JAKARTA, KOMPAS.com - Keterlibatan anggota TNI dalam kasus penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang (Kacab) Bank BUMN Mohammad Ilham Pradipta bermula dari rencana terdakwa Dwi Hartono menggeser dana di rekening dorman atau rekening yang tidak aktif.
Saat itu, Dwi Hartono mencari preman atau anggota TNI untuk menjadi fasilitator atau perantara kepada pimpinan cabang bank.
Dwi kemudian menghubungi temannya, Yohanes Joko Pamuntas, untuk dicarikan preman atau anggota TNI.
Baca juga: Pengadilan Militer Akan Panggil Paksa 2 Saksi Kasus Pembunuhan Kacab Bank BUMN
Dwi dan Joko merupakan terdakwa dari warga sipil yang juga menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur dalam kasus tersebut.
"Ditanya (Dwi) ada kenalan preman enggak, mungkin pertama karena saya (kerja) di parkirkan, kedua mungkin dulu pernah pak waktu kuliah, ada kenalan preman gak ternyata pacarnya diganggu waktu kuliah, saya kira hal serupa," ujar Joko dalam sidang di Pengadilan Militer, Senin (27/4/2026).
Saat itu, Joko tidak mengetahui tujuan Dwi mencari preman.
Kemudian, Joko teringat Serka Mochamad Nasir, yang merupakan tetangganya.
Dwi Hartono lalu memintanya agar dipertemukan dengan Nasir. Joko pun menghubungi Nasir terkait permintaan tersebut.
"Om, teman sepertinya ada masalah, ini bos saya. Terus dia (jawab), 'itu temanmu, gimana mintanya?'" ujar Joko menirukan percakapannya dengan Nasir.
Sementara itu, saksi Antonius Aditia Maharjuna mengungkap alasan keterlibatan anggota TNI dalam kasus penculikan dan pembunuhan Ilham.
Baca juga: 2 Saksi Pembunuhan Kacab Bank BUMN Tolak Beri Keterangan di Pengadilan Militer
Antonius menyebut anggota TNI itu diminta menjadi perantara kepada Kacab bank.
Hal itu dilakukan agar dapat meyakinkan pimpinan cabang untuk bekerja sama menggeser dana di rekening dorman.
“Secara otomatis Pak Dwi minta tolong ‘Ton gimana caranya, yakinkan Pak Nasir (terdakwa I), bahwa jangan sampai korban disentuh lah, jangan sampai lecet’ seperti itu,” ujar Antonius dalam sidang.
“Karena sepaham saya, Pak Dwi bicara bahwa ‘kita cari aparat aja karena lebih meyakinkan, lebih bisa meyakinkan dari pihak pimpinan cabangnya’. Kalau sipil ketemu sipil, bahasanya lebih sulit dipercaya dibanding ketemu aparat, Pak,” imbuh dia.
Sebelumnya, dalam sidang dakwaan Oditur Militer Jakarta terungkap, penculikan disertai pembunuhan Ilham Pradipta, bermula ketika Joko mendatangi Nasir untuk mencari preman.





