Jakarta Siaga El Nino, Antisipasi Kekeringan hingga Ketahanan Pangan

kompas.id
12 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Pemerintah Provinsi Jakarta bersiap menghadapi potensi dampak panjang fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung sepanjang musim kemarau tahun ini. Sejumlah langkah mitigasi disiapkan, mulai dari penanganan kekeringan, pencegahan kebakaran, menjaga pasokan pangan, hingga pengendalian polusi udara dan dampak kesehatan.

El Nino adalah fenomena meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur. Peristiwa ini dapat mengubah pola cuaca global, termasuk memengaruhi curah hujan, memicu kekeringan, serta meningkatkan potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah.

Fenomena ini ditandai oleh pemanasan di wilayah Pasifik Khatulistiwa yang menyebabkan berkurangnya intensitas hujan di Indonesia, sehingga meningkatkan risiko kekeringan. El Nino umumnya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan berlangsung sekitar 9 hingga 12 bulan.

Sekretaris Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta, Marulitua Sijabat, mengatalan, El Nino berpotensi memicu tiga isu utama, yakni kekeringan, potensi kebakaran, serta peningkatan polusi udara.

”Dampak El Nino mencakup tiga isu utama, yakni kekeringan, potensi kebakaran, serta meningkatnya polusi udara,” kata Marulitua dalam keterangan tertulis, Senin (27/4/2026).

Berdasarkan hasil koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta rapat lintas sektor bersama pemerintah pusat, TNI-Polri, dan instansi terkait, fenomena El Nino tahun ini diperkirakan berlangsung lebih lama dan lebih kering dibandingkan tahun 2023.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, BPBD Jakarta menyiapkan rencana modifikasi cuaca bersama BMKG. Teknologi yang digunakan akan berbeda dari saat musim hujan, dengan fokus mengurangi dampak kekeringan, terutama pada puncak El Nino yang diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

Baca JugaEl Nino Sudah Terbit di Samudra Pasifik, Kemarau Akan Lebih Kering

Selain itu, BPBD Jakarta akan mengaktifkan Satuan Tugas (Satgas) Air Bersih dan berkoordinasi dengan PAM Jaya untuk mendistribusikan air bersih bagi warga terdampak. Mobil tangki air juga disiagakan untuk memenuhi kebutuhan di lapangan.

Dalam upaya pengendalian polusi udara, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta akan mengoperasikan water mist serta mengoptimalkan perangkat serupa di sejumlah gedung. Langkah ini juga diharapkan dapat membantu menekan potensi kebakaran.

Selain itu, warga diimbau untuk tidak membakar sampah atau aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran, mengingat kondisi cuaca kering dapat mempercepat penyebaran api.

BPBD Jakarta memastikan seluruh langkah mitigasi dilakukan melalui koordinasi lintas sektor bersama pemerintah pusat, TNI-Polri, dan instansi terkait guna meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana.

Adapun seluruh strategi tersebut nantinya akan dituangkan dalam instruksi gubernur sebagai pedoman bagi seluruh perangkat daerah dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi kering.

”Nanti dituangkan dalam instruksi gubernur sebagai pedoman seluruh perangkat daerah dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi kering,” katanya.

Ketahanan pangan

Di sisi lain, Pemprov Jakarta mengantisipasi dampak El Nino terhadap ketahanan pangan. Gubernur Jakarta, Pramono Anung, mengatakan, musim kemarau panjang berpotensi mengganggu produksi pertanian di sejumlah daerah pemasok.

Untuk menjaga ketersediaan stok, Pemprov Jakarta menambah cadangan pangan, khususnya komoditas daging, melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Dharma Jaya dengan peningkatan impor sapi dari Australia. Total impor sapi yang disiapkan mencapai 7.500 ekor, dengan sekitar 3.000 ekor di antaranya sudah didatangkan ke Jakarta.

”Saya izinkan untuk segera diimpor. Lebih baik stoknya ada di Jakarta daripada kemudian masih harus menunggu di luar,” ujar Pramono.

