Bisnis.com, CIREBON — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi musim kemarau 2026 di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning) lebih awal dibandingkan daerah lainnya.
Kepala Stasiun Meteorologi Kertajati, Muhammad Syifaul Fuad, mengatakan awal kemarau diperkirakan terjadi pada akhir April hingga pertengahan Mei 2026. Sementara itu, puncak periode kering diproyeksikan berlangsung pada Agustus hingga September.
"Tahun ini ada kecenderungan kemarau datang lebih cepat dan durasinya lebih lama. Intensitas kekeringannya juga berpotensi lebih tinggi," ujarnya, Senin (27/4/2026).
Menurutnya, wilayah Ciayumajakuning dinilai memiliki tingkat kerentanan cukup tinggi terhadap kekurangan air, terutama pada sektor pertanian dan kebutuhan domestik.
Menurut Fuad, salah satu faktor yang memperkuat potensi kekeringan adalah kehadiran El Nino dengan intensitas lemah hingga sedang. Meski tidak berada pada kategori kuat, fenomena ini tetap berpengaruh terhadap distribusi hujan di Indonesia.
"El Nino menekan pembentukan awan hujan sehingga curah hujan cenderung menurun. Dampaknya akan terasa pada panjangnya periode kering,” katanya.
Baca Juga
- WMO Prediksi El Nino Mulai Berkembang Pertengahan 2026, Intensitas Akan Kuat?
- Hadapi El Nino, Pemerintah Tingkatkan Operasi Modifikasi Cuaca Cegah Karhutla
- Kementan Gelontorkan Rp3 Triliun untuk Antisipasi Dampak El Nino
Kondisi tersebut, lanjut Fuad, dapat berimbas langsung pada pola tanam petani. Ketersediaan air irigasi diperkirakan menurun jika tidak diantisipasi sejak awal. Ia menilai langkah mitigasi menjadi kunci untuk menekan risiko kerugian, terutama di wilayah sentra produksi pangan.
Di sisi lain, masyarakat juga diimbau mulai melakukan penghematan penggunaan air sejak masa peralihan musim. Air hujan yang masih turun dalam periode pancaroba disarankan untuk ditampung sebagai cadangan.
Selain itu, perbaikan instalasi air rumah tangga penting dilakukan guna mencegah kebocoran yang dapat mempercepat berkurangnya pasokan air.
“Upaya sederhana seperti menampung air hujan dan memperbaiki saluran air bisa membantu menjaga ketersediaan air selama kemarau,” ujar Fuad.
Saat ini, wilayah Cirebon masih berada dalam fase pancaroba. Pada periode ini, perubahan cuaca terjadi secara cepat dan sulit diprediksi. Suhu udara cenderung panas pada siang hari, namun hujan masih berpotensi turun pada sore hingga malam dengan intensitas sedang hingga lebat.
BMKG juga mengingatkan potensi cuaca ekstrem selama masa peralihan tersebut. Hujan singkat dapat disertai angin kencang, petir, bahkan hujan es dalam kondisi tertentu. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang mendadak, terutama bagi aktivitas di luar ruangan.





