Bisnis.com, JAKARTA — Limbah cangkang kerang hijau di kawasan pesisir Kalibaru, Jakarta Utara, diperkirakan mencapai 2 hingga 3 ton per hari dan sebagian besar belum dikelola secara optimal.
Pengawas komunitas Cangkring, Yuliah Mayau, mengatakan limbah tersebut umumnya dibuang begitu saja hingga menumpuk di sekitar tanggul laut.
“Menurut estimasi, limbah cangkang kerang di sini bisa 2 sampai 3 ton per hari, dan itu dibuang begitu saja menumpuk di tanggul,” ujarnya.
Data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta juga mencatat produksi limbah dari aktivitas pengolahan kerang hijau di kawasan tersebut tergolong besar, dengan volume mencapai berton-ton setiap hari.
Kondisi ini terjadi seiring tingginya aktivitas pengolahan kerang hijau oleh warga setempat, yang menjadi salah satu sumber penghidupan utama di kawasan pesisir Kalibaru.
Di tengah tingginya volume limbah, sebagian warga mulai mengolah cangkang menjadi produk bernilai ekonomi. Komunitas Cangkring di Kelurahan Kalibaru memanfaatkan limbah tersebut menjadi paving block, kloset, hingga cendera mata.
Baca Juga
- Menggali Potensi Limbah Kresek Jadi Produk Kreatif
- Berawal dari Limbah Lidi, Sukses Kenalkan Kerajinan Bercorak Melayu ke Luar Negeri
Proses pengolahan dilakukan dengan mengumpulkan cangkang, mengeringkannya, lalu menggiling hingga menjadi material halus yang kemudian dicampur dengan semen untuk dicetak menjadi produk.
Tumpukan limbah cangkang kerang hijau di kawasan pesisir Kalibaru, Jakarta Utara./Bisnis-Prasetyo Agung Ginanjar
“Kalau biasanya bahan bangunan pakai pasir, kita pakainya dari cangkang kerang hijau yang sudah digiling. Perbandingannya sekitar 50:50 dengan semen dan bahan lain,” kata Yuliah.
Produk paving block yang dihasilkan dijual dengan harga sekitar Rp1.700 hingga Rp2.000 per unit, sementara produk lain seperti cendera mata dan kloset dibanderol Rp25.000 hingga Rp150.000.
Dalam kondisi normal, produksi dapat mencapai ratusan unit per hari dan berpotensi meningkat jika permintaan bertambah.
Meski demikian, pengembangan usaha masih menghadapi sejumlah kendala, terutama dalam aspek pemasaran dan permodalan.
“Kita sebenarnya bisa produksi banyak, tapi terbentur di pemasaran dan permodalan,” ujarnya.
Menurut Yuliah, keterbatasan akses pasar, termasuk pemanfaatan platform digital, menjadi hambatan utama dalam meningkatkan penjualan.
Di sisi lain, upaya kolaborasi dengan pemerintah dan pihak swasta telah dilakukan, namun sebagian besar masih terbatas pada pelatihan tanpa pendampingan lanjutan hingga tahap pemasaran.
Inisiatif pengolahan limbah ini dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari penumpukan cangkang di kawasan pesisir.





