Uni Emirat Arab mengumumkan keluar dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Hal ini dinilai dapat menjadi pukulan besar bagi kelompok produsen minyak tersebut di tengah krisis energi global akibat konflik dari Iran dan Amerika Serikat.
Menteri Energi Uni Emirat Arab, Suhail Mohamed al-Mazrouei menyatakan keputusan ini diambil setelah evaluasi mendalam terhadap strategi energi nasional menyusul dampak perang dari Iran dan Amerika Serikat. Uni Emirat Arab sendiri akan keluar dari organisasi terkait pada 1 Mei.
Baca Juga: Houthi Yaman Kecam 'Pembajakan' Kapal Iran: Waspada Eskalasi Bisa Sampai ke Selat Bab al-Mandeb!
"Ini adalah keputusan kebijakan yang diambil setelah meninjau secara cermat kebijakan produksi saat ini dan masa depan," ujarnya.
Mazrouei juga mengisyaratkan bahwa permintaan energi global akan terus meningkat, dan pihaknya ingin berada dalam posisi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Harga minyak global sendiri sempat memangkas kenaikan setelah pengumuman tersebut, namun dampaknya dinilai terbatas dalam jangka pendek.
Mazrouei menilai dampak langsung kecil karena ekspor minyak masih terhambat di Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital yang biasanya dilalui sekitar dua puluh persen pasokan minyak dan gas dunia.
Sebagai salah satu produsen terbesar, keluarnya negara tersebut berpotensi melemahkan kemampuan pengendalian pasokan minyak global dari OPEC. Uni Emirat Arab dengan ini juga tidak lagi terikat pada kuota produksi, sehingga berpotensi meningkatkan output minyak ketika kondisi ekspor kembali normal.
Jika Uni Emirat Arab meningkatkan produksi secara signifikan, hal ini bisa mengubah keseimbangan pasokan dan harga minyak dunia. Langkah ini menambah ketidakpastian di pasar energi global yang sudah tertekan oleh konflik dari Iran dan Amerika Serikat.
Adapun saat ini, belum ada tanda-tanda berlanjutnya negosiasi damai dari Iran dan Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dilaporkan tidak senang atas prorposal dari Iran. Ia tidak puas dengan proposal itu karena hal tersebut tidak menyentuh isu utama terkait program nuklir dari Teheran.
Proposal Iran sendiri dilaporkan mencakup penundaan pembahasan program nuklir hingga perang berakhir dan isu pelayaran di Selat Homruz. Namun, pendekatan ini bertentangan dengan posisi isu nuklir dari Washington.
Tahap awal proposal tersebut mencakup penghentian perang serta penyelesaian blokade laut dan pembukaan kembali wilayah dari Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital bagi distribusi energi global yang saat ini terganggu akibat konflik.
Iran, setelah isu keamanan dan pelayaran diselesaikan, ingin pembahasan berlanjut ke program nuklir, termasuk tuntutan pengakuan hak memperkaya uranium untuk tujuan damai.
Namun, Washington menegaskan bahwa isu nuklir harus menjadi bagian dari negosiasi sejak awal. Ia ingin hal tersebut menjadi syarat utama dalam setiap kesepakatan dari Iran dan Amerika Serikat.
Baca Juga: Jerman: Amerika Serikat Telah Dipermalukan Iran
Konflik kedua negara yang tak kunjung usai ini telah mengganggu pasokan energi global, mendorong inflasi, serta menyebabkan ribuan korban jiwa. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dunia, sehingga pembukaannya menjadi faktor krusial dalam stabilitas pasar energi global.





