UEA Tinggalkan OPEC dan OPEC+, Guncang Pasar Energi Global

suarasurabaya.net
8 jam lalu
Cover Berita

Keputusan Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari OPEC dan aliansi OPEC+ mengguncang pasar energi global, di tengah ketegangan geopolitik akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Pemerintah UEA menyatakan, keputusan yang mulai berlaku Jumat tersebut diambil untuk memprioritaskan kepentingan nasional seiring perubahan strategi energi jangka panjang negara tersebut. Pernyataan resmi yang disiarkan media pemerintah menegaskan bahwa langkah ini mencerminkan arah baru kebijakan ekonomi dan energi UEA.

“Selama menjadi bagian dari organisasi, kami telah memberikan kontribusi signifikan bahkan pengorbanan besar demi kepentingan bersama. Namun kini saatnya fokus pada kepentingan nasional,” demikian pernyataan pemerintah UEA.

Dilansir dari Reuters pada Rabu (29/4/2026), langkah keluarnya salah satu anggota lama ini berpotensi melemahkan soliditas OPEC, yang selama ini berupaya mempertahankan kesatuan di tengah perbedaan pandangan internal, mulai dari isu geopolitik hingga kuota produksi minyak.

Suhail Mohamed al-Mazrouei Menteri Energi UEA menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah evaluasi mendalam terhadap strategi energi nasional. Ia juga menepis adanya konsultasi dengan negara lain, termasuk Arab Saudi.

“Ini adalah keputusan kebijakan yang diambil setelah mempertimbangkan secara matang kondisi saat ini dan masa depan terkait tingkat produksi,” ujar Al-Mazrouei.

Secara historis, UEA telah menjadi bagian dari OPEC sejak 1967 melalui Abu Dhabi, sebelum resmi bergabung sebagai negara pada 1971.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, pengaruh kartel berbasis di Wina tersebut mulai menurun, terutama seiring peningkatan produksi minyak oleh Amerika Serikat.

Selain itu, dinamika hubungan antara UEA dan Arab Saudi juga mengalami perubahan, dengan persaingan yang semakin terlihat dalam isu ekonomi dan geopolitik, termasuk di kawasan Laut Merah.

Lembaga riset energi Rystad Energy menilai keluarnya UEA sebagai perubahan signifikan dalam peta kekuatan OPEC.

“Kehilangan anggota dengan kapasitas produksi 4,8 juta barel per hari serta ambisi ekspansi produksi adalah pukulan nyata bagi organisasi,” ujar Jorge Leon Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy.

Ia menambahkan, perubahan dinamika permintaan global membuat negara produsen berbiaya rendah mulai mempertimbangkan kembali keterlibatan dalam sistem kuota. Menurut Leon, keluarnya UEA juga meningkatkan beban Arab Saudi dalam menjaga stabilitas harga minyak global. (saf/ipg)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dua Eks DPRD OKU Dituntut 5,5 Tahun Penjara dalam Kasus Suap Pokir
• 37 menit lalutvrinews.com
thumb
Polisi Ungkap KA Argo Bromo Melaju dengan Kecepatan 110 Km per Jam Sebelum Tabrak KRL
• 11 jam laluokezone.com
thumb
Pemain "Gudang Merica" syuting ekstrem di lokasi terbengkalai
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Pegadaian Sukses Gelar Tring! Golden Run 2026, Dorong Literasi Investasi Emas
• 2 jam laluterkini.id
thumb
Kantor DLH Padang Terbakar, 3 Bangunan dan 23 Motor Hangus
• 7 menit lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.