Merbabu yang melekat sebagai nama gunung. Dan, mulai hadir dalam pemakaian secara luas berdasarkan catatan Pemerintah Kolonial Belanda. Gunung Merbabu terakhir kali mengalami erupsi pada tahun 1797. Letusan pamungkas inilah yang menguatkan catatan para pakar gunung api dari Netherlands kian intensif mengakrabkan nama Merbabu di telinga pengetahuan kita.
Secara etimologis, nama Merbabu berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Jawa Kuno, yaitu Meru (gunung suci) dan Abu (debu). Nama ini mendeskripsikan karakteristik gunung itu yang sering terselimuti debu vulkanik dan kabut tebal. Bisa jadi, hal ini akibat adanya aktivitas gunung berapi di sekitarnya, yaitu Gunung Merapi, Sumbing, Sindoro, Slamet, Lawu.
Naskah Kuno Bujangga Manik (medianya daun lontar) yang berisikan catatan perjalanan Jawa - Bali dari Prabu Jaya Pakuan, bangsawan dari Kerajaan Pakuan Pajajaran. Dengan kisaran penulisan dalam bahasa dan aksara Sunda Kuno pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16. Naskah itu menyebut Gunung Damalung, sering secara variatif mendapat penyebutan lain sebagai Gunung Pam(a)rihan. Kedua nama kuno itu merujuk pada kompleks gunung yang sama dengan Gunung Merbabu.
Dengan demikian, perubahan nama dari Gunung Damalung (Pam[a]rihan) menjadi Gunung Merbabu, terjadi seiring dengan penguasaan Belanda terhadap wilayah Nusantara. Dewasa ini, wilayah administratif dari lokasi Gunung Merbabu melintasi tiga kabupaten, yaitu Magelang (lereng barat), Boyolali (lereng timur/selatan), dan Semarang (lereng utara).
Tertinggi KetigaLokasinya berdampingan dengan Gunung Merapi. Memiliki ketinggian 3.145 meter di atas permukaan laut (mdpl). Gunung Merbabu tertinggi ketiga di Jawa Tengah, setelah Gunung Slamet (3.432 mdpl) dan Gunung Sumbing (3.371 mdpl). Kendati bukan yang tertinggi, Gunung Merbabu populer lantaran keindahan sabananya. Dan, jalur pendakian yang ramah, teristimewa melewati jalur Selo, Boyolali.
Tersohor dengan bentang sabana nan luas dan mempersembahkan panorama “negeri awan”, Gunung Merbabu menjadi jujukan relevan bagi mereka yang ingin berkemah di lokasi Sabana 1 dan Sabana 2. Terlebih lagi, area perkemahan di sini luas dan datar, sehingga memudahkan pendirian tenda.
Pemandangan indah saat matahari terbit atau terbenam, memantik hasrat pendaki yang sekaligus penggila fotografi mengawetkan momen-momen indah lewat jepretan-jepretan artistik. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika ia mendapat predikat Gunung Paling Fotogenik di Jawa Tengah.
Bagi pehobi hiking, Gunung Merbabu juga menjadi pilihan. Gunung yang termashur dengan julukan Zamrud Jawa Tengah itu menjadi favorit tujuan pendaki baik yang masih pemula maupun yang sudah kaya akan pengalaman. Bagi pehobi hiking, kembali Sabana 1 dan Sabana 2 menghadirkan daya pikat lewat tamasya di padang rumput yang kemolekan lanskap alamnya begitu menyentuhkan pesona. Terlebih kala Sang Mentari baru saja tergugah dari lelap tidurnya.
Pehobi hiking begitu memperoleh kenyamanan, terlebih manakala mereka mengambil jalur pendakian yang begitu populer bagi pemula berkat keberadaan trek yang relatif stabil, aman dan nyaman, terutama Jalur Selo, Boyolali. Serta, menghadirkan panorama yang bisa menimbulkan decak kekaguman berikut rasa syukur tiada berkesudahan pada Kemurahan Tuhan di sepanjang perjalanan.
