Utak-atik Bisnis BIPI: Divestasi Aset, Beralih ke Data Center hingga Geothermal

katadata.co.id
9 jam lalu
Cover Berita

Emiten portofolio Grup Bakrie PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) mulai mengutak-aktis fokus bisnisnya. Berdasarkan riset Samuel Sekuritas Indonesia, Astrindo Nusantara Infrastruktur (BIPI) saat ini tengah dalam transisi dari bisnis batu bara menuju sektor energi yang lebih berkelanjutan.

Dalam riset itu menyebut BIPI menargetkan ekspansi ke tiga lini utama, yakni liquefied natural gas (LNG), waste-to-energy (WTE), dan panas bumi (geotermal). Lalu baru-baru ini, Astrindo Nusantara Infrastruktur (BIPI) mengungkapkan tengah menjajaki rencana pelepasan bisnis batu bara melalui divestasi anak usahanya.

Corporate Secretary BIPI, Kurniawati Budiman, menyampaikan bahwa proses tersebut masih tahap penjajakan awal dan masih mengeksplorasi sejumlah calon pembeli potensial. Langkah penjajakan ini merupakan bagian dari strategi perseroan untuk merapikan struktur portofolio investasi sekaligus mempercepat transformasi bisnis ke arah sektor energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Ia juga mengatakan BIPI ingin memperkuat fokus pada pengembangan infrastruktur energi berbasis energi bersih. Adapun ke depannya perseroan berencana meningkatkan alokasi investasi pada sektor energi terbarukan dan energi bersih. Aksi ini diharapkan dapat menciptakan portofolio yang lebih optimal dan seimbang, baik dari sisi kinerja keuangan jangka pendek maupun keberlanjutan dalam jangka panjang.

Hingga saat ini, ia menyebut BIPI belum menandatangani dokumen apa pun yang bersifat mengikat, baik Letter of Intent (LoI) maupun perjanjian jual beli saham bersyarat (Conditional Share Purchase Agreement/CSPA). 

“Namun demikian, struktur portofolio pasca divestasi akan sangat bergantung pada realisasi transaksi serta peluang investasi yang tersedia ke depan,” kata Kurniawati dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Selasa (28/4). 

Transisi ke Bisnis Nonbatu Bara

Samuel Sekuritas Indonesia menilai kenaikan harga energi saat ini berpotensi memperlancar proses transisi menuju energi nonbatu bara ke depannya.

Namun Samuel Sekuritas melihat Astrindo Nusantara Infrastruktur (BIPI) masih mengandalkan bisnis batu bara sebagai kontributor utama kinerja. Lonjakan harga energi yang dipicu konflik di Iran juga mengangkat prospek pendapatan perusahaan. Selain itu, kenaikan kuota produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) diperkirakan akan mendorong volume penjualan batu bara.

Samuel Sekuritas melihat faktor itu diyakini akan membawa BIPI kembali mencatatkan laba positif pada 2026. Samuel Sekuritas juga melihat pertumbuhan perusahaan akan ditopang oleh peningkatan volume produksi yang kuat. Manajemen BIPI menargetkan tambahan produksi sekitar 1 juta ton per tahun hingga mencapai 8 juta ton dalam jangka menengah.

Samuel Sekuritas menyebut produksi ini diproyeksikan akan memperkuat arus kas operasional perusahaan sehingga dapat mendukung pendanaan internal untuk ekspansi bisnis ke depan.

Sejalan dengan upaya diversifikasi, BIPI juga mulai mengembangkan bisnis non-batu bara dengan menyasar tiga segmen utama, yakni LNG, waste-to-energy (WTE), dan panas bumi. Dalam pengembangan LNG, Samuel Sekuritas menyebut perusahaan menargetkan kapasitas awal sebesar 2,5 mmscfd pada paruh kedua 2026, yang akan ditingkatkan menjadi 20 mmscfd pada 2027–2028.

Selain itu, BIPI juga merencanakan pembangunan dua fasilitas LNG berkapasitas masing-masing 50 mmscfd di Batam dengan target operasi komersial (COD) pada 2029 dan di Aceh pada 2030–2031.

Di bisnis pembangkit sampah, Samuel Sekuritas mengungkapkan manajemen BIPI mulai masuk ke sektor WTE melalui kemitraan dengan Danantara dalam skema tender pemerintah. 

“Seperti yang ditunjukkan melalui partisipasi dalam tender gelombang kedua untuk proyek Yogyakarta dengan kapasitas total 1.500 ton,” demikian tertulis dalam riset Samuel Sekuritas, dikutip Selasa (28/4). 

Kemudian setelah arus kas tambahan dari pengembangan bisnis non-batu bara mulai stabil, BIPI berencana memperluas diversifikasi ke sektor panas bumi. Perusahaan menargetkan pengembangan proyek geotermal berkapasitas 150 MW di Ponorogo, Jawa Timur, dengan estimasi mulai berproduksi pada 2031.

Samuel Sekuritas menyebut dorongan terhadap pengembangan energi terbarukan dalam jangka menengah akan semakin kuat. Hal itu seiring dengan perkembangan teknologi dan peningkatan kapasitas yang terus berlangsung.

“Terutama seiring permintaan listrik tambahan yang meningkat seiring perkembangan AI dan pusat data,” tulis Samuel Sekuritas. 

Samuel Sekuritas mengatakan saat ini, pendapatan BIPI sebagian besar berasal dari bisnis batubara. Namun, LNG, geotermal, dan pembangkit energi dari limbah ditargetkan akan menyumbang 50% pada tahun 2028

Berikut Jadwal Proyek Panas Bumi Ponorogo:

TahunTahapanKeterangan2026–2027Drilling & Feasibility StudyAktivitas pengeboran dan studi kelayakan untuk menilai potensi panas bumi2028Konstruksi PLTP (jika layak)Konstruksi pembangkit dimulai jika hasil studi kelayakan mendukung2029Pembangunan Data CenterPembangunan data center on-site bersamaan dengan infrastruktur energi2031Target CODTarget mulai operasi komersial proyek geotermal dan fasilitas pendukung

Sumber: riset Samuel Sekuritas


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anggota DPR usul evaluasi total tata kelola "daycare"
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Rupiah Tertekan ke Rp17.275 per Dolar AS, Gejolak Global dan Minyak Dorong Pelemahan
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
[Berita Terlarang] Hubungan Tiongkok–Eropa Mendingin, Sanksi UE terhadap Rusia Libatkan Sejumlah Perusahaan Tiongkok
• 6 jam laluerabaru.net
thumb
Presiden Prabowo Targetkan Revitalisasi 288.000 Sekolah Tuntas 2028
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Fakta-fakta Bayi Dianiaya di Daycare Banda Aceh hingga Pengasuh Ditangkap
• 7 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.