Belajar dari China, Driver Ojol Digaji UMR-Punya Batas Jam Kerja

cnbcindonesia.com
6 jam lalu
Cover Berita
Foto: China Daily

Jakarta, CNBC Indonesia - China menerapkan aturan baru yang menambah lapisan perlindungan bagi pekerja platform digital atau diistilahkan 'gig worker'. Kategori ini mencakup driver online, kurir online, hingga host livestreaming. Dalam regulasi tersebut diatur mengenai gaji dan batas jam kerja.

Terkait gaji, Komite Sentral Partai Komunis China dan Dewan Negara mewajibkan gig worker memiliki penghasilan setidaknya upah minimum lokal atau di Indonesia dulunya diistilahkan UMR. Aturan juga mewajibkan platform memberikan tambahan upah yang wajar saat gig worker bekerja pada hari libur.


Perusahaan penyedia layanan perlu bernegosiasi dengan serikat atau perwakilan gig worker untuk menentukan waktu pengambilan pesanan maksimum berturut-turut dan maksimal jam kerja harian.

Selain itu, aplikasi harus menghentikan pengiriman pesanan baru jika batas tersebut sudah dicapai para pengemudi. Pemberitahuan mengingatkan pekerja untuk beristirahat juga dikirimkan, dikutip dari The Next Web, Selasa (28/4/2026).

Aturan tersebut mengatur pula mengenai pembuatan kontrak kerja ketika syarat untuk hubungan kerja terpenuhi. Jika tidak terpenuhi, maka pekerja harus menandatangani perjanjian tertulis untuk menentukan ketentuan.

Perusahaan diwajibkan pula meminta masukan pekerja saat merumuskan atau merevisi peraturan ketenagakerjaan.

Pilihan Redaksi
  • Raja Ojol Tutup di RI, Sekarang Bawa Petaka Besar Buat Driver Online
  • Alasan BHR Hanya Buat Ojol dan Driver Online, Freelance Lain Tak Dapat
  • Raja Ojol Tutup di Indonesia, Sekarang Driver Kena Kasus Hukum

Regulasi terbaru jadi terobosan mengingat sistem layanan online kerap memaksa pekerja untuk menggenjot produktivitas tanpa memprioritaskan prinsip kehati-hatian. Sebuah laporan dari majalah Renwu pada 2020 mengungkapkan soal cara kerja algoritma Meituan dan Ele.me mempersingkat waktu pengiriman.

Hal ini memaksa pengantar barang menerobos lampu lalu lintas, mengemudi dengan melawan arus, dan berlari menaiki tangga.

Untuk pembayaran, penyedia layanan menghitungnya berdasarkan rata-rata pesanan harian, ketepatan waktu, peringkat pelanggan dan keluhan.

Sistem yang dibangun itu jelas berpotensi membuat pengemudi atau kurir online celaka hingga meninggal saat bekerja. Catatan The Next Web menyebutkan paruh pertama 2027 di Shanghai terdapat satu pengantar barang terluka atau tewas tiap 2,5 hari.

Di Chengdu terdapat 10 ribu pelanggaran lalu lintas oleh pengantar barang selama tujuh bulan pertama tahun 2018 di Chengdu. Sementara kecelakaan tercatat 196 kali dan 155 cedera atau kematian.

Seorang pengantar makanan di Hangzhou dditemukan pingsan dan meninggal setelah 18 jam bekerja pada September 2024.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Jurus Pengembangan Pusat Data AI Jadi "Energi" Ekonomi Digital

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pernah Berhubungan Seks dengan 101 Pria dalam Sehari, Wanita Ini Bersyukur Masih Ada Laki-Laki yang Mencintainya dan Kini Punya Pacar Baru
• 4 jam laluharianfajar
thumb
RS Polri Terima Laporan dari 7 Keluarga Korban Kecelakaan KRL Bekasi Timur
• 6 jam lalugrid.id
thumb
Ayah Tak Bertemu Ristuti Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Selama 6 Tahun
• 48 menit laludetik.com
thumb
Ini Alasan Gerbong Perempuan Ada di Paling Depan dan Belakang Rangkaian Kereta
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Gandeng UMKM KBE, Medco E&P Grissik Terima Aliran Minyak dari Sumur Rakyat
• 20 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.