JAKARTA, KOMPAS.com — Warisan dari orangtua kerap diibaratkan seperti pedang bermata dua. Ia bisa mempererat hubungan keluarga, tetapi juga berpotensi memicu keretakan di antara mereka yang sebelumnya dekat.
Dua kisah berbeda datang dari Septi (27), warga Jakarta Timur, dan Fahri (22), mahasiswa asal Jakarta Barat.
Keduanya mengalami sendiri bagaimana warisan bisa membawa dampak yang sangat kontras dalam keluarga.
Mereka bercerita dengan nama yang disamarkan.
Warisan yang MenyatukanBagi Septi, warisan justru menjadi titik awal kebersamaan dan kemandirian.
Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara, dengan dua adik laki-laki. Sejak kecil, Septi sudah akrab dengan usaha keluarga berupa toko serba ada kecil yang dikelola orangtuanya.
“Sejak orang tua masih ada, saya sudah terbiasa membantu. Jadi saya tahu betul bagaimana kondisi usaha dan keluarga kami,” ujar Septi kepada Kompas.com.
Baca juga: Kopi Babah Kacamata, Warisan Rasa dari Salatiga yang Bertahan Sejak 1960-an
Titik balik hidupnya terjadi pada 2022. Dalam waktu berdekatan, ia kehilangan kedua orang tuanya. Sang ibu meninggal lebih dulu, disusul ayah beberapa bulan kemudian karena sakit. Dunia seakan runtuh untuk Septi.
Sebagai anak tertua, ia merasa harus berada di garis depan untuk menopang keluarga dan menjaga adik-adiknya.
Fondasi dari Warisan SederhanaOrangtua mereka meninggalkan satu rumah berukuran sekitar 10 x 25 meter dan sebuah toko serba ada kecil berukuran 5 x 7 meter. Tidak ada harta melimpah, tetapi cukup menjadi fondasi awal.
Pembagian warisan dilakukan secara sederhana, tanpa melibatkan jalur hukum atau adat tertentu. Semua diselesaikan melalui musyawarah keluarga.
Baca juga: Semarang Borong 6 Warisan Budaya Tak Benda Nasional, Wingko Babat hingga Barongsai Masuk Daftar
“Alhamdulillah tidak ada sengketa. Memang di awal tidak mudah karena pasti ada perbedaan pandangan, tapi saya selalu menekankan bahwa ini bukan soal siapa paling banyak dapat,” kata Septi.
Dikelola Bersama, Tumbuh BersamaSepti memutuskan untuk mempertahankan dan mengembangkan toko peninggalan orangtuanya, meski ia juga bekerja sebagai karyawan swasta.
Bagi Septi, toko itu bukan sekadar sumber penghasilan, melainkan jejak perjuangan orangtuanya.
“Mereka membangunnya dari nol,” katanya.
Ia pun terlibat aktif dalam pengelolaan usaha keluarga, dengan pembagian peran yang jelas.
Baca juga: Fee Jual Tanah Warisan Rp 1 Miliar Tak Dibayar, Pria di Lubuklinggau Diniaya Saudara Hingga Tewas
Adik keduanya bertanggung jawab atas operasional harian toko, sementara adik bungsunya mengelola usaha laundry yang belakanga dibuka.
“Saya lebih ke pengawasan, pengembangan, dan pengambilan keputusan. Adik-adik fokus operasional,” ujar Septi.
Perjalanan usaha mereka tidak langsung mulus. Pada awalnya, hasil toko hanya cukup untuk bertahan hidup. Namun perlahan, mereka melakukan berbagai pembenahan.
Keputusan tersebut menjadi titik penting. Usaha keluarga mulai berkembang signifikan. Kini, mereka memiliki dua cabang toko serba ada dan satu usaha laundry yang berjalan bersamaan.
Baca juga: Perjuangan Para Kartini di Flores Timur, Setia Jaga Warisan Leluhur dengan Menenun