Tatkala telah tiba di puncak, pendaki dapat menyaksikan pemandangan lima gunung sekaligus: Merapi, Sumbing, Sindoro, Slamet, dan Lawu. Berbicara mengenai puncak, Gunung Merbabu mempunyai karakteristik geografis unik. Terdapat tujuh puncak. Ada tiga puncak tertinggi dengan letak yang saling berdekatan.
Puncak Triangulasi (3.142 - 3.145 mdpl), berdasarkan penelitian terbaru, merupakan salah satu puncak tertinggi. Dengan selisih sedikit daripada Puncak Kenteng Songo (3.142 mdpl) yang sangat masyhur dan ikonik dengan sembilan batu keramat. Selanjutnya Puncak Syarif (3.119 - 3.120 mdpl) yang menawarkan pesona sunrise yang begitu indah.
Akses ke tiga puncak utama Gunung Merbabu tersebut, yaitu Puncak Triangulasi, Kenteng Songo, dan Syarif tersebut dapat melalui semua jalur pendakian resmi. Dari Jalur Pendakian Desa Genting/Cepit, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali bisa langsung ke Puncak Kenteng Songo dan Puncak Triangulasi. Jalur nyaman dengan panorama sabana terluas dan tanjakan stabil.
Sementara itu, melalui Jalur Pendakian Dusun Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, selain tiga puncak utama tersebut, para pendaki juga dapat mencapai empat puncak lainnya, yaitu Watu Gubug (2.707 - 2.711 mdpl), Pemancar (2.847 mdpl), Geger Sapi (2.987 mdpl), Ondo Rante (3.084 mdpl).
Ada Jalur Pendakian Dusun Suwanting, Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Ini jalur yang paling menantang. Dijuluki sebagai “jalur sinting” lantaran jalur ini didominasi tanjakan ekstrem. Nyaris tanpa “bonus” jalan datar. Kemiringan tanjakan ada di angka 30,8°. Bahkan terdapat bagian tanjakan di Simpangdua dengan kemiringan 59,1°. Waktu tempuh mencapai puncak di kisaran lima hingga tujuh jam. Meski demikian, panorama sabana yang jelita seolah menjadi obat mujarab untuk menghibur upaya pendakian yang sangat melelahkan itu.
Terdapat pula Jalur Pendakian Dusun Wekas, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Jalur ini juga mempunyai medan menanjak yang relatif terjal. Waktu tempuh pendakian sekitar enam hingga delapan jam dan untuk turun gunung dari jalur ini bisa tiga hingga empat jam. Trek didominasi tanah padat, akar pohon, dan berbatu. Vegetasi masih rimbun berkat adanya hutan di bagian bawah dan kian terbuka menuju puncak. Keunggulan utama jalur ini, tersedua mata air yang berlimpah, terutama di Pos 2.
Jalur Pendakian Dusun Cuntel, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang dan Jalur Pendakian Dusun Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, keduanya tercatat telah menjadi awal rute pendakian ke Gunung Merbabu sejak zaman kolonial Belanda tempo dahulu. Keduanya berhak menerima rengkuh penyebutan sebagai jalur klasik.
Pada masa lampau, wilayah Kopeng dan Salatiga menjadi tempat pilihan favorit sebagai area peristirahatan warga Belanda berkat kesejukan udaranya. Dengan demikian, kegiatan masyarakat mengeksplorasi ke Gunung Merbabu dengan awal pendakian di kedua titik ini, realitas menaruh bukti betapa sudah sejak lama bermula.
Jalur Pendakian Cuntel dan Thekelan mendapat julukan jalur klasik atau legendaris, beranjak dari sejarah dan karakteristik pendakiannya. Keduanya adalah jalur yang sudah jauh lebih lama digunakan, dibandingkan dengan Jalur Selo yang baru populer seiring dengan perkembangan pariwisata modern. Jalur Cuntel dan Thekelan secara historis mengikuti jejak-jejak akses yang tercatat sejak zaman Belanda. Bahkan sebelum itu, sejak masa Pra-Islam.
