Mengapa Begitu Banyak Orang Merasa Diperlakukan Tidak Adil: Sebuah Eksperimen Psikologis yang Mengungkap Pola Umum Manusia

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

oleh Nian Yuan

Bertahun-tahun lalu, sebuah jaringan televisi Amerika menayangkan program yang dengan cepat menarik jumlah penonton yang luar biasa besar.

Di tengah panggung berdiri sebuah kotak kayu berisi puluhan laci kecil. Seorang mentor psikologi terkenal berdiri membelakangi penonton dan mengatakan bahwa ia akan menunjukkan kemampuannya untuk “melihat ke dalam hati manusia.” Aturannya sederhana: para sukarelawan akan naik ke panggung, dan tanpa menoleh, sang mentor akan menyebut nomor laci—katanya hanya mengandalkan intuisi. Di dalam setiap laci terdapat amplop tertutup yang ditujukan untuk orang yang berdiri di depannya.

Sukarelawan pertama adalah seorang ibu rumah tangga.

“Laci nomor enam,” kata sang mentor setelah jeda singkat.

Pembawa acara mengambil amplop tersebut dan menyerahkannya kepadanya. Ia membuka surat itu, membacanya sekilas, lalu terdiam. Matanya membesar. Dalam hitungan detik, ia pun menangis.

“Anda benar-benar melihat diri saya,” katanya di sela tangis. “Ini hal-hal yang tidak pernah saya ceritakan kepada siapa pun. Bahkan saya sendiri tidak berani mengakuinya. Anda pasti utusan Tuhan.”

Sang mentor tidak menanggapi.

“Berikutnya,” katanya.

Sukarelawan kedua, seorang insinyur, maju ke depan.

“Laci dua belas.”

Ia membuka amplop itu dan menatapnya dengan tidak percaya. “Tidak mungkin,” katanya. “Ini pikiran paling pribadi saya. Bagaimana Anda bisa tahu?”

“Berikutnya.”

Sukarelawan ketiga, seorang guru sekolah dasar, membuka laci nomor tujuh. Reaksinya tidak berbeda. Ia menutup mulutnya dan menggeleng. “Saya tidak pernah mengatakan ini kepada siapa pun,” katanya.

Suasana studio berubah. Orang-orang berbisik satu sama lain dan condong ke depan di kursi mereka. Semakin banyak sukarelawan naik ke panggung, pola yang sama terus berulang. Laci yang berbeda. Orang yang berbeda. Kejutan yang sama. Ada yang menangis terbuka. Ada yang terkejut. Bahkan ada yang berlutut dan mulai berdoa.

Sebuah kalimat yang sering dikaitkan dengan psikologi seolah melayang di acara itu: alam bawah sadar Anda mengarahkan hidup Anda, dan Anda menyebutnya takdir.

Penonton terpaku, terseret oleh perasaan bahwa sesuatu yang sangat pribadi sedang tersingkap.

Kemudian pembawa acara meminta semua sukarelawan kembali ke panggung.

“Sekarang,” katanya, “silakan bacakan surat Anda dengan keras.”

Ibu rumah tangga itu mulai terlebih dahulu. Suaranya bergetar saat membaca:

“Anda pernah berpikir untuk meninggalkan semua ini, tetapi Anda tidak pernah menemukan keberanian. Kebaikan Anda telah menjadi kelemahan, dan itu membuat Anda terluka berulang kali. Anda tahu situasi ini tidak adil, tetapi Anda tetap menjalaninya demi orang-orang yang Anda cintai. Hati Anda semakin dingin, sementara orang lain terbiasa memanfaatkan kesabaran Anda. Anda takut berubah, takut menyakiti siapa pun. Maka Anda memendam rasa ketidakadilan itu dalam diam, hingga hari ini.”

Tidak ada yang berbicara.

Lalu sang insinyur mulai membaca. Kata-katanya persis sama. Begitu juga dengan guru tersebut. Dan pegawai kantoran. Dan pensiunan.

Setiap amplop berisi surat yang sama.

Setiap laci menyimpan pesan yang sama.

Baru kemudian pembawa acara menjelaskan apa yang sebenarnya disaksikan penonton.

“Pembaca pikiran” itu, katanya, adalah seorang psikolog. Eksperimen tersebut tidak ada hubungannya dengan kemampuan supranatural. Eksperimen itu dirancang untuk menangkap pola emosi yang diam-diam membentuk kehidupan modern.

Surat itu berhasil karena menyentuh sesuatu yang banyak orang rasakan: perasaan terlalu baik hingga merugikan diri sendiri, memberi lebih dari yang diterima, merasa tidak terlihat, tidak dihargai, atau diperlakukan tidak adil. Itulah sebabnya semua orang merasa “terbuka.” Air mata itu bukan bukti kekuatan gaib, melainkan bukti pengenalan diri.

Sebagian penonton tampak kecewa. Banyak yang sebelumnya percaya bahwa rasa sakit mereka sepenuhnya unik. Menyadari bahwa bahkan perasaan diperlakukan tidak adil pun ternyata dialami bersama menjadi pukulan yang tak terduga.

