Filipina dan Amerika Serikat menggelar latihan militer bersama di Pulau Palawan. Hal ini menyusul memanasnya ketegangan antara sejumlah negara akibat sengketa dalam wilayah dari Laut China Selatan.
Kepala Militer Filipina, Romeo Brawner, menegaskan pentingnya lokasi latihan tersebut mengingat posisi strategisnya dalam kawasan. Ia menyebut bahwa latihan tersebut merupakan bagian dari latihan tahunan dari Balikatan.
Baca Juga: Rusia Terpukau, Putin Puji Kehebatan Iran Hadapi Amerika Serikat
"Kami mempertahankan zona ekonomi eksklusif kami, tempat kami mendapatkan sumber daya, pangan, dan energi," ujarnya.
Latihan difokuskan pada pertahanan pesisir dan kemampuan kerja sama lintas negara dalam menjaga wilayah perairan ddengan skenario menangkis serangan musuh, termasuk kapal cepat dan kendaraan tanpa awak yang mendekati garis pantai.
Dalam latihan tersebut, pasukan menggunakan tembakan langsung untuk menghancurkan target simulasi serta mencegat ancaman yang datang dari laut. Operasi ini menunjukkan kesiapan tempur dan kemampuan koordinasi antar pasukan sekutu.
Latihan tahun ini menonjol karena penggunaan sistem tanpa awak seperti drone serta senjata canggih seperti HIMARS. Penggunaan beragam inovasi tersebut meningkatkan efektivitas operasi pertahanan.
Latihan ini berlangsung di tengah ketegangan antara Filipina dan China di Laut China Selatan. China sebelumnya mengkritik latihan tersebut karena dinilai meningkatkan ketegangan dalam kawasan.
Filipina dan China sendiri telah lama berselisih terkait klaim wilayah di Laut China Selatan. Sengketa tersebut menyangkut beragam pulau termasuk Kepulauan Spratly.
Adapun China sebelumnya memicu spekulasi mengenai kapal induk keempat yang kemungkinan bertenaga nuklir melalui sebuah video resmi Angkatan Lautnya.
China melakukan hal tersebut melalui video bertajuk Into the Deep. Video tersebut dirilis menjelang peringatan 77 tahun berdirinya Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA Navy).
Dalam video tersebut, muncul karakter fiktif bernama “He Jian”, yang dianggap sebagai permainan kata yang merujuk pada “kapal nuklir” dalam bahasa dari Mandarin.
Kemunculan karakter berusia 19 tahun ini memicu spekulasi bahwa kapal induk baru akan mengikuti urutan penomoran armada yang sudah ada.
China sendiri saat ini telah mengoperasikan tiga kapal induk yakni Liaoning, Shandong dan Fujian. Ketiganya masih menggunakan tenaga konvensional dengan nomor lambung berurutan 16, 17 dan 18.
Spekulasi kapal induk keempat yang bertenaga nuklir menunjukkan lompatan teknologi yang signifikan bagi militer dari China.
Ia telah secara agresif meningkatkan kemampuan militernya, khususnya dalam sektor angkatan laut. Tujuannya adalah membangun “blue-water navy” yang mampu beroperasi jauh dari wilayah domestik.
Baca Juga: Tanpa Alasan, Trump Pecat Seluruh Dewan Sains di Amerika Serikat
Video tersebut juga menampilkan berbagai adegan latihan militer dan simulasi serangan di Samudra Pasifik. Hal tersebut menunjukkan kesiapan operasional armada negara tersebut dalam proyeksi kekuatan global.





