PT Krakatau Steel (Persero) Tbk mengungkap sejumlah faktor yang membuat industri baja Indonesia tertinggal jauh dari China, mulai dari kesenjangan kapasitas produksi, harga energi yang lebih mahal, teknologi pabrik yang tertinggal, hingga banjir produk impor berharga murah.
Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan mengatakan perbandingan industri baja Indonesia dengan China saat ini sudah tidak seimbang. Kapasitas produksi baja nasional disebut hanya sekitar 18 juta ton per tahun, sementara China mencapai lebih dari 1,3 miliar ton hingga 1,6 miliar ton per tahun.
“Sudah tidak apple to apple. Kapasitas produksi China 1,6 miliar ton per tahun. Indonesia hanya 18 juta ton per tahun,” ujar Akbar dalam acara Coffee Morning with CEO di Jakarta, Senin (27/4/2026).
Menurut dia, skala produksi yang jauh lebih besar membuat China memiliki efisiensi tinggi dan mampu membanjiri pasar global dengan harga agresif. China saat ini disebut menyuplai lebih dari 50% kebutuhan baja dunia.
Selain kapasitas, Akbar menyoroti biaya energi yang timpang. Harga gas industri di China berada pada kisaran US$2-US$3 per mmbtu, sedangkan di Indonesia gas industri bisa mencapai US$6 melalui skema HGBT, bahkan US$16-US$17 untuk harga non-HGBT.
“Gasnya di China itu hanya 2 sampai 3 dolar per mmbtu. Gas kita ada HGBT 6 dolar, bahkan non-HGBT sekitar 16-17 dolar,” katanya.
Ia menambahkan, daya saing industri baja nasional juga tertekan karena sebagian besar pabrik domestik sudah berusia tua. Krakatau Steel sendiri memiliki fasilitas produksi berumur sekitar 40 tahun, sementara produsen China telah menggunakan robotik dan kecerdasan buatan.
“Mereka sudah pakai robot, sudah pakai AI. Produktivitas dan efisiensinya sudah beda dengan kita,” ujar Akbar.
Dari sisi pasar, Akbar mengatakan produk baja China banyak dijual di bawah biaya produksi industri domestik. Kondisi itu membuat produsen dalam negeri sulit bersaing.
“Harga yang dikirim dari China itu sudah di bawah harga produksi di dalam negeri. How to compete? Tidak bisa,” tegasnya.
Ia juga mengungkap utilisasi pabrik baja nasional masih rendah. Dari kapasitas terpasang sekitar 18 juta ton, tingkat utilisasi disebut masih di bawah 60%. Sementara kebutuhan baja nasional mencapai 23 juta hingga 25 juta ton per tahun, sehingga selisih kebutuhan banyak dipenuhi impor.
Baca Juga: Krakatau Steel Tancap Gas 2026, Target Produksi Naik dan Impor Dipangkas
Baca Juga: Krakatau Steel Panaskan Mesin Pertumbuhan, Akbar Djohan Targetkan Laba US$129 Juta di 2026
Menurut Akbar, Indonesia perlu memperkuat perlindungan industri strategis sebagaimana dilakukan negara lain. Ia mencontohkan Amerika Serikat yang menerapkan tarif tinggi, safeguard, dan bea anti-dumping untuk melindungi industri baja domestik.
“Amerika melakukan proteksi luar biasa. Artinya negara tidak perlu malu melindungi industri baja dalam negeri,” ujarnya.
Krakatau Steel kini menyiapkan langkah efisiensi internal dan proyek hilirisasi untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku. Perusahaan juga menargetkan penguatan industri baja nasional agar lebih mandiri dan kompetitif.





