JAKARTA, KOMPAS.com – Layanan jasa antar berbasis non-aplikasi terus menunjukkan eksistensinya di tengah dominasi platform digital.
Berangkat dari skema sederhana berbasis media sosial, layanan ini justru menemukan ceruk pasar tersendiri.
Salah satunya Pasmingskuy di Pasar Minggu yang hadir mengisi celah bagi para pelanggan yang sering kali kesulitan mendapatkan driver atau sekadar ingin jajan di warung pinggir jalan.
Di saat hampir semua kebutuhan hidup bisa diselesaikan melalui aplikasi, layanan jastip berbasis pesan instan seperti Pasmingskuy tetap memiliki tempat istimewa di masyarakat lokal.
Baca juga: Dari Iseng Jadi Peluang, Jasa Antar Rp 5.000 Solusi Alternatif Warga Pasar Minggu Jaksel
Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, melihat bahwa fenomena ini menarik karena tidak semua praktik ekonomi harus tunduk pada logika modernisasi digital.
Menurut dia, bahwa dalam sosiologi ekonomi, sebuah transaksi tidak hanya soal biaya, tetapi juga soal hubungan antarmanusia.
Ia menjelaskan, meskipun teknologi terus berkembang, praktik ekonomi tetap dipengaruhi oleh aspek sosial yang tidak bisa dihilangkan.
Menurut dia, kedekatan komunikasi dan interaksi langsung menjadi nilai tambah tersendiri bagi layanan non-aplikasi.
“Meskipun aplikasi seperti GoFood atau Grabfood dan seterusnya menawarkan kemudahan, tapi layanan-layanan itu menurut saya menghadirkan sesuatu yang berbeda. Ada kedekatan sosial, komunikasi langsung dan rasa manusiawi menjadi daya tarik tersendiri, terutama di komunitas lokal dengan interaksi sosial yang masih kuat," tuturnya saat dihubungi, Senin (27/4/2026).
Kepercayaan dan Pengalaman Jadi PenentuSelain itu, keputusan konsumen dalam menggunakan jasa seperti ini juga dipengaruhi oleh pengalaman dan hubungan personal.
Kepercayaan, kata dia, lebih banyak dibangun dari interaksi dibandingkan sistem aplikasi.
Ia juga menilai rekomendasi dari lingkungan sekitar memiliki pengaruh besar dalam membentuk kepercayaan tersebut.
“Testimoni informal dari tetangga, teman, kerabat, kolega, lebih berpengaruh daripada rating aplikasi, karena seringkali kan rating aplikasi itu kan semu ya," kata dia.
Fleksibilitas dan Kedekatan Jadi KekuatanSelain itu, menurut Rakhmat keunggulan lain yang ditawarkan layanan non-aplikasi adalah fleksibilitas dalam pelayanan.
"Berbeda dengan sistem aplikasi, yang cenderung rigid, harga tetap, algoritma, aturan platform, seperti ini lebih cair, jadi lebih enak sama enak lah gitu," kata dia.
Baca juga: Perjuangan Sopir Bus AKAP Antar Pemudik: Terjebak Macet Belasan Jam hingga Hadapi Mogok
Fleksibilitas tersebut mencakup berbagai hal, mulai dari negosiasi harga hingga jenis layanan yang tidak terbatas.
Akan Bertahan BerdampinganRakhmat pun menilai layanan non-aplikasi tidak akan hilang, melainkan akan berjalan berdampingan dengan platform digital.
Ia menegaskan, selama kebutuhan akan harga terjangkau dan hubungan personal masih ada, layanan seperti ini akan tetap relevan.





