Daya Tahan Eropa di Ujung Tanduk? Presiden Estonia Tetiba Ajak Damai dengan Rusia demi Minyak Moskow

republika.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –– Di tengah kebuntuan panjang konflik Ukraina dan memburuknya relasi antara Rusia dan Barat, mulai muncul sinyal baru dari Eropa. Presiden Estonia Alar Karis menyatakan bahwa Uni Eropa perlu bersiap membuka kembali dialog dengan Moskow jika perang berakhir secara tiba-tiba, sebuah pernyataan yang menandai perubahan nada setelah bertahun-tahun sikap keras terhadap Rusia.

Dalam wawancara dengan media Finlandia, Karis mempertanyakan kesiapan Eropa menghadapi skenario pascaperang. Ia bahkan mendorong penunjukan utusan khusus untuk membuka kembali saluran diplomatik dengan Rusia. “Apakah kita siap jika perang berakhir hari ini atau besok?” ujarnya, seraya menegaskan bahwa persiapan diplomasi seharusnya sudah dimulai.

Baca Juga
  • MTI Nilai Perlu SOP Wajib Jika Kendaraan Mogok di Perlintasan Rel
  • PGN Jaga Kinerja Solid di Kuartal Pertamina Tahun Ini
  • Elnusa Petrofin Dorong Narasi Energi Konstruktif di Momentum 30 Tahun Perusahaan

Pernyataan ini muncul di tengah posisi Estonia sebagai salah satu pendukung paling vokal Ukraina sejak eskalasi konflik pada 2022. Namun di balik ketegasan itu, tersirat kesadaran baru bahwa konflik tidak bisa dikelola selamanya tanpa ruang komunikasi. Bahkan, Karis menilai negara-negara kecil seperti Estonia dan Finlandia harus dilibatkan dalam setiap keputusan besar terkait Rusia, mengingat kontribusi mereka dalam mendukung Kiev.

Meski demikian, gagasan membuka dialog kembali masih menuai resistensi di internal Uni Eropa. Sejumlah pejabat senior, termasuk diplomat top Kaja Kallas, tetap menolak keterlibatan langsung dengan Kremlin sebelum adanya konsesi dari Moskow. Di sisi lain, Rusia justru menuduh negara-negara Eropa memperpanjang konflik dan semakin mendekat pada konfrontasi terbuka, terutama melalui peningkatan belanja militer dan rencana “ReArm Europe” senilai ratusan miliar euro.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bahkan memperingatkan bahwa jika Eropa “bersiap untuk menyerang Rusia,” maka Moskow akan merespons dengan “segala cara yang tersedia.” Pernyataan ini mempertegas bahwa ketegangan belum mereda, bahkan ketika wacana dialog mulai muncul ke permukaan, sebagaimana diberitakan RT.

Namun di balik seluruh dinamika politik dan keamanan tersebut, ada satu faktor yang terus membayangi perhitungan Barat: energi, khususnya minyak Rusia.

Di tengah berbagai paket sanksi yang diberlakukan sejak awal konflik, minyak Rusia terbukti belum tergantikan secara struktural. Alih-alih terisolasi, Moskow justru menunjukkan kemampuan adaptasi yang membuatnya tetap relevan dalam sistem energi global. Pendapatan dari sektor minyak dan gas masih bergerak dinamis mengikuti harga global, memberikan ruang fiskal bagi Rusia untuk bertahan dalam tekanan.

Reuters mencatat bahwa penerimaan energi Rusia “diperkirakan meningkat secara bulanan seiring kenaikan harga minyak global, meskipun secara tahunan masih lebih rendah,” sebuah gambaran bahwa sanksi Barat belum sepenuhnya memutus sumber utama pemasukan Kremlin.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
71 Korban Tabrakan Kereta di Stasiun Bekasi Timur Dievakuasi ke RS
• 14 jam laludetik.com
thumb
Kumham Imipas: Konsep "port to port" solusi optimalkan PLBN Sebatik
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Telur Omega vs Telur Biasa, Apa Bedanya? Ini Penjelasan Ilmiahnya
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
KA Argo Bromo Anggrek Hantam KRL Jakarta di Stasiun Bekasi Timur, Sebelum Berangkat Biasakan Baca Doa Berikut
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Megawati Bertemu Rektor UTAR Malaysia, Bahas Rencana Kerja Sama dengan BRIN
• 22 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.