Sejarah kelam telah tercatat. Untuk pertama kalinya, Indonesia terhenti di fase grup Piala Thomas. Setelah 31 kali ikut serta, ini adalah catatan terburuk.
Makin buruk mengingat Indonesia merupakan pemegang gelar juara Piala Thomas terbanyak dengan 14 kali. Empat gelar lebih banyak dari China yang berada di posisi kedua.
Di Horsens, Denmark, Selasa (28/4) malam WIB, Indonesia di luar dugaan hancur lebur dilibas Prancis 1-4. Dari lima partai, hanya Fajar Alfian/Shohibul Fikri yang mampu meraih poin.
Di balik kekalahan itu, terselip pertanyaan, mengapa tiga partai awal dimainkan tunggal putra semua?
Berdasarkan Regulations for Thomas Cup & Uber Cup, susunan pemain Piala Thomas mengikuti format 'tiga tunggal dan dua ganda'. Sebelum pertandingan, setiap tim yang akan bertanding menyerahkan daftar pemain (line-up) kepada panita pertandingan.
Urutan pertandingan biasanya adalah Tunggal 1, Ganda 1, Tunggal 2, Ganda 2, dan Tunggal 3. Akan tetapi, susunan itu masih bisa diubah mempertimbangkan partisipasi pemain di nomor tunggal dan ganda. Susunan tim kemudian difinalisasi berdasarkan peringkat pemain dan strategi.
Nah, dalam susunan line-up, strategi juga dimainkan. Pada laga Indonesia vs Prancis, urutan pertandingan berubah menjadi Tunggal 1, Tunggal 2, Tunggal 3, Ganda 1, dan Ganda 2.
Hal itu memungkinkan terjadi karena Prancis menaruh satu pemain untuk bermain di dua nomor sekaligus yakni Christo Popov. Ia diturunkan sebagai Tunggal 1 dan Ganda 2. Sementara, Indonesia menurunkan pemain berbeda di tiap nomornya.
Penetapan line-up tersebut juga mempertimbangkan faktor recovery pemain karena Popov sudah bermain di awal partai, sehingga bisa kembali bermain pada partai akhir.
Strategi Prancis pun jitu. Tiga tunggal mereka mampu memenangi laga. Begitu pula dengan ganda pertama yang turun. Prancis hanya kehilangan kemenangan pada partai terakhir.





