MAKASSAR, FAJAR— Sebagai orang tua, melihat anak meraih prestasi tentu menjadi momen yang membanggakan. Namun, memberi pujian ternyata ada seninya. Jika terlalu sedikit, anak merasa tidak dihargai; jika berlebihan, anak berisiko menjadi sombong atau arogan.
Lantas, bagaimana cara memberikan apresiasi yang tepat? Melansir dari pakar parenting Wayne Parker, berikut adalah 9 strategi cerdas memberikan pujian yang bisa membangun kepercayaan diri anak sekaligus menjaganya tetap rendah hati dan tahu berterima kasih.
1. Puji Hal-Hal yang Memang Bermakna
Jangan memuji semua hal secara berlebihan. Berikan pujian yang tulus saat anak benar-benar berusaha keras. Contohnya, jika anak sukses tampil di konser musik setelah berlatih setiap hari, ia layak mendapatkan apresiasi tinggi. Namun, jika ia gagal karena malas berlatih, orang tua sebaiknya menahan diri dalam memuji agar anak belajar tentang konsekuensi.
2. Fokus pada Proses, Bukan Hasil Akhir
Saat anak memenangkan perlombaan, jangan hanya bilang “Bapak/Ibu bangga kamu menang.” Coba ganti dengan: “Rasanya luar biasa ya melihat semua kerja kerasmu selama ini akhirnya membuahkan hasil?” Dengan begitu, anak akan merasa divalidasi atas usahanya, bukan sekadar skor akhir.
3. Hargai Rintangan yang Mereka Hadapi
Seringkali anak harus mengorbankan waktu bermain demi belajar atau menghadapi kegagalan berkali-kali sebelum berhasil. Akui kesulitan tersebut. Katakan bahwa Anda bangga melihat kegigihannya dalam melewati masa-masa sulit tersebut.
4. Tunjukkan Keyakinan pada Kemampuan Mereka
Apresiasi saat ini adalah bahan bakar untuk masa depan. Ungkapkan bahwa Anda percaya mereka mampu meraih hal-hal hebat lainnya di masa depan. Ini akan memotivasi mereka untuk terus berkembang dan “mengejar bintang.”
5. Jangan Berlebihan (Proporsional)
Anak-anak punya insting tentang skala pencapaian mereka. Jika mereka hanya mencetak gol di pertandingan sekolah biasa, tidak perlu merayakannya dengan pesta besar-besaran. Cukup dengan makan es krim bersama atau memesan pizza favorit sebagai bentuk perayaan kecil yang hangat.
6. Puji di Waktu yang Tepat
Pujian paling efektif diberikan sesegera mungkin setelah pencapaian terjadi. Memberikan high five langsung di lapangan atau merayakannya di malam yang sama jauh lebih berkesan daripada menunggu satu minggu kemudian.
7. Hindari Menyelipkan Kritik dalam Pujian
Seringkali orang tua berkata, “Wah selamat ya atas kemenangannya, tapi nilai matematikamu tetap harus diperbaiki ya!” Kalimat seperti ini justru merusak momen kebahagiaan anak. Untuk dampak yang maksimal, berikan pujian yang tulus tanpa embel-embel kritik di dalamnya.
8. Fokus Hanya pada Si Kecil (Jangan Dibandingkan)
Setiap anak berhak atas momen bahagianya sendiri tanpa dibanding-bandingkan dengan saudaranya yang lebih pintar atau sepupunya yang lebih atletis. Berikan pujian yang spesifik diarahkan untuk dirinya sendiri.
9. Ajarkan Mengakui Peran Orang Lain
Agar anak tetap rendah hati, bantu mereka melihat bahwa kesuksesan tidak diraih sendirian. Ingatkan mereka akan peran guru, pelatih, atau teman setim. Ajak mereka untuk mengucapkan terima kasih atau menulis kartu ucapan syukur kepada orang-orang yang telah membantu mereka.
Dengan menerapkan pola asuh ini, anak tidak hanya akan tumbuh menjadi sosok yang berprestasi, tetapi juga memiliki mentalitas juara yang tetap membumi. (*Nin)





