Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan menelusuri apakah anak-anak korban kekerasan dan penelantaran daycare Little Aresha Yogya diberi obat tidur oleh pengasuh.
"Pendekatan lain kita bisa lewat psikolog apakah anak ini ada tanda-tanda misalkan bahwa dia harus dengan obat tertentu atau adiksi itu misalkan," kata Hasto ditemui di sela-sela mengunjungi daycare Pelangi Anak Negeri, Kota Yogyakarta, Rabu (29/4).
Pendekatan psikologis merupakan salah satu cara mengingat pendekatan patofisiologi ada batas waktunya.
"Kalau pendekatan biologis berdasarkan patofisiologis yang ada yang bisa kita periksa dari fesesnya, urinenya, atau yang lainnya mungkin tidak mudah, tidak mudah," katanya.
Obat-obatan menurut Hasto berdurasi singkat karena ada masa paruh waktu.
"Sehingga ketika obat seperti CTM misal itu CTM, itu kan dimakan tiga kali satu, artinya apa? Dalam waktu delapan jam habis. Ya makanya harus diulang lagi delapan jam kalau orang pengin dapat efek CTM. Sehingga kalau misal saya memeriksanya lebih dari delapan jam kan sudah habis gitu ya karena punya paruh waktu sendiri-sendiri obat itu," ujarnya.
Sebelumnya, Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Riski Adrian mengatakan, pihaknya masih menelusuri soal kemungkinan penggunaan obat tidur kepada anak-anak yang dititipkan di Little Aresha.
"Tadi disampaikan sama dari pihak dinas, mungkin ada mengarah ke situ (mengecek apakah diberi obat). Nanti ahli yang menyampaikan, jadi kan kita kan untuk ini kan harus berkolaborasi. Terkait masalah obat, terkait masalah psikiater, kita juga kita tidak punya kemampuan itu penyidik," kata Adrian.
Kolaborasi dengan pihak terkait digunakan untuk mencari bukti-bukti baru. Termasuk jika ada kekerasan seksual kepada anak.