Kedua jalur pendakian yang legendaris tersebut memberikan pengalaman pendakian komplet. Melintasi pelbagai lanskap klasik Merbabu. Termasuk sabana dan hutan yang menghadiahkan pengalaman pendakian autentik. Mengaksentuasikan pada koneksi tulus terhadap alam liar. Menghargai proses perjalanan. Meraih pelajaran hidup.
Sebagai jalur klasik, yang sudah lama ada, keduanya menawarkan sensasi capaian puncak-puncak bayangan, sebelum pada gilirannya para pendaki itu tiba di puncak tertinggi, yakni Puncak Triangulasi. Di kedua jalur ini, terdapat sejumlah sumber air yang konsisten ketersediaannya, sehingga dapat menjadi andalan logistik para pendaki. Kombinasi antara sejarah panjang, keindahan alam, dan struktur jalur yang khas dalam pendakian ke tujuh puncak Gunung Merbabu itu memberikan daya pikat tersendiri.
Pengalaman pendakian ke puncak-puncak Gunung Merbabu menorehkan pengalaman berlainan. Semua tergantung pada jalur yang menjadi pilihan. Akan tetapi, ada satu hal yang sama. Apa pun pilihan jalur pendakian itu dari lima yang secara resmi tersedia itu, semua sama-sama mempersembahkan keindahan alam dengan keperkasaan daya pukaunya.
Kacamata VulkanologiMenurut perspektif vulkanologi, Gunung Merbabu berada dalam klasifikasi status tipe B. Sudah tidak menunjukkan gejala magmatisme yang berarti, seperti letusan aktif sejak tahun 1600. Saat ini, tergolong gunung berapi yang tidak aktif atau sedang menjalani istirahat panjang.
Berlandaskan catatan sejarah, letusan terakhir Gunung Merbabu terjadi pada tahun 1797. Erupsi ini meninggalkan kawah aktif yang hingga kini masih mengeluarkan zat beracun. Meskipun demikian, tidak menunjukkan aktivitas panas ekstrem sebagaimana Gunung Merapi.
Berdasarkan karakteristik geologi, Merbabu merupakan gunung berapi tipe stratovolcano. Tinggi, kerucut curam, terbentuk dari lapisan-lapisan kaku lava, abu vulkanik yang menumpuk dari waktu ke waktu. Gunung berapi komposit karena kompleksitas lapisannya. Terbentuk pada masa Pleistosen Akhir-Holosen, sekitar 126.000 hingga 11.700 tahun lalu. Saat zaman es berakhir dan mulai periode interglasial yang lebih hangat.
Tubuh Gunung Merbabu didominasi material piroklastik (lepas) dan sebagian kecil lava. Kendatipun bertetangga, Gunung Merbabu bertolak belakang dengan Gunung Merapi yang sangat aktif. Gempa yang sering dirasakan di Merbabu, lebih sering dikategorikan gempa teknonik. Bukan aktivitas magma langsung. Saat ini secara berkala, Gunung Merbabu berada dalam pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Akan tetapi, tidak menunjukkan adanya tanda-tanda letusan aktif dalam waktu dekat.
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan, sebagai gunung berapi purba yang memiliki lima kawah, yaitu Condrodimuko, Kombang, Kendang, Rebab, dan Sambernyowo, kawasan Merbabu menjadi pilihan dalam penelitian studi geologi.
Pada umumnya fokus pada karakteristik gunung api tua (kuarter), pemetaan material vulkanik. Selain itu, studi hidrogeologi (air tanah) dan potensi panas bumi. Karena merupakan gunung api yang sudah tidak aktif lagi, fokusnya ke studi geologi dasar dan pemanfaatan sumber daya alam.
Konsep ekowisata pun memperoleh realisasi penerapan dan berada dalam kawasan konservasi bernama Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb). Kawasan konservasi ini di bawah pengelolaan lembaga pemerintah, yaitu Balai TNGMb. Unit Pelaksana Teknis di bawah Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Kehutanan.
