Grid.ID - Terungkap kisah pilu Nuryati, korban tabrakan KRL Bekasi-KA Agro Bromo yang dikabarkan meninggal dunia. Ternyata sempat ucapkan hal ini sebelum pingsan dan meninggal dunia.
Seperti diketahui, insiden kecelakaan terjadi antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (28/4/2026). Dari insiden kecelakaan itu, 14 orang dikabarkan meninggal dunia.
Melansir Kompas.com, para korban meninggal dunia telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut. Sementara itu, 84 korban luka telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan.
Insiden kecelakaan memakan banyak korban, baru-baru ini terkuak kisah pilu korban tabrakan KRL. Salah satu korban itu diketahui bernama Nuryati.
Melansir TribunJakarta.com, Nuryati (63), warga Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat jadi korban tabrakan KRL pada Senin (27/04/2026). Saat kejadian, Nuryati bersama anak dan cucunya tengah dalam perjalanan untuk mengunjungi anaknya di Cikarang.
Adapun kronologi meninggalnya Nuryati diungkap sang menantu korban, Andi Ayubi (39). Ia menyebut saat kejadian suasana di dalam kereta sangat mencekam.
Bagaimana tidak, ada guncangan hebat hingga padamnya aliran listrik dalam kereta. Hal itu membuat para penumpang langsung panik tak karuan.
"Senin malam itu, mertua saya memang berencana menjenguk anaknya di Cikarang. Dia di kereta bertiga, bareng sama anak dan cucunya yang berusia 5 tahun," ujar Andi saat ditemui di rumah duka, Selasa (28/4/2026).
“Tiba-tiba ada guncangan, lalu lampu dan kipas mati semua. Penumpang langsung panik,” katanya menceritakan laporan dari adik iparnya yang berada di KRL.
Andi mengatakan anak dan cucu Nuryati yang berusia lima tahun berhasil dievakuasi lebih awal melalui jendela. Sementara Nuryati dievakuasi terakhir.
“Karena usia beliau sudah 63 tahun, mungkin proses evakuasinya lebih sulit. Beliau dievakuasi terakhir,” jelas Andi.
Ucapan Terakhir Korban
Nuryati sempat mengucapkan beberapa kata-kata sebelum akhirnya pingsan. Ia diketahui syok hingga menanyakan apa yang terjadi di kereta.
“Ucapan terakhirnya itu, ‘Ini ada apa?’ Sepertinya beliau kaget,” ungkapnya.
Setelah itu, ia hilang kesadaran dan dinyatakan meninggal dunia. Sementara, anak dan cucunya yang selamat mengalami trauma atas kejadian tersebut. Bahkan, anak mereka sempat menghubungi keluarga dalam kondisi panik.
“Dia sempat telepon, bilang ‘Mama pingsan, kenapa?’ Kami juga bingung. Sekitar satu jam kemudian baru dapat kabar kalau mama sudah tidak ada,” tutur Andi.
Andi lantas menuturkan alasan mertuanya mengambil perjalanan malam. Hal itu karena mereka berharap perjalanan malam lebih lengang.
“Rencananya memang mau menginap di sana, sekalian menjenguk anak,” katanya.
Semenetara itu, jenazah Nuryati rencananya akan dimakamkan di TPU Karet Tengsin usai salat zuhur. Demikian kisah pilu korban tabrakan KRL di Bekasi. (*)
Artikel Asli




