Sehari setelah tabrakan maut antara KRL Commuter Line dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4) malam, suasana di sekitar lokasi masih jauh dari kata pulih. Aktivitas kereta belum sepenuhnya normal, jalur perjalanan terganggu, dan proses evakuasi rangkaian yang rusak masih berlangsung hingga Selasa (28/4) sore.
Di area rel, suara alat berat dan dentingan logam terdengar bersahut-sahutan. Petugas berjibaku membongkar bagian gerbong KRL yang hancur akibat benturan keras. Hingga pukul 16.45 WIB, rangkaian gerbong yang tertemper belum juga berhasil dipindahkan sepenuhnya dari lokasi kejadian.
Seorang teknisi yang enggan disebut namanya, terlibat dalam proses evakuasi. Ia mengatakan pekerjaan berjalan lambat karena kondisi gerbong tersangkut di area sempit dan berada di bawah kabel aliran listrik atas.
“Proses berjalan lama, karena ini nyangkut di tempat yang cukup sempit dan tak bisa langsung diangkat. Ada kabel aliran atas. Diusahakan dengan menarik sedikit demi sedikit sambil membongkar beberapa bagian,” ujarnya kepada Katadata.co.id, di kawasan Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4).
Menurut dia, kondisi itu berbeda dengan lokomotif kereta jarak jauh yang lebih mudah dipindahkan.
Rangkaian kereta, serta lokomotif KA Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek telah berhasil dievakuasi dan diangkut sepenuhnya sejak pukul 08.00 pagi.
“Kalau lokomotif KA Jarak Jauh bisa langsung ditarik karena tidak terguling dan tak sehancur bagian KRL,” katanya.
Sementara itu, Stasiun Bekasi Timur hingga sore hari masih ditutup untuk umum. Pintu masuk area parkir dijaga ketat petugas keamanan. Hanya petugas, teknisi, dan pihak berkepentingan yang diperbolehkan masuk ke area dalam stasiun.
Meski demikian, sejumlah warga tetap berusaha mendekat. Rasa penasaran membuat beberapa orang mencari celah untuk melihat langsung proses evakuasi.
Salah satunya Aiman Rohman, pemilik warung yang berada sekitar 100 meter dari pintu parkir stasiun. Ia sekaligus menjadi salah satu saksi yang mendengar langsung tabrakan tersebut semalam.
Ia mengatakan, sebelum insiden kereta terjadi, kawasan itu sempat macet karena kecelakaan lain yang melibatkan taksi. Setelah situasi sedikit reda, suara keras tiba-tiba terdengar.
“Saya dengar langsung suaranya. Habis balik ke warung, habis ngobrol sama bapak-bapak sekitar. Kan di sini macet juga tadinya ada kecelakaan taksi itu,” kata Aiman.
“Nah enggak lama, semuanya kejadian sekitar setengah jam ya, ada suara klakson kenceng yang paling terasa. Di belakang warung, bunyi rem berdecit ngilu banget saya dengar. Terus ada suara kenceng kayak suara ledakan. Tahu-tahu kereta tabrakan,” ujar Aiman.
Perjalanan Penumpang TergangguDampak kecelakaan tak hanya terasa di lokasi kejadian, tetapi juga menjalar ke perjalanan ribuan penumpang. Hingga pukul 16.30 WIB, operasional KRL Line Biru menuju Cikarang belum normal.
Perjalanan kereta dari arah Jakarta hanya dilayani sampai Stasiun Bekasi, satu stasiun sebelum lokasi kecelakaan. Penumpang yang hendak melanjutkan perjalanan ke Tambun, Cibitung, hingga Cikarang harus mencari moda transportasi lain.
Di depan Stasiun Bekasi, sejumlah mobil Elf terlihat berhenti menaikkan penumpang. Kendaraan itu menjadi transportasi darurat untuk menyambung perjalanan.
Salah seorang penumpang, Wanda Setya, mengaku terpaksa naik Elf untuk menuju Cikarang.
“Aku naik Elf ini mau lanjut ke Stasiun Cikarang. Biasanya keretaan aja, sekarang harus nyambung,” katanya, ditemui di Stasiun Bekasi, Selasa (28/4).
Menurut Wanda, trayek Elf tersebut biasanya tidak melewati Stasiun Bekasi. Namun akibat gangguan perjalanan, rute sementara dibuka sejak hari ini.
“Sekarang berhenti tepat di depan stasiun Bekasi. Biasanya kalau mau naik, harus jalan atau naik ojek dulu ke Terminal Bekasi karena trayek aslinya cuma sampai situ saja,” ujarnya.
Meski membantu, perjalanan tambahan itu membuat penumpang harus merogoh kocek lebih dalam.
“Ini rute sementara saja. Tarif Rp5 ribu sampai Rp10 ribu ke Cikarang, lumayan menambah biaya lagi,” kata Wanda.
Insiden Tabrakan MautInsiden maut terjadi pada Senin (27/4) malam pukul 20.55 WIB, melibatkan KA Argo Bromo Anggrek nomor perjalanan 4 rute Gambir-Surabaya Pasar Turi yang bertabrakan dengan rangkaian KRL di Stasiun Bekasi Timur (BKST).
Tim Gabungan Basarnas, KAI, dan sejumlah pihak terkait masih terus melakukan tindakan evakuasi terhadap korban kecelakaan tabrakan antara KRL dan KA Argo Bromo, di Stasiun Bekasi Timur, Senin (28/4). Hingga Selasa (28/4) sore, tercatat 15 orang meninggal dunia dan 84 korban luka.
Polda Metro Jaya menyebutkan korban tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4) malam, berjumlah 15 orang.
"Sebanyak sepuluh jenazah di RS Polri, tiga jenazah di RSUD Bekasi, satu jenazah di RSU Bella, satu jenazah di RS Mitra Keluarga," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (28/4).
Untuk korban luka-luka sebanyak 76 orang. Namun, Budi belum merinci jenis luka apa saja yang dialami para korban.
Sementara itu, sebanyak tujuh keluarga korban kecelakaan KRL di Bekasi Timur telah melapor ke posko identifikasi korban (Disaster Victim Identification/DVI) Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Tingkat I Pusdokkes Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.




