JAKARTA - Sistem persinyalan dalam peristiwa tabrakan KA Argo Bromo dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, menjadi sorotan. Namun, pemerintah belum menyimpulkan adanya gangguan pada sistem tersebut sebelum hasil investigasi resmi keluar.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menegaskan pihaknya menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
“Saya tidak ingin terlalu dini menyimpulkan. Kita tunggu hasil investigasi KNKT,” kata Dudy dalam konferensi pers di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026).
Ia menekankan pentingnya investigasi yang komprehensif untuk memastikan penyebab pasti tabrakan antara kereta api jarak jauh dan KRL tersebut.
“KNKT memiliki metodologi sendiri dalam melakukan investigasi. Kita tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyebut jumlah korban dalam insiden tersebut mencapai 14 orang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka.
Baca Juga:Lalu Lintas Arus Balik Melandai, Tol Cipali Tetap Siaga 19 Unit Derek dan 10 Kendaraan PatroliPT Kereta Api Indonesia (Persero) masih membuka posko darurat selama 14 hari di dua lokasi, yakni Stasiun Gambir dan Stasiun Bekasi Timur.
Hingga kini, operasional KRL di Stasiun Bekasi Timur masih dihentikan sementara. KAI memastikan seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis secara maksimal.
Korban luka dirawat di sejumlah rumah sakit, antara lain RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.