Kawasan konservasi TNGMb menduduki posisi penting dalam pengembangan ekowisata di Jawa Tengah. Ekowisata itu sendiri merupakan bentuk pariwisata yang menaruh fokus perhatian terhadap konservasi alam, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Konsep ekowisata memadukan rekreasi dengan pelestarian. Memastikan alam tetap lestari seraya memberikan manfaat ekonomi kepada warga setempat.
Kawasan konservasi TNGMb ditetapkan pada 2004 dengan luas 5.820,49 hektare. Mencakup tiga wilayah kabupaten, yaitu Magelang, Boyolali, dan Semarang. Gunung Merbabu memiliki puncak tertinggi, yaitu Triangulasi, 3.145 mdpl. Secara topografi, terdiri atas ekosistem pegunungan rendah (1.000 -1.500 mdpl), pegunungan atas (1.500 - 2.400 mdpl), dan sub-alpin (di atas 2.400 mdpl).
Penerapan ekowisata dilakukan di jalur-jalur pendakian utama. Tujuan pengelolaannya untuk menekankan perubahan konsep dari wisata massal menuju ke wisata edukasi dan konservasi. Kementerian Kehutanan mengedepankan prinsip zero waste dan zero accident di jalur-jalur itu demi merawat kelestarian ekosistem.
Adapun contoh implementasinya, Jalur Selo yang paling populer, realisasi pengelolaannya dengan mengaksentuasikan penyaksamaan terhadap kelestarian vegetasi, termasuk penetapannya menjadi area studi keanekaragaman tumbuhan paku. Menambah pesona lain dari tawaran ekowisata perbukitan yang sejuk dengan latar belakang Gunung Merbabu dan Merapi.
Dalam pada itu, kawasan Kopeng, Getasan, Kabupaten Semarang telah menjadi salah satu pintu gerbang utama yang populer. Di sini terdapat Merbabu Park Kopeng yang menjanjikan edukasi alam dan rekreasi secara maksimal. Di samping itu, terdapat destinasi glamping, yaitu Merbabu 360 di Dusun Cuntel yang menyuguhkan keindahan pemandangan lima gunung.
Glamping sendiri merupakan akronim dari glamorous camping. Gaya berkemah secara mewah. Mengombinasikan secara proporsional antara pengalaman menikmati alam terbuka dan fasilitas modern seperti laiknya hotel berbintang.
Bagian lereng Gunung Merbabu di Kabupaten Magelang, merupakan area ekowisata yang menyuguhkan daya pikat kunjungan. Terutama di Kecamatan Pakis, Sawangan, dan Grabag yang tersohor dengan udara nan sejuk berikut panorama alam yang begitu memanjakan indra penglihatan bagi siapa pun yang menyaksikannya.
Lokasi wisata Negeri Kayangan di Kecamatan Sawangan dengan kastil eksotis, patung kuda putih, dan spot foto yang instagramable dengan latar kemenjulangan Gunung Merbabu. Kemudian Bukit Grenden di Kecamatan Pakis, hutan pinus dengan kelengkapan gardu pandang unik, menghadirkan atmosfer suasana sejuk khas wilayah pegunungan.
Masih di Kecamatan Pakis, ada Merbabu Park, ekowisata yang populer pula. Lalu Desa Wisata Janari yang tepatnya berlokasi di Dusun Gatran, Desa Gondangsari, dengan basis pertanian dan edukasi konservasi alam di bawah pengelolaan karangtaruna setempat. Kemudian Top Selfie Kragilan di Desa Pogalan, dengan hutan pinus dengan noktah-noktah swafoto di sepanjang jalan masuk ke hutan.
Di lereng Gunung Merbabu Kabupaten Magelang, terdapat Desa Wisata Wana Mukti Siguede di Desa Kebonlegi, Kecamatan Kaliangkrik. Menghadirkan panorama pegunungan 360°. Wisatawan dapat melihat pemandangan alam pegunungan secara utuh ke segala arah. Baik dari depan, belakang, kiri kanan maupun atas hingga bawah. Tanpa terputus dari satu titik berdiri. Wisatawan dapat mencermati hamparan hijau yang melingkar dari berbagai sudut.
