Revolusi PSIS Semarang Mulai Dirancang! Bangun Kekuatan Setara Super League Kandidat Pelatih Bidik di Level Paul Munster

harianfajar
1 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, SEMARANG — Kelegaan akhirnya menyelimuti PSIS Semarang. Setelah melalui musim yang penuh tekanan dan inkonsistensi, Laskar Mahesa Jenar dipastikan selamat dari ancaman play-off degradasi Liga Championship 2025/2026. Namun, alih-alih larut dalam rasa aman, justru momen ini menjadi titik awal dari sebuah rencana besar—revolusi tim untuk kembali bersaing di level yang lebih tinggi, bahkan menyamai standar klub-klub Super League Indonesia.

Kepastian bertahannya PSIS tak lepas dari hasil imbang 1-1 antara Persiba Balikpapan dan PSS Sleman di Stadion Batakan. Hasil itu secara matematis menutup peluang Persiba untuk mengejar poin PSIS. Dengan koleksi 23 poin di posisi kedelapan, PSIS sudah tidak mungkin lagi terkejar, meski masih menyisakan satu pertandingan.

Bagi banyak tim, bertahan di kasta kedua mungkin sekadar target minimal. Tapi tidak bagi PSIS. Klub dengan basis suporter kuat di Jawa Tengah ini memahami bahwa posisi mereka saat ini belum mencerminkan potensi sesungguhnya. Musim yang penuh pasang surut menjadi bahan evaluasi menyeluruh—dari manajemen, komposisi skuad, hingga arah taktik permainan.

Chief Operating Officer PSIS, Faris Julinar, secara terbuka menyampaikan rasa syukur atas pencapaian target bertahan. Namun di balik itu, tersirat ambisi yang lebih besar.

“Terima kasih semua, tentu kami sangat bersyukur dengan hasil yang telah dicapai, ini sesuai dengan target kami tetap bertahan di Liga Championship,” ujarnya.

Pernyataan tersebut terdengar sederhana, tetapi konteksnya jauh lebih dalam. Bertahan hanyalah fondasi awal. Langkah berikutnya adalah membangun ulang kekuatan tim agar mampu bersaing untuk promosi, bahkan menjadi kekuatan baru di level atas.

Rencana revolusi itu tidak hanya menyentuh pemain, tetapi juga menyasar kursi pelatih. PSIS disebut mulai membidik sosok pelatih dengan profil yang lebih modern, progresif, dan memiliki pengalaman di level tinggi—bahkan disebut-sebut mengarah pada figur dengan kualitas setara Paul Munster. Nama Munster sendiri dikenal sebagai pelatih dengan pendekatan taktik modern dan kemampuan membangun tim kompetitif dalam waktu relatif singkat.

Langkah ini menjadi sinyal jelas bahwa PSIS tidak ingin sekadar “bertahan hidup”, melainkan ingin naik kelas secara sistematis. Dalam sepak bola modern, pelatih bukan hanya peracik strategi, tetapi juga arsitek filosofi permainan. Dan PSIS tampaknya ingin memulai era baru dengan fondasi tersebut.

Di sisi lain, dinamika kompetisi juga turut memengaruhi arah kebijakan klub. Persaingan di papan atas Liga Championship musim ini sangat ketat. Persipura Jayapura, Barito Putera, dan PSS Sleman masih terlibat dalam perebutan tiket promosi. Situasi ini menjadi gambaran nyata bahwa untuk naik ke kasta tertinggi, dibutuhkan konsistensi dan kualitas yang jauh lebih baik.

PSIS tentu tidak ingin hanya menjadi penonton dalam perebutan tiket promosi di musim berikutnya. Mereka ingin menjadi bagian dari persaingan itu—bahkan menjadi kandidat kuat.

Meski sudah aman, laga terakhir melawan PSS Sleman tetap dipandang serius. Bukan hanya soal hasil, tetapi juga soal mentalitas. Manajemen bahkan menyiapkan bonus besar sebagai bentuk motivasi tambahan.

“Kami menyiapkan bonus besar jika bisa mencuri tiga poin di Sleman besok,” tegas Faris.

Kalimat ini menunjukkan bahwa profesionalisme tetap menjadi prioritas. Tidak ada istilah “laga formalitas”, bahkan ketika target utama sudah tercapai. Justru di sinilah karakter tim diuji—apakah mereka mampu tetap kompetitif di situasi tanpa tekanan.

Lebih jauh lagi, laga tersebut bisa menjadi cerminan awal dari arah baru PSIS. Apakah mereka mampu tampil lebih berani? Lebih terstruktur? Lebih lapar akan kemenangan? Semua itu akan menjadi indikator penting dalam proses transformasi tim.

Revolusi yang dirancang PSIS bukan perkara instan. Dibutuhkan waktu, konsistensi, dan keputusan yang tepat di setiap lini. Mulai dari perekrutan pemain, penunjukan pelatih, hingga pembentukan identitas permainan.

Namun satu hal yang sudah jelas: PSIS tidak ingin terjebak dalam zona nyaman Liga Championship. Mereka ingin kembali ke panggung yang lebih besar, bersaing dengan tim-tim elit, dan mengembalikan kebanggaan suporter.

Dari sekadar bertahan, kini mereka mulai bermimpi lebih tinggi. Dan seperti banyak kisah dalam sepak bola, revolusi besar sering kali dimulai dari titik terendah—saat tim dipaksa untuk berbenah dan menemukan kembali jati dirinya.

PSIS Semarang kini berada di titik itu. Pertanyaannya bukan lagi apakah mereka bisa bertahan, tetapi sejauh mana mereka berani melangkah untuk kembali naik dan bersaing di level tertinggi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sederet Pejabat Hadiri Resepsi El dan Syifa Hadju, Mulai Jajaran Menteri hingga Presiden Prabowo
• 15 jam laluliputan6.com
thumb
Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa Pamit dari Bioskop Usai Teror 1,5 Juta Lebih Penonton
• 8 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Garudafood (GOOD) Tetapkan Dividen Tunai Rp350 Miliar, Ini Jadwal Penyalurannya
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Tak Hanya Jadi Tamu, Ternyata Thariq Halilintar Turut Sukseskan Pernikahan El Rumi–Syifa Hadju
• 12 jam lalugrid.id
thumb
Eks Menteri P2MI Abdul Kadir Karding jadi Kepala Badan Karantina, Ini Profilnya
• 5 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.