MALANG- Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) menyelenggarakan Sosialisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta pelatihan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di Auditorium Lantai 8 Gedung B FPIK UB, Kamis (16/4/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, serta perwakilan mahasiswa sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan civitas akademika terhadap potensi risiko di lingkungan kampus.
Baca juga: KKP RI Sosialisasikan RPP Konservasi Sumber Daya Ikan di FPIK UB
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran Wakil Dekan, Ketua dan Sekretaris Departemen, Ketua dan Sekretaris Program Studi jenjang S1 hingga S3, Ketua Laboratorium, serta perwakilan Lembaga Kedaulatan Mahasiswa. Sosialisasi ini menjadi bagian dari strategi institusi dalam memperkuat penerapan standar keselamatan kerja yang terintegrasi dalam aktivitas akademik.
Dalam sambutannya, pimpinan fakultas menegaskan bahwa penerapan K3 tidak hanya bersifat administratif, tetapi merupakan kebutuhan mendasar dalam mendukung keberlangsungan kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. “Budaya K3 harus menjadi bagian dari keseharian civitas akademika. Lingkungan kerja yang aman akan mendukung produktivitas serta kualitas kegiatan akademik secara keseluruhan,” ujarnya.
Materi sosialisasi mencakup prinsip-prinsip dasar K3 di lingkungan perguruan tinggi, identifikasi potensi bahaya, serta langkah-langkah mitigasi risiko. Selain itu, peserta juga mendapatkan pelatihan teknis penggunaan APAR yang disampaikan oleh tenaga profesional. Sesi ini dilengkapi dengan praktik langsung di lapangan, sehingga peserta dapat memahami prosedur penanganan kebakaran secara aplikatif.
Baca juga: Wakil Bupati Malang Gandeng FPIK UB Perkuat Hilirisasi Produk Perikanan dan Sinergi Antar-Sektor
Salah satu peserta dari unsur tenaga kependidikan menyampaikan bahwa pelatihan ini memberikan pengalaman yang sangat relevan dalam menghadapi kondisi darurat. “Selama ini kami hanya mengetahui fungsi APAR secara umum, tetapi melalui pelatihan ini kami bisa langsung mempraktikkan cara penggunaannya. Ini sangat penting karena dalam situasi kebakaran, respon cepat dan tepat menjadi kunci utama,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa kesadaran terhadap keselamatan kerja perlu dimiliki oleh seluruh elemen kampus, tidak terbatas pada laboratorium atau area berisiko tinggi. “Kesiapsiagaan harus merata di semua unit kerja agar potensi risiko dapat diminimalkan sejak dini,” tambahnya.
Baca juga: FPIK UB-KKP Perkuat Kerja Sama, Dorong Riset dan Inovasi Kelautan
Melalui kegiatan ini, FPIK UB menegaskan komitmennya dalam membangun lingkungan akademik yang aman, tanggap, dan berkelanjutan. Penerapan K3 yang optimal diharapkan dapat mendukung kegiatan tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam bidang perikanan dan kelautan yang memiliki karakteristik risiko spesifik, seperti kegiatan laboratorium dan lapangan.
Ke depan, FPIK UB berencana untuk terus mengembangkan program pelatihan serupa secara berkelanjutan guna memperkuat budaya keselamatan kerja. Upaya ini tidak hanya berdampak pada perlindungan civitas akademika, tetapi juga menjadi bagian dari peningkatan kualitas tata kelola institusi pendidikan tinggi yang adaptif terhadap berbagai potensi risiko.
Editor : Redaksi





