Harga Minyak Ngegas, Inflasi Global Ikut Kepanasan

medcom.id
5 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Harga minyak mentah Brent menutup pekan lalu di kisaran USD105 per barel dan pagi ini kembali naik mendekati USD107, dipicu mandeknya diplomasi AS–Iran. 
 
Keputusan Washington membatalkan pengiriman delegasi ke Islamabad mendorong pasar kembali menambahkan risk premium yang lebih besar terkait potensi gangguan di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia.
  Baca juga:  Arab Saudi Hibahkan 1,65 Juta Barel Minyak ke Suriah
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto menuturkan kenaikan harga minyak ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global, terutama bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia. 
 
Brent yang bertahan tinggi berpotensi menjadi overhang bagi sentimen domestik, baik melalui risiko kenaikan biaya impor maupun tekanan terhadap ekspektasi inflasi. 

Meski ketegangan geopolitik meningkat, sentimen risiko global justru masih relatif konstruktif. Indeks S&P 500 dan Nasdaq kembali mencetak rekor penutupan tertinggi, menandakan investor global sejauh ini belum mengadopsi sikap risk-off secara luas dan masih bertaruh pada ketahanan ekonomi serta momentum pasar saham AS.
 
“Sebaliknya, pasar domestik bergerak berlawanan. Indonesia tengah menghadapi fase de-risking yang cukup berat, tercermin dari koreksi IHSG sebesar 3,4% pada Jumat ke level 7.129,” jelas dia dalam risetnya. 
 
Tekanan jual asing mencapai sekitar Rp3 triliun, dengan penjualan agresif terkonsentrasi pada saham perbankan besar, terutama BBCA yang mencatat net sell sekitar Rp2,1 triliun.
 
Perbedaan arah antara pasar global dan domestik menunjukkan investor mulai lebih sensitif terhadap risiko spesifik Indonesia, termasuk dampak kenaikan harga energi terhadap rupiah, inflasi, dan prospek kebijakan moneter. Dalam kondisi ini, pasar cenderung lebih cepat merespons faktor eksternal negatif dibanding katalis positif domestik.
 
Volatilitas diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek, dengan bias konsolidasi pada IHSG maupun rupiah. Selama harga Brent bertahan tinggi atau terus naik, tekanan terhadap aset berisiko domestik kemungkinan belum mereda sepenuhnya.
 
Fokus investor kini tertuju pada dua hal: perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan kemampuan pasar Indonesia menyerap tekanan eksternal. Jika risk premium minyak terus menebal, maka sentimen defensif berpotensi mendominasi, sementara ekspektasi inflasi bisa menjadi isu utama yang membayangi arah pasar selanjutnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
ASDP dan 14 BUMN Sinergi Berdayakan Masyarakat & Lingkungan di 2 Kampung Raja Ampat
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Menuju Pestapora 2026, Boss Creator Hadirkan OTW dengan Konsep Tukar Setlist
• 32 menit lalukumparan.com
thumb
Permintaan Tinggi, Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Izin Konsesi Dicabut, Toba Pulp Lestari (INRU) Umumkan PHK Massal
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Menteri Imipas: 2.554 Napi Dipindah & 365 Pegawai Dibina di Nusakambangan
• 12 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.