-
-
-
-
-
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menuai kritikan publik usai menyarankan penempatan gerbong Kereta Rel Listrik (KRL) khusus wanita dipindah agar tidak berada di depan dan belakang rangkaian. Usulan ini merupakan respon usai kecelakaan maut KA Argo Bromo Anggrek dan KRL rute Jakarta-Cikarang di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/26) malam.
Arifah Fauzi lantas menyarankan bahwa gerbon khusus wanita berada di posisi tengah agar lebih aman.
"Kalau bisa yang perempuan jangan di depan dan belakang. Jadi kalau bisa di posisi di tengah, jadi posisi paling tengah, untuk gerbongnya ya. Supaya juga lebih safe dan aman," ujar Arifah Fauzi.
Bukan hanya masyarakat, rupanya pernyataan Arifah Fauzi juga menuai respon dari Menko Infra, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Alih-alih mengubah posisi gerbong, AHY justru menyoroti perlunya evaluasi pascainsiden kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek.
Menurut AHY, kecelakaan ini tidak hanya menyoroti keselamatan suatu gender tertentu namun memang keselamatan seluruh penumpang harus dijaga, baik laki-laki maupun perempuan.
"Ini juga bagian yang akan kita terus evaluasi, tapi yang jelas adalah laki dan perempuan sama saja, tidak boleh menjadi korban dalam insiden apa pun," kata Agus Harimurti Yudhoyono, dikutip dari Youtube Cumicumi.
Selain itu, AHY meminta agar kejadian ini menjadi perhatian serius pemerintah. Terlebih karena gerbong khusus wanita justru berada di posisi paling terdampak.
"Ada tubrukan antara KRL dari belakang dihantam oleh kereta api jarak jauh. Dan kebetulan yang paling belakang adalah gerbong kereta khusus wanita. Jadi pasti ada concern mengapa justru yang paling rentan yang kita siapkan secara khusus selama ini gerbongnya, justru yang mendapatkan, bisa dikatakan resiko yang paling tinggi," jelas AHY.
Namun, AHY menegaskan bahwa menegaskan fokus pemerintah bukan pada pemisahan penumpang laki-laki dan perempuan, melainkan memastikan sistem transportasi publik benar-benar aman.
"Jadi yang kita fokuskan adalah bukan perempuan dan laki-lakinya, tetapi bagaimana sistem transportasi kereta dan sistem transportasi publik lainnya ini aman, selamat. Menghadirkan rasa aman, nyaman dan juga safety first itu benar-benar bukan hanya menjadi jargon, tapi benar-benar bisa kita terapkan dengan baik,"pungkasnya. (ND)





