HARIAN FAJAR, MAKASSAR – Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) DPD I Golkar Sulsel dinamika internal partai makin dinamis.
Terbaru, Ilham Arief Sirajuddin (IAS) yang mendadak menunda pertemuannya dengan Ketua DPD II Golkar se-Sulsel serta organisasi sayap partai.
Penundaan itu memicu spekulasi. Hingga kini, belum ada sinyal jelas ke mana arah politik IAS dalam kontestasi Musda.
Di sisi lain, Munafri Arifuddin justru tampil lebih pasti. Wali Kota Makassar itu diklaim telah mengantongi dukungan 21 DPD II kabupaten/kota. Menjadi modal signifikan untuk mengunci posisi Ketua DPD I Golkar Sulsel.
Nama lain yang tak kalah diperhitungkan adalah Andi Ina Kartika Sari. Mantan Ketua DPRD Sulsel periode 2019–2024 itu kini menjabat Bupati Barru dan memiliki rekam jejak panjang di internal Golkar, termasuk sebagai Bendahara DPD I.
Dengan latar belakang keluarga politik dan pengalaman struktural, Andi Ina membawa kombinasi legitimasi historis dan representasi perempuan yang semakin relevan dalam politik daerah.
Namun, calon yang berpotensi untuk maju di Musda Golkar tidak hanya di tiga nama itu. Usman Marham muncul sebagai variabel kunci. Ketua DPD II Golkar Pinrang tersebut secara terbuka menyatakan kesiapan maju jika mendapat restu DPP.
Apalagi Usman dikenal memiliki jejaring kuat di pusat, termasuk kedekatannya dengan Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia.
Isyarat politik itu kian menguat setelah beredarnya foto pertemuan Usman dengan Bahlil di Jakarta.
Usman Marham pernah menjadi pengurus DPP Golkar selama tiga periode.
Ia masuk pengurus era Ketua Umum Aburizal Bakrie, Setya Novanto, hingga Airlangga Hartarto di DPP Golkar.
Pakar Politik Universitas Hasanuddin, Sukri Tamma menilai dinamika menjelang Musda Golkar Sulsel menunjukkan bahwa partai ini tengah mencari figur yang tidak hanya kuat secara internal, tetapi juga memiliki daya tawar di level eksternal, dan nasional.
Menurutnya, Sulsel selama ini dikenal sebagai salah satu basis kuat Golkar. Karena itu, sosok ketua yang akan terpilih harus mampu mengonsolidasikan kekuatan kader sekaligus memiliki pengaruh dalam konstelasi politik daerah.
“Golkar di Sulsel ini punya sejarah panjang sebagai kandang Golkar. Jadi figur ketua tidak cukup hanya diterima di internal, tapi juga harus punya posisi tawar yang kuat di luar, dihormati dalam lanskap politik daerah,” ujar Sukri kepada FAJAR pada Minggu, 26 April.
Dekan FISIP Unhas ini melihat sejumlah nama yang mencuat saat ini memiliki keunggulan masing-masing. Munafri Arifuddin dinilai sebagai figur muda dengan tren elektoral yang meningkat dan basis sosial-politik yang kuat.
“Yang cukup dianggap rising star. Apalagi sekarang Pak Muanfri itu Ketua Golkar Makassar dan Wali Kota Makassar,” ucapnya
Sementara Ilham Arief Sirajuddin tetap dianggap sebagai tokoh senior berpengalaman, meskipun rekam jejaknya, termasuk pernah berpindah partai dan tersandung kasus hukum, menjadi catatan tersendiri.
“Dua catatan yang pastinya jadi pertimbangan untuk Pak IAS, pernah pindah partai dan terjerat kasus. Meskipun masih dianggap sebagai senior yang cukup dihormati dikalangan internal maupun eksternal golkar,” beber Prof Sukri.
Prof Sukri juga menjelaskan bahwa terkait pembatalan agenda konsolidasi IAS dengan DPD II kabupaten/kota dan organisasi sayap partai, menurutnya langkah tersebut merupakan hitungan strategis IAS.
