EtIndonesia. Seorang siswa SMA di Changsha, Provinsi Hunan, Tiongkok, diduga menjual puluhan rekan sebayanya ke kawasan penipuan daring di Asia Tenggara. Media melaporkan bahwa jaringan penipuan lintas negara disebut memiliki dukungan kuat dari belakang, sehingga rantai industri ilegal ini berkembang pesat di daratan Tiongkok.
Baru-baru ini, media resmi Tiongkok sendiri mengungkap bahwa banyak pelajar sekolah menengah terlibat, bahkan menjual teman sebaya mereka ke luar negeri.
Modus: Dari Media Sosial hingga PenyelundupanLaporan menyebut kelompok kriminal menyebarkan informasi palsu melalui platform video pendek di Tiongkok, menggunakan iming-iming seperti uang kecil (红包) dan makanan ringan untuk membangun kepercayaan korban. Setelah itu, korban secara bertahap dibujuk ke wilayah pesisir Guangxi, lalu diselundupkan ke luar negeri melalui jalur laut.
Kasus ini juga mengungkap tren berbahaya: remaja yang masih minim pengalaman dijadikan “perekrut online” utama. Mereka tersebar di berbagai wilayah dan berperan besar dalam memperluas jaringan.
Seorang pejabat menyebut bahwa dari lebih dari 20 perekrut yang ditangkap, sekitar 40% adalah anak di bawah umur, umumnya berusia 16–18 tahun—usia pelajar SMA.
Iming-iming Uang BesarKelompok kriminal memanfaatkan karakteristik remaja—melek internet, mudah tergoda, dan sulit terdeteksi—dengan menawarkan komisi tinggi.
- Setiap korban yang berhasil direkrut: sekitar 5.000 yuan
- Target “berkualitas tinggi”: bonus tambahan
Media juga menyebut seorang siswa kelas 12 dari sekolah unggulan di Changsha saat ditangkap memiliki saldo WeChat lebih dari 200.000 yuan, mengejutkan orang tuanya.
Kasus ini menjadi viral di media sosial Tiongkok. Warganet memperkirakan, jika satu korban bernilai 5.000 yuan, siswa tersebut mungkin telah menjual 40–50 orang—setara dua kelas penuh.
Diduga Dikirim ke Asia TenggaraMeski laporan resmi tidak menyebut tujuan korban, disebutkan titik penyelundupan berada di Qinzhou dan Fangchenggang (Guangxi), serta adanya otak jaringan di Vietnam. Hal ini mengarah pada dugaan korban dikirim ke kawasan Asia Tenggara seperti Myanmar atau Kamboja—wilayah yang dikenal memiliki banyak pusat penipuan daring.
Salah satu pengakuan perekrut menyebut ia mendapat bonus 38.888 yuan karena merekrut seseorang yang “cepat mengetik dan cerdas, sehingga cepat menghasilkan uang” setelah tiba di lokasi—indikasi kuat bahwa korban dipaksa bekerja dalam penipuan online.
Narasi vs Kesaksian KorbanLaporan media resmi cenderung menggambarkan korban sebagai pihak yang “tergiur keuntungan dan sukarela”. Namun, banyak korban dan keluarga menyatakan hal sebaliknya:
mereka ditipu dengan janji pekerjaan bergaji tinggi, wisata, atau pertemanan, lalu dipaksa bekerja dalam penipuan, prostitusi, dan mengalami berbagai bentuk penyiksaan.
Suara korban seperti ini sering ditekan di media sosial dalam negeri.
Kekhawatiran PublikDi saat yang sama, platform media sosial Tiongkok dipenuhi video yang diduga terkait perekrutan korban ke Asia Tenggara, namun tidak banyak tindakan terlihat dari pihak berwenang.
Di platform luar negeri, seorang pengguna mengaku pernah mendengar kasus serupa tahun lalu: seorang siswa SMP merekrut teman sebayanya dengan imbalan ribuan yuan per orang, bahkan merencanakan membawa korban secara berkelanjutan setiap minggu. Orang tua pun diingatkan agar tidak membiarkan anak bepergian sendirian.
Sumber : ntdtv.com





