Bisnis.com, JAKARTA — Tekanan jual teknikal membayangi pergerakan saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) menyusul keputusan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengeluarkan keduanya dari indeks LQ45 dan IDX80 secara bersamaan.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, mengungkapkan bahwa pengeluaran dari dua indeks acuan utama ini secara sekaligus berisiko memicu aksi jual paksa atau forced selling cukup signifikan dalam jangka pendek.
Hal itu, lanjutnya, terjadi karena pengelola dana pasif, seperti reksa dana berbasis indeks dan exchange traded fund (ETF) memiliki kewajiban untuk menyesuaikan portofolio mereka sesuai konstituen terbaru.
“Keluarnya BREN dan DSSA dari dua indeks sekaligus akan memicu forced selling dari reksa dana berbasis indeks dan ETF yang wajib merotasi portofolionya,” ujar Wafi saat dihubungi Bisnis, Minggu (26/4/2026).
Wafi menekankan tekanan jual yang menghantui BREN dan DSSA bukan disebabkan memburuknya kinerja atau masalah fundamental. Langkah ini murni bagian dari penerapan kriteria high shareholding concentration (HSC) guna meminimalkan risiko konsentrasi kepemilikan saham di pasar.
Oleh karena itu, pelemahan harga yang mungkin terjadi pada awal Mei diprediksi hanya bersifat teknikal. Tekanan diperkirakan mulai mereda setelah periode rebalancing indeks selesai dilakukan pada awal Mei 2026.
Baca Juga
- Efek Rebalancing LQ45: Dana Pasif Diramal Guyur Emiten Penghuni Baru
- Daftar Saham Indeks LQ45, IDX30, IDX80 Terbaru, BREN, DSSA, NCKL Terdampak
- BEI Ubah Kriteria IDX30, LQ45, IDX80, Analis: Short Term Pain, Long Term Gain
Adapun saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), PT Darma Henwa Tbk. (DEWA), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA), dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) yang masuk sebagai konstituen baru dalam indeks LQ45 diprediksi meraih sentimen positif.
Wafi menuturkan bahwa CUAN memiliki daya tarik kuat berkat eksposur komoditasnya yang solid serta langkah korporasi Prajogo Pangestu dalam meningkatkan porsi saham beredar di publik. Strategi ini dilakukan agar perseroan mampu memenuhi kriteria HSC yang ditetapkan BEI.
“CUAN menarik karena eksposur komoditas dan langkah korporasi untuk meningkatkan free float supaya lolos kriteria HSC,” pungkas Wafi.
HRTA juga dinilai potensial seiring tren harga emas dunia yang tetap tinggi. Sementara itu, WIFI juga menarik perhatian lewat eksposurnya di sektor infrastruktur digital serta sebagai bagian dari grup Hashim Djojohadikusumo.
_______
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




