VIVA –Pernahkah kamu merasa telinga berdenging setelah keluar dari konser atau tempat yang sangat ramai? Atau tiba-tiba kesulitan menangkap percakapan di ruangan yang cukup berisik? Banyak orang menganggap hal itu biasa dan akan hilang sendiri. Padahal, dua kondisi tersebut bisa jadi sinyal awal bahwa fungsi pendengaran mulai terganggu.
Gangguan pendengaran kerap tidak disadari karena datangnya bertahap. Tidak ada momen dramatis yang membuat seseorang tiba-tiba menyadari kondisinya memburuk. Prosesnya pelan, dan itulah yang membuatnya berbahaya.
Ada beberapa gejala yang sebetulnya sudah cukup menjadi alasan untuk segera memeriksakan pendengaran, namun sering kali diabaikan.
Pertama, telinga berdenging atau dalam istilah medis disebut tinnitus. Suara denging, berdengung, atau berdesir yang muncul tanpa sumber suara dari luar adalah tanda bahwa sel-sel pendengaran mulai mengalami tekanan. Kondisi ini bisa muncul sesaat setelah paparan suara keras, tapi jika terjadi terus-menerus, perlu diwaspadai.
Kedua, kesulitan mendengar di tempat ramai. Jika kamu harus meminta lawan bicara mengulang kata-katanya berkali-kali saat berada di restoran atau ruang publik, itu bukan sekadar soal konsentrasi. Kesulitan memisahkan suara percakapan dari kebisingan latar adalah salah satu gejala awal gangguan pendengaran.
Ketiga, volume televisi atau ponsel yang terus dinaikkan. Ketika orang di sekitarmu mulai mengeluh volume terlalu keras sementara bagimu terasa normal, ini patut menjadi perhatian.
Keempat, sering salah menangkap kata. Misalnya mendengar "tiga" padahal yang diucapkan "lima", atau sulit membedakan konsonan seperti s, f, dan th. Gejala ini menandakan frekuensi tertentu mulai sulit ditangkap oleh telinga.
Dokter spesialis THT dr. Elisabeth Artha Uli Sirait menjelaskan bahwa risiko gangguan pendengaran dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu intensitas suara dan durasi paparan. Ia mencontohkan bahwa suara di ruang publik yang ramai bisa mendekati ambang batas aman 85 desibel, sementara earphone dengan volume tinggi dapat melampaui batas tersebut.
"Bukan hanya seberapa keras suara, tetapi juga durasi paparan yang menentukan risiko. Paparan berulang dalam jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan permanen," jelasnya.