Ekowisata tampaknya menjadi strategi yang memperoleh pengembangan yang dapat terkerahkan secara maksimal di jalur-jalur pendakian yang resmi. Oleh karena itu, menjadi mudah terbaca ketika pemerintah daerah menaruh perhatian serius guna menggali potensi atraktif ekowisata dengan kebijakan yang searah dengan prinsip konservasi, seperti terhadap jalur pendakian Suwanting.
Sementara itu, guna meminimalisasi ekses kurang menggembirakan dari wisata massal, yaitu jumlah pengunjung yang melebihi kapasitas normal (overtourism), terdapat pemberlakuan sistem kuota pendakian dengan prosedur secara online pada jalur-jalur resmi.
Begitulah Gunung Merbabu. Kejelitaan panoramanya menyebabkan ia berhak menerima predikat sebagai Gunung yang Paling Fotogenik di Jawa Tengah. Di sini menjadi rumah bagi padang bunga Edelweis Jawa (Anaphalis javanica) yang begitu menawan. Biasanya bermekaran dari bulan April hingga Agustus. Dapat ditemui di sepanjang jalur pendakian menuju ke puncak.
Di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) terdapat tidak kurang 115 spesies burung, termasuk Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) yang sesekali masih tampak terbang melintas. Menurut hasil survei, Elang Jawa tampak muncul di area Resor Selo (lereng selatan) dan Resor Ampel (lereng timur).
Untuk primata, para pendaki masih dapat bertemu dengan Lutung Jawa Hitam (Trachypithecus auratus) di kawasan TNGMb. Bahkan dalam sejumlah pemantauan, tercatat populasinya bersama primata lain, seperti Surili Jawa (Presbytis comata).
Selain itu, ada pula Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis). Para pendaki sering menemuinya di area yang banyak tumbuh pohon akasia (Acacia), puspa (Schima wallichii), dan pelbagai jenis vegetasi hutan sekunder atau hutan campuran. Lokasi perjumpaan para pendaki dengan primata-primata tersebut di sepanjang jalur pendakian, terutama ketika mereka sedang mencari makanan pada pagi atau sore hari.
Mitos dan RasionalitasMelengkapi pembicaraan tentang Gunung Merbabu, ada baiknya kalau saya menutupnya dengan mitos atau kisah mistis yang masih melekat sebagai kepercayaan masyarakat lokal. Ada mitos yang menengarai, bahwa puncak-puncak Gunung Merbabu merupakan pusat Kerajaan Gaib. Oleh karena itu, penting bagi para pendaki untuk menjaga sopan santun dan tidak takabur.
Menurut kosmologi mistis Jawa, para penguasa gaib gunung-gunung besar di Jawa Tengah, termasuk Merbabu, Merapi, dan Lawu, tunduk pada kekuasaan Kanjeng Ratu Kidul yang kerajaannya berada di dasar Laut Selatan. Gerbang utamanya di Pantai Parangkusumo atau Pelabuhan Ratu.
Mulai dari sini, dialog antara mitos dan rasionalitas sesungguhnya telah memulai tarikh keberlangsungannya. Mitos bahwa para pendaki harus sopan dan menjaga perilaku demi menghormati para penguasa kerajaan gaib di Gunung Merbabu. Sesungguhnya bertalian dengan sikap rasionalitas yang membangkitkan perilaku leave no trace (tidak meninggalkan jejak).
Dalam tarikan pemikiran rasional, ada dorongan edukasi agar para pendaki menghormati alam. Adapun caranya bermacam-macam. Dengan tidak merusak tanaman misalnya. Rela membawa pulang sampah pribadi demi meminimalisasi polusi di Gunung Merbabu. Dan, tidak mengeluarkan teriakan-teriakan yang mengganggu kenyamanan. Semua tindakan tersebut secara tidak langsung turut melestarikan ekosistem di Gunung Merbabu.