Tentu saja, ketidakadilan nyata memang ada. Sebagian orang hidup dalam penindasan yang sesungguhnya. Ada yang dirugikan oleh sistem atau kekuasaan yang berada jauh di luar kendali mereka.

Namun, banyak dari apa yang disebut orang sebagai perasaan “diperlakukan tidak adil” sebenarnya lebih halus dan lebih umum. Ia tumbuh dari harapan yang tidak pernah diungkapkan. Kita memberi lebih dari yang mampu kita pertahankan dan menunggu untuk dihargai. Kita menghindari berkata “tidak” karena takut konflik. Kita menyembunyikan frustrasi di balik kesopanan. Kita meyakinkan diri bahwa kita berkorban untuk orang lain, bahkan ketika tidak ada yang memintanya.

Seiring waktu, rasa ketidakadilan itu pun terbentuk.

Psikolog Alfred Adler pernah mengamati bahwa sebagian besar penderitaan manusia muncul dari hubungan. Apa yang kita sebut sebagai ketidakadilan sering kali pada dasarnya adalah kekecewaan terhadap bagaimana hubungan itu berjalan. Banyak orang sebenarnya bisa meninggalkan situasi yang membuat mereka merasa dirugikan. Namun mereka tidak melakukannya, karena bertahan terasa lebih aman. Mengeluh memang menyakitkan, tetapi sudah familiar. Mengakui peran diri sendiri dalam pola tersebut membutuhkan keberanian yang tidak kecil.

Peran sebagai korban mungkin terasa berat, tetapi juga memberikan kenyamanan yang aneh.

Ketika menghadapi kesulitan yang serupa, respons manusia bisa berbeda.

Ada yang menganggap kesulitan sebagai bukti bahwa dunia menentang mereka. Energi mereka berubah menjadi menyalahkan, dan kemarahan menetap. Ada pula yang menerima kenyataan itu dan berbalik ke dalam, bertanya apa yang masih bisa diubah dan di mana tindakan masih mungkin dilakukan.

Viktor Frankl pernah menulis bahwa di antara apa yang terjadi pada kita dan bagaimana kita meresponsnya, terdapat ruang untuk memilih. Sebagian orang bertindak dalam ruang itu. Yang lain mengisinya dengan keluhan tanpa akhir. Psikologi memiliki istilah untuk kondisi ketika keluhan menggantikan tindakan: learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari). Seiring waktu, rasa tidak berdaya itu menjadi akrab, dan meninggalkannya terasa berisiko.

Dalam buku The Road Less Traveled, psikiater Amerika M. Scott Peck membuka dengan kalimat yang masih mengguncang pembaca: hidup itu sulit.

Menurut Peck, banyak penderitaan muncul bukan dari kesulitan itu sendiri, melainkan dari penolakan terhadap kenyataan bahwa kesulitan adalah bagian normal dari hidup. Orang berharap hidup berjalan mulus. Ketika tidak, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang personal. Penolakan ini justru memperbesar rasa sakit.

Menerima bahwa hidup mengandung perjuangan tidak menghilangkan kesulitan, tetapi mengubah cara kita menanggungnya. Orang yang matang, kata Peck, tidak membuang energi untuk melawan kenyataan. Mereka menghadapi masalah secara langsung dan terus melangkah. Dalam pandangan ini, penderitaan bukan hukuman, melainkan bagian dari hidup—senormal pergantian musim.

Jadi, siapa yang tidak pernah merasa hidup ini tidak adil?

Sebagian besar perasaan itu muncul dari harapan bahwa hidup seharusnya berbeda. Kita berharap usaha menjamin keberhasilan. Kita berharap kebaikan dibalas dengan kebaikan. Kita berharap pengorbanan diperhatikan. Ketika harapan-harapan itu runtuh, rasa ketidakadilan mengisi ruang yang ditinggalkannya.

Eksperimen dengan kotak kayu itu berhasil karena mencerminkan sesuatu yang tidak nyaman: rasa sakit kita tidak seunik yang kita bayangkan. Banyak orang memikul perasaan tidak adil yang sama, dalam diam.

Menyadari hal itu tidak menghapus kesulitan. Tetapi dapat melonggarkan cengkeramannya.

Dan terkadang, menyadari bahwa kita tidak sendirian dalam perasaan tersebut adalah langkah pertama untuk mulai melepaskannya.

Sumber : visiontimes.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PKP berkoordinasi dengan BPK, pastikan program perumahan tepat sasaran
• 43 menit laluantaranews.com
thumb
Kemenperin Gandeng MNC University Perkuat SDM Industri Nasional
• 20 jam lalutvrinews.com
thumb
Pelaku Penembakan di Acara Gedung Putih Incar Pejabat AS, Tidak Spesifik Trump
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Singkirkan Innova Sampai Avanza, Mobil Ini Jadi Raja Jalanan RI Lagi
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Wujudkan Pernikahan Impian, Grand Whiz Hotel Trawas Gelar Mockup Wedding “Eternal Bliss Wedding Fair #4”
• 2 jam laluerabaru.net
Berhasil disimpan.