“Apakah memang penting untuk mengkonsolidasikan para pemilik suara dalam Musda saat ini, atau terus memantau kondisi saat ini baru kemudian mementukan langkah apa yang akan dilakuakan,” jelas guru besar Unhas ini.
“Karena bagaimanapun juga setiap kandidat tentu sedang memantau betul kecenderungan sikap atau sinyal yang mungkin akan diberikan oleh DPP terutama ketua umum,” tambah Prof Sukri.
Adapun Andi Ina Kartika Sari dipandang memiliki modal struktural dan genealogis yang kuat di Golkar, ditopang pengalamannya sebagai Ketua DPRD Sulsel dan kini kepala daerah.
“Background-nya jelas, ditambah representasi perempuan juga menjadi nilai lebih,” kata Prof Sukri.
Sementara itu, Usman Marham disebut sebagai figur yang memiliki keunggulan pada aspek jaringan di tingkat pusat.
Kedekatannya dengan elite DPP Golkar dinilai bisa menjadi faktor kunci dalam situasi ketika terjadi kebuntuan di tingkat daerah.
“Kalau tidak ada kesepakatan di antara empat nama yang muncul ini, maka sangat terbuka ruang bagi figur seperti Pak Usman berpotensi. Apalagi dia punya pengalaman panjang di Golkar dan akses langsung ke DPP,” jelas Sukri.
“Apalagi Pak Usman secara kapasitas tidak diragukan punya pengalaman dan tanda petik tokoh yang sudah lama berkarir di Golkar, bukan kader baru, bukan kader loncatan dan juga punya hubungan baik dengan DPP Golkar,” tambah Prof Sukri.
Sukri menegaskan bahwa Musda Golkar Sulsel tidak hanya ditentukan oleh peta dukungan di daerah, tetapi juga sangat bergantung pada arah rekomendasi DPP Golkar.
“Semua nama punya peluang. Tinggal bagaimana DPP melihat siapa yang paling mampu menjawab kebutuhan politik Golkar ke depan,” ujarnya.
Usman Marham merespons saat ditanya terkait posisinya sendiri dalam bursa calon Ketua DPD I Golkar Sulsel.
Usman memilih bersikap terbuka. Ia menegaskan akan tetap mengikuti arahan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar.
“Saya ini taat kepada DPP. Kalau diperintahkan masuk kepengurusan, saya siap. Kalau diminta tetap kawal DPD II Pinrang, saya juga laksanakan,” katanya saat ditemui FAJAR pada Minggu, 26 April.
Usman juga mengungkapkan bahwa sejumlah pengurus DPD II telah mulai menjalin komunikasi dengannya pasca namanya mencuat.
Namun, Ketua DPD II Golkar Pinrang ini menilai semua kader memiliki peluang yang sama, dengan keputusan akhir tetap berada di tangan DPP.
“Semua kader punya peluang yang sama untuk maju, bergantung restu dari DPP,” bebernya.
Sementara Andi Ina Kartika merespons saat ditanya terkait Musda Golkar Sulsel. “Golkar sedang berproses sekarang. Kalau ditunjuk DPP, Bismillah,” ungkapnya saat ditemui FAJAR.
Sebelumnya Munafri Arifuddin sendiri memilih untuk tidak terlalu banyak berkomentar. Dia menyerahkan semua proses berjalan natural dan mengalir apa adanya.
“Soal musda, bagi saya let it flow saja,” ucap Ketua Golkar Makassar ini.
Appi sapaannya menegaskan bahwa fokus utama Golkar Kota Makassar saat ini adalah mendukung program-program prioritas pemerintah kota.
Termasuk, dalam mensukseskan program prioritas Presiden dan pemerintah pusat di Kota Makassar.
“Fokus teman-teman di Golkar Makassar saat ini mendukung program-program prioritas Pemerintah Kota Makassar. tentunya juga turut mensukseskan program pemerintah pusat di kota kita ini,” tegasnya. (ams)





