Mali Diserang Secara Gabungan, Menteri Pertahanan Tewas, Kota Penting di Wilayah Utara Dikabarkan Direbut Pemberontak

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pemerintahan militer Mali menghadapi krisis keamanan besar pada 26 April. Setelah serangan gabungan oleh kelompok jihadis dan pemberontak separatis di berbagai wilayah pada 25 April, sebuah kota penting di wilayah utara dilaporkan jatuh ke tangan pemberontak. Pada saat yang sama, Menteri Pertahanan Sadio Camara tewas dalam serangan tersebut. Sehari sebelumnya, bandara utama di ibu kota Bamako sempat ditutup.

Pemerintah Mali saat ini dipimpin oleh militer dan telah lama berperang melawan cabang-cabang Al-Qaeda dan ISIS. Kini mereka menghadapi salah satu serangan terbesar sejauh ini.

Menurut laporan AFP, seorang pejabat serta keluarga Camara mengungkapkan bahwa rumah Camara diserang dengan bom mobil pada 25 April. Camara, istrinya, serta dua cucunya tewas dalam insiden tersebut. Kediamannya berada di Kati, kawasan militer penting di pinggiran Bamako.

Pemerintah militer dalam pernyataan pada 26 April menyebutkan bahwa Camara terluka dalam baku tembak dengan para penyerang, lalu meninggal dunia di rumah sakit. “Ia berhasil menewaskan sebagian pelaku,” demikian pernyataan tersebut, seraya menambahkan bahwa ia akan dimakamkan secara kenegaraan.

Saat ini, pasukan pemerintah masih terus bertempur di beberapa wilayah. Reuters pada 25 April, mengutip laporan keamanan PBB, menyebutkan bahwa terjadi “serangan kompleks dan terkoordinasi” di berbagai lokasi, termasuk dekat bandara Bamako dan di Kati. Baku tembak juga dilaporkan terjadi di Mopti, Gao, dan Kidal di wilayah utara, serta di kota tengah Sevare, di mana saksi mata mengatakan “suara tembakan terdengar di mana-mana.”

Kedutaan Besar Amerika Serikat mengimbau warganya untuk berlindung di tempat, sementara Inggris menyarankan warganya untuk tidak bepergian ke Mali. Hingga saat ini, pemimpin militer Mali, Assimi Goita, belum muncul di hadapan publik maupun mengeluarkan pernyataan resmi.

Menurut sumber, dua kelompok yang melancarkan serangan gabungan ini adalah pemberontak Tuareg yang bersekutu dengan Front Pembebasan Azawad (FLA), serta kelompok jihadis Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM). Pemberontak Tuareg juga mengumumkan telah mencapai kesepakatan yang memungkinkan pasukan Rusia yang mendukung militer Mali untuk mundur dari kota Kidal di utara. Mereka mengklaim kota tersebut kini “sepenuhnya” berada di bawah kendali mereka.

Para analis menyebut ini sebagai tantangan terbesar bagi pemerintahan Mali sejak Maret 2012, ketika Prancis sempat melakukan intervensi militer untuk menahan serangan serupa. Sejak itu, pasukan Prancis telah ditarik.

Ulf Laessing dari lembaga think tank Jerman Konrad Adenauer Foundation mengatakan, “Ini tampaknya merupakan serangan terkoordinasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir.” 

Sumber : NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bank Sentral Jepang Tahan Suku Bunga di Level 0,75 Persen pada April 2026
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Komisi X DPR Soal Prodi Keguruan Mau Dihapus: Lebih Baik Transformasi
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Seluruh Korban Kecelakaan Kereta Api di Bekasi Dipastikan Terima Jaminan
• 13 jam lalujpnn.com
thumb
Antisipasi Temuan Body Part, Pembersihan Bangkai Kereta Bekasi Timur Dilakukan Hati-hati
• 4 jam lalugrid.id
thumb
KAI Sampaikan Duka Cita Atas Tabrakan Kereta di Bekasi Timur
• 13 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.