Penulis: Fityan
TVRINews – Washington DC
Kunjungan Kenegaraan Inggris Dimulai di Tengah Ketegangan Diplomatik dan Keamanan AS
Raja Charles III dan Ratu Camilla tiba di Gedung Putih pada hari Senin 27 April 2026 dalam rangkaian kunjungan kenegaraan yang krusial.
Kehadiran monarki Inggris ini berlangsung di tengah suasana ibu kota Amerika Serikat yang masih terguncang pasca-insiden penembakan akhir pekan lalu, serta meningkatnya tekanan pada aliansi transatlantik.
Bendera Union Jack tampak menghiasi jalanan di luar kediaman resmi kepresidenan saat Presiden Donald Trump dan Ibu Negara, Melania Trump, menyambut pasangan kerajaan tersebut dengan jabat tangan formal.
Setelah sesi pemotretan singkat, keempatnya melanjutkan agenda ke dalam Gedung Putih untuk jamuan teh pribadi, diikuti dengan tur ke area peternakan lebah yang baru diperluas di South Lawn.
Diplomasi di Tengah Krisis
Meskipun atmosfer di taman kedutaan besar Inggris tampak hangat saat pesta kebun berlangsung, kunjungan ini membawa misi diplomasi yang berat.
Hubungan bilateral kedua negara saat ini sedang diuji oleh perbedaan sikap mengenai konflik di Iran serta isu kedaulatan Kepulauan Falkland.
Seorang juru bicara Istana Buckingham menyatakan bahwa Raja akan tetap memegang prinsip "keep calm and carry on" (tetap tenang dan lanjutkan).
"Raja dan Ratu sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja cepat untuk memastikan kunjungan ini tetap berjalan sesuai rencana," ungkap sumber tersebut terkait kekhawatiran keamanan pasca-insiden di jamuan Asosiasi Koresponden Gedung Putih baru-baru ini.
Dalam pidato yang dijadwalkan di hadapan Kongres AS pada hari ini selasa 28 April 2026, Raja Charles diharapkan menekankan akar tradisi demokrasi yang menyatukan kedua bangsa.
"Meskipun Inggris dan Amerika Serikat tidak selalu sepakat dalam segala hal, tradisi demokrasi, hukum, dan sosial yang kita bagi berarti bahwa dari waktu ke waktu, kedua negara kita selalu menemukan cara untuk bersatu," demikian penggalan draf pidato sang Monarki.
Sentimen Personal dan Bayang-Bayang Kontroversi
Presiden Trump secara konsisten memisahkan kekagumannya terhadap figur Raja Charles dari rasa frustrasinya terhadap pemerintahan Perdana Menteri Keir Starmer. Trump berulang kali menyebut Charles sebagai "pria hebat" dan "seorang sahabat."
Duta Besar Inggris untuk AS, Christian Turner, dalam wawancara dengan program Face the Nation CBS, menegaskan kedalaman hubungan ini.
"Kita memiliki perbedaan pendapat kecil pada tahun 1776. Kita telah melaluinya... Hubungan ini bertahan karena sangat mendalam di sektor keamanan," ujarnya.
Namun, kunjungan ini tidak luput dari sorotan domestik terkait skandal lama yang melibatkan Pangeran Andrew dan mendiang Jeffrey Epstein.
Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Ro Khanna, mendesak Raja untuk bertemu dengan para penyintas kasus tersebut sebagai bentuk akuntabilitas moral.
Meski demikian, pihak Istana telah menegaskan tidak akan ada pertemuan semacam itu demi menghormati proses hukum yang sedang berjalan di kedua negara.
Setelah Washington, Raja Charles dijadwalkan bertolak ke New York untuk mengunjungi monumen peringatan 11 September bersama Wali Kota Zohran Mamdani, sebelum mengakhiri kunjungannya di Virginia untuk meninjau proyek konservasi lingkungan isu yang telah diperjuangkan Charles selama lebih dari setengah abad.
Kunjungan ini menandai kunjungan kenegaraan pertama Charles ke AS sejak naik takhta pada tahun 2022, sekaligus menjadi simbol penting dalam memperingati 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat.
Editor: Redaktur TVRINews





