Bisnis.com, BALIKPAPAN — Geliat pasar modal di Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan tren positif seiring membanjirnya investor baru pada awal 2026, dengan reksa dana mencatatkan lonjakan pertumbuhan lebih tajam ketimbang instrumen saham.
Menurut data yang dihimpun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, investor reksa dana pada Februari 2026 mencapai 352.195 Single Investor Identification (SID), atau melesat 12,76% dibandingkan posisi Desember 2025.
Angka pertumbuhan ini melampaui kenaikan investor saham yang tercatat 175.226 SID atau naik 8,11% dalam periode sama.
Kepala OJK Kaltim-Kaltara Misran Pasaribu menilai fenomena ini mencerminkan pergeseran preferensi investasi masyarakat yang mulai mempertimbangkan diversifikasi portofolio.
"Jumlah investor instrumen Pasar Modal tahun 2026 di Kalimantan Timur terus mengalami peningkatan di setiap triwulan, sejalan dengan tingginya minat investasi di kalangan masyarakat," kata Misran Pasaribu dalam keterangan resmi, Rabu (29/4/2026).
Kendati demikian, nilai transaksi saham masih mendominasi dengan total Rp6,16 triliun pada periode Februari 2026.
Baca Juga
- Kredit Perbankan Kaltim Tumbuh Dua Digit Meski Aset Menyusut di Februari 2026
- Penajam Paser Utara (PPU) Berharap Tuah Investasi Besar di Sekitar IKN
- Stok Beras Tembus 5 Juta Ton, Bulog Kaltim-Kaltara Optimalkan Gudang Sewa
Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan jumlah investor reksa dana lebih tinggi, aktivitas perdagangan saham tetap menjadi primadona dari sisi nilai nominal.
Secara spasial, investor Kaltim belum mengalami perubahan signifikan, di mana Balikpapan dan Samarinda tetap menguasai pangsa investor terbesar untuk kedua instrumen.
Kota minyak itu mencatatkan 52.321 SID saham dan 92.646 SID reksa dana, sementara Ibu Kota Provinsi menyumbang 48.401 SID saham dan 90.452 SID reksa dana.
Misran mengungkapkan data penjualan reksa dana oleh Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) di Kaltim per Desember 2025 mencapai Rp856,31 miliar.
Dia melanjutkan, sektor Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) juga memperlihatkan kinerja stabil.
Jumlah pihak terjamin dari perusahaan penjaminan meningkat menjadi 755 pada Februari 2026 dengan nilai penjaminan Rp53,27 miliar.
Dana pensiun juga menunjukkan pengelolaan yang solid, dengan Rp2,23 triliun dari total aset Rp2,29 triliun telah diinvestasikan.
Menurutnya, rasio investasi sebesar 97,38% ini mencerminkan optimalisasi aset yang cukup agresif.
Sementara itu, industri asuransi jiwa dan umum masih dalam kondisi sehat dengan rasio klaim terhadap premi yang terjaga.
Asuransi jiwa mencatat total klaim Rp132,35 miliar berbanding premi Rp353,87 miliar, sedangkan asuransi umum membukukan klaim Rp64,95 miliar dari premi Rp185,29 miliar.
Selanjutnya, sektor Pembiayaan dan Ventura Modal serta Lembaga Keuangan Lainnya (PVML) menunjukkan ekspansi berkelanjutan.
Kontrak pembiayaan yang disalurkan perusahaan multifinance naik dari 3,07 juta menjadi 3,21 juta kontrak pada Februari 2026, dengan outstanding pembiayaan Rp26,85 triliun dan Non-Performing Financing (NPF) terkendali di level 2,50%.
Adapun platform peer-to-peer (P2P) lending mencatat 457.210 akun penerima pinjaman dengan outstanding Rp1,40 triliun dan rasio Tunggakan Wajib Bayar 90 hari (TWP90) sebesar 1,66%.