Selain daging, Pemprov Jakarta juga mewaspadai pasokan beras yang bergantung pada daerah lain. Sejumlah langkah disiapkan untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi, termasuk dukungan pompa air untuk daerah pertanian yang terdampak kekeringan.

Anggota Komisi B DPRD Jakarta, M Taufik Zoelkifli, juga mendorong penguatan peran BUMD pangan dalam menghadapi potensi krisis akibat El Nino yang diperkirakan terjadi pada periode April hingga Oktober 2026.

Ia menilai BUMD pangan seperti PT Food Station Tjipinang Jaya tidak boleh hanya berperan sebagai pedagang (trader), tetapi harus menjadi pengendali stabilitas harga di masyarakat.

Baca JugaEl Nino Godzilla Mengintai, Bagaimana Strategi Lampung Menjaga Ketahanan Pangan?

Menurut dia, penguatan ketahanan pangan perlu dilakukan melalui pengelolaan cadangan pangan yang lebih dinamis. Stok tidak boleh hanya disimpan, tetapi harus siap dilepas saat harga naik untuk menstabilkan pasar, dan ditahan saat harga turun.

”Cadangan pangan daerah harus aktif. Ketika harga di pasar mulai merangkak naik, kita harus segera intervensi dengan melepas stok. Sebaliknya, saat harga turun, stok dapat ditahan untuk menjaga keseimbangan pasar,” jelasnya.

Selain itu, Taufik mendorong penguatan kontrak pasokan jangka menengah dengan daerah produsen agar Jakarta tidak bergantung pada pasar spot yang rentan gejolak saat terjadi kelangkaan.

Di sisi hilir, ia juga menyarankan penguatan distribusi melalui perluasan operasi pasar murah serta pemanfaatan sistem distribusi digital. Menurut dia, teknologi digital dapat membantu menekan ruang gerak spekulan yang kerap memengaruhi harga di tingkat konsumen.

Dampak kesehatan

Sementara itu, dari sisi kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Jakarta Ani Ruspitawati mengingatkan, El Nino ekstrem dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan secara signifikan.

Menurut Ani, suhu tinggi dan kualitas udara yang memburuk dapat memicu dehidrasi, heatstroke, hingga memperparah penyakit kronis seperti jantung dan paru. Selain itu, peningkatan partikulat halus di udara juga berpotensi memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

”Pada saat yang sama, kualitas udara yang menurun, termasuk peningkatan partikulat halus, berkontribusi terhadap lonjakan kasus ISPA El Nino akan menjadi risiko yang berdampak pada kesehatan terutama pada populasi rentan (anak-anak dan lansia),” jelas Ani.

Baca JugaEl Nino, Karhutla, dan Kesehatan Masyarakat

Untuk itu, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dengan memperbanyak konsumsi air, menggunakan masker saat kualitas udara buruk, serta membatasi aktivitas luar ruangan terutama pada pukul 11.00 hingga 15.00 WIB.

Warga juga disarankan menggunakan pelindung seperti topi atau payung serta tabir surya dengan SPF tinggi guna mengurangi paparan sinar ultraviolet.

”Gunakan pelindung diri seperti topi atau payung bila berada di luar rungan. Selain itu gunakan tabir surya dan ikuti informasi terkait pantauan cuaca dari BMKG,” kata Ani.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
4 Fakta Menarik Duel Persija atas Persis di BRI Super League: Macan Kemayoran Ukir Kemenangan Terbesar, 2 Pemain Cetak Gol Perdana
• 5 jam lalubola.com
thumb
Dikabarkan Bakal Dirotasi Prabowo Jadi Kepala Bakom, Qodari: Prerogatif Presiden
• 17 jam lalurctiplus.com
thumb
Polije Raih Outstanding Partnership di Forum CTAA
• 13 jam lalueranasional.com
thumb
Membangun Kekuatan, Membuka Jalan Kesejahteraan, Satgas TMMD ke-128 Bangun Talud, Jamin Infrastruktur Desa
• 9 jam laluterkini.id
thumb
KPK Periksa Pengusaha Rokok Terkait Suap Importasi Barang di Ditjen Bea Cukai
• 8 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.