Bukan di Tengah yang Aman, Tapi Mengapa Bisa Celaka?

kompas.com
13 jam lalu
Cover Berita

TIDAK lama setelah sebuah kecelakaan besar, biasanya muncul satu pertanyaan yang terdengar sederhana: di mana posisi paling aman?

Pertanyaan itu terasa masuk akal bahkan menenangkan. Seolah-olah keselamatan bisa dipetakan ke satu titik—ke depan, ke belakang, atau ke tengah rangkaian.

Masalahnya, dalam sistem transportasi, pertanyaan itu keliru sejak awal. Keselamatan tidak pernah ditentukan oleh posisi.

Gagasan bahwa posisi tengah lebih aman muncul dari logika yang mudah dipahami. Semakin jauh dari titik benturan, semakin kecil dampaknya.

Dalam skenario tabrakan dari belakang (rear-end collision), asumsi ini memang memiliki dasar fisika. Namun kecelakaan kereta tidak hanya terjadi dalam satu bentuk.

Baca juga: Refleksi Information Ethics dari Insiden KRL dan Argo Bromo Anggrek

Berbagai investigasi keselamatan oleh lembaga seperti National Transportation Safety Board dan European Union Agency for Railways menunjukkan hal penting.

Pola kerusakan sangat bergantung pada jenis kejadian—anjlok, tabrakan beruntun, hingga kebakaran di dalam rangkaian.

Dalam kondisi tertentu, distribusi kerusakan tidak terkonsentrasi di satu ujung. Kerusakan bisa menyebar atau bahkan mencapai titik maksimum di bagian lain rangkaian.

Artinya, tidak ada satu posisi yang secara konsisten paling aman. Di sinilah risiko kebijakan mulai muncul.

Mengambil satu jenis kecelakaan lalu menjadikannya dasar untuk merancang solusi universal adalah bentuk penyederhanaan yang berbahaya. Dalam analisis sistem, ini dikenal sebagai single-scenario bias.

Ini adalah kondisi mendesain kebijakan berdasarkan satu kemungkinan sambil mengabaikan yang lain. Padahal sistem transportasi dirancang justru untuk menghadapi ketidakpastian, bukan kepastian tunggal.

Jika kebijakan dibangun dari satu skenario dominan, maka ia akan rapuh ketika dihadapkan pada skenario lain. Yang lebih mengkhawatirkan adalah efek psikologisnya.

Ketika publik diyakinkan bahwa satu posisi lebih aman, maka secara tidak langsung kita menciptakan ilusi kontrol.

Ini adalah keyakinan, risiko sudah “terkelola”, padahal hanya dipindahkan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Dalam banyak studi keselamatan, ilusi semacam ini justru berbahaya. Ia mengurangi kewaspadaan sistemik karena perhatian terfokus pada satu solusi yang terlihat konkret.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sopir Green SM yang Sebabkan Temperan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek Ditahan, Tersangka?
• 10 jam laludisway.id
thumb
Pidato di Kongres AS, Raja Charles Desak AS Teguh dengan Sekutu Barat
• 16 jam laludetik.com
thumb
Ciri Kepribadian Orang yang Tidak Bisa Tidur Cepat
• 2 jam lalubeautynesia.id
thumb
Hakim Rafid Ihsan Lubis Bantah Terlibat Operasional Daycare Little Aresha di Tengah Kasus Kekerasan Anak
• 19 jam lalupantau.com
thumb
Karyawan KompasTV Korban Meninggal Kecelakaan Kereta, Dirut Sampaikan Belasungkawa
• 20 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.