Jakarta: Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan ketercukupan gizi pada menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui penerapan standar gizi seimbang dan pengawasan ketat demi menjamin kualitas, serta keamanan pangan bagi anak penerima manfaat.
Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, Tigor Pangaribuan, menegaskan perhatian besar diberikan untuk memastikan setiap makanan yang disajikan benar-benar bergizi dan sesuai pedoman yang telah ditetapkan.
"Atensi kita di bagian itu memastikan yang diberikan itu benar-benar makanan yang bergizi kepada anak-anak," kata Tigor dalam acara Food Summit 2026 di Jakarta, dilansir dari Antara, Senin, 27 April 2026.
Dia menjelaskan komposisi makanan mencakup karbohidrat sebagai sumber energi utama, serta protein hewani dan nabati untuk mendukung pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh anak secara optimal.
Protein nabati, seperti tahu dan tempe, turut menjadi bagian penting menu, termasuk dukungan koperasi pengusaha lokal yang berperan dalam penyediaan bahan pangan berkualitas bagi program MBG.
Selain itu, protein hewani, seperti telur dan daging, jdisertakan dalam menu harian guna memastikan kebutuhan nutrisi penting anak terpenuhi secara seimbang dan berkelanjutan.
Program itu juga menambahkan susu sebagai pelengkap untuk meningkatkan asupan gizi. Dengan begitu, kualitas makanan yang diberikan benar-benar diperhatikan secara menyeluruh oleh Badan Gizi Nasional.
Tigor menegaskan kualitas makanan menjadi fokus utama, termasuk kesesuaian dengan standar gizi seimbang yang telah ditetapkan dalam petunjuk teknis pelaksanaan program makan bergizi gratis nasional.
Jika terdapat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tidak memenuhi ketentuan, BGN akan langsung memberikan teguran sebagai langkah awal pembinaan terhadap pelaksana program di lapangan.
Pelanggaran seperti ketidaksesuaian porsi atau gramasi dapat terdeteksi melalui kewajiban unggah foto menu harian ke dalam portal yang menjadi bagian dari sistem pengawasan digital.
Melalui sistem tersebut, BGN dapat memantau secara cepat pelaksanaan di lapangan serta memberikan teguran langsung apabila ditemukan ketidaksesuaian terhadap standar yang telah ditetapkan sebelumnya.
Baca Juga: BGN Minta SPPG Berdayakan Pangan Lokal untuk Tekan Lonjakan Harga Bahan Baku
Ilustrasi makan bergizi gratis. Dok. Metrotvnews.com/Hendrik
Dia menuturkan apabila ditemukan kasus seperti keracunan makanan, BGN segera melakukan investigasi langsung ke sekolah untuk memastikan penyebab kejadian dan langkah penanganan yang tepat.
Proses investigasi melibatkan satuan tugas MBG bersama pemerintah daerah, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan dinas kesehatan setempat untuk pengujian sampel makanan di laboratorium.
Apabila terbukti terjadi pelanggaran standar keamanan pangan, lanjut Tigor, SPPG akan langsung dikenai sanksi penghentian sementara operasional hingga melakukan perbaikan sesuai ketentuan yang berlaku.
"Di laboratorium itu dicek apakah benar ada kandungan bakteri di dalamnya dari makanan yang disajikan tersebut. (Sanksinya bila ada pelanggaran) langsung diberikan penutupan sementara, suspend terhadap SPPG tersebut jika terbukti," tegas dia.
Tigor menyebutkan sekitar 1.500 SPPG telah disuspend dari total sekitar 27.000 unit di seluruh Indonesia.
"Jadi kalau 1.500 dari 27.000 (SPPG) ya sebenarnya masih di bawah dari 5 persen," kata dia.