Larangan berbau kisah mistis sering merupakan cara leluhur untuk mengingatkan para pendaki untuk waspada. Ambil misal mengenai larangan berpakaian warna hijau dan merah. Menurut sahibul mitos, konon kedua warna tersebut merupakan pakaian seragam para prajurit di Kerajaan Gaib puncak-puncak Gunung Merbabu itu. Pelanggaran atas aturan mistis soal warna pantangan ini dapat menyebabkan pelakunya dapat mengalami nasib sial, seperti tersesat atau kerasukan energi negatif.
Entah kebetulan atau tidak, larangan yang berdimensi mistis ini, juga memiliki sudut pandang rasional untuk keselamatan. Penggunaan pakaian warna hijau dapat menyebabkan pendaki menyatu dengan alam (kamuflase) sehingga dapat menyulitkan Tim Search and Rescue (SAR) manakala hendak melakukan langkah penyelamatan ketika yang bersangkutan tersesat.
Adapun merah terang atau oranye justru merupakan warna yang menjadi anjuran untuk penyelamatan karena mudah terlihat. Akan tetapi, dalam kondisi matahari terbenam atau area vegetasi pada dan tanah warna kemerahan, pendaki tersesat dengan pakaian serbamerah cenderung “hilang” tersamar.
Selanjutnya pada malam hari atau kondisi mendung atau berkabut, pendaki yang tersesat dengan pakaian serbamerah akan tampak jauh lebih gelap (hampir hitam) daripada warna cerah lainnya. Akibatnya sulit dikenali Tim SAR. Warna merah dapat pula menyamarkan korban pendaki yang mengenakan pakaian serbamerah, sehingga Tim SAR kesulitan membedakan antara korban dan bercak darah terutama dalam pencarian dengan helikopter.
Dialog antara mitos dan rasionalitas di Gunung Merbabu juga terjalin lewat pemetikan bunga Edelweis Jawa. Di balik mitos bahwa tindakan itu dapat menimbulkan nasib sial atau memicu kemarahan para penguasa penunggu gunung. Ternyata secara rasional, pemetikan bunga Edelweis Jawa yang sewenang-wenang dapat mendatangkan dampak lingkungan yang serius.
Bunga Edelweis Jawa memerlukan waktu yang relatif lama untuk tumbuh. Sebagai gambaran, untuk tumbuh setinggi 20 sentimeter saja harus mengarungi waktu selama 13 tahun. Tindakan pemetikan yang tidak terkontrol dapat mengusung akibat kepunahannya di Gunung Merbabu.
Padahal bunga Edelweis Jawa merupakan tumbuhan pionir di lahan vulkanik yang mengemban fungsi pencegahan erosi tanah. Ketidakhadirannya akan memperbesar risiko erosi dan merusak tanah di zona sub-alpin. Ekosistem pegunungan yang berada di bawah batas pepohonan dan di atas zona hutan montana (hutan pegunungan). Area transisi dari hutan padat ke tundra alpin yang terbuka.
Bunga Edelweis Jawa adalah sumber makanan dan habitat bagi 300 lebih jenis serangga, lumut, dan burung. Pemetikan yang sewenang-wenang akan memutus mata rantai makanan bagi fauna dan flora tersebut. Selain itu, tindakan pemetikan yang berlebihan dapat mendestruksi keindahan sabana dan puncak Gunung Merbabu.
Di Gunung Merbabu, perusakan Bunga Edelweis Jawa karena ulah manusia dan kebakaran hutan memang menjadi keprihatinan tersendiri. Meskipun demikian, saat ini kondisinya masih terbilang lumayan baik. Terdapat banyak laporan yang menyebutkan, tumbuhan ini masih tetap bermekaran, terutama saat kemarau datang menjelang. Sanksi sosial seperti membersihkan sampah yang teringan hingga terberat berupa larangan melakukan kegiatan mendaki, siap terkenakan kepada para pendaki yang nekat memetiknya. Apalagi dalam jumlah kuntum yang sangat berlebihan.





