PT Kereta Api Indonesia (KAI) memastikan keselamatan seluruh penumpang merupakan prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menegaskan bahwa sebagai operator KA, pihaknya menjamin keamanan dan keselamatan secara setara tanpa membedakan gender penumpang.
Hal ini disampaikan Bobby menjawab pertanyaan wartawan tentang posisi gerbong khusus penumpang wanita yang selama ini berada di bagian paling depan dan paling belakang.
Pada Selasa kemarin, muncul usulan dari Menteri PPPA Arifah Fauzi agar posisi gerbong khusus peumpang wanita diubah menjadi di bagian tengah, menyusul serudukan KA Argo Bromo Anggrek pada gerbong khusus wanita di bagian belakang KRL rute Cikarang pada Senin (27/4) malam.
Kecelakaan ini menewaskan 15 penumpang wanita dan melukai 91 orang. Semua penumpang meninggal telah teridentifikasi dan diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.
Penempatan Posisi Gerbong Khusus WanitaBobby menjelaskan bahwa kebijakan pemisahan area penumpang perempuan di dalam rangkaian kereta api bukan didasarkan pada perbedaan tingkat risiko keselamatan teknis. Menurutnya, hal tersebut murni merupakan upaya peningkatan kualitas layanan publik.
3 Alasan Utama: Hindari PelecehanBobby kemudian merinci tiga alasan utama mengapa KAI tetap mempertahankan kebijakan pemisahan gerbong wanita di bagian depan dan belakang di tengah proses evaluasi pasca-kecelakaan.
"Selama ini kami melakukan pemisahan itu karena ada beberapa aspek. Aspek pertama adalah supaya tidak terjadi pelecehan. Yang kedua adalah memberikan kemudahan akses bagi perempuan. Yang ketiga adalah memberikan keamanan lebih karena lokasinya lebih dekat dengan petugas yang ada di ujung," jelas Bobby.





