ke panggung Piala Dunia setelah absen panjang sejak 1998.
Dulu sempat rutin tampil, kini mereka datang dengan generasi baru yang lebih matang, dipimpin pemain seperti Scott McTominay dan Andy Robertson. Di bawah arahan Steve Clarke, Skotlandia bertekad menandai comeback mereka dengan hasil positif.
Pertemuan ulang ini bukan sekadar nostalgia, tetapi juga menjadi panggung pembuktian bagi tiga tim dengan perjalanan dan ambisi yang sangat berbeda.
Editor: Redaktur TVRINews





