Proposal Perdamaian Parsial Iran ke Amerika Serikat

rctiplus.com
1 jam lalu
Cover Berita
Proposal Perdamaian Parsial Iran ke Amerika SerikatNasional | okezone | Rabu, 29 April 2026 - 18:39Dengarkan Berita

[Penulis: Ridwan Al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE)]

ARAH negosiasi diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) masih kabur. Di tengah jeda perang antara Iran dan AS, Iran telah mengajukan sebuah proposal damai tertulis kepada AS. Iran mengajukan tiga tuntutan dengan pendekatan bertahap, yaitu meredakan eskalasi militer dengan memberlakukan gencatan senjata permanen ke Iran dan Lebanon, membuka kembali Selat Hormuz, dan menunda pembahasan program nuklir ke fase berikutnya. Di sisi lain, AS merespons dengan penolakan yang tidak kalah tegas. Washington menilai bahwa isu nuklir justru harus menjadi pintu masuk utama, bukan ditunda. Tulisan ini mencoba mengulas “perdamaian parsial” ini.

Baca Juga:Ikuti Google Maps, Mobil Pemudik Asal Jakarta Tercebur ke Sungai di Brebes

Tawaran Iran tampaknya masuk akal, di mana ia paham betul bahwa dunia akan menjerit jika Selat Hormuz terblokade. Namun, blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran telah menghilangkan pemasukan Iran USD500 juta per hari, yang membuat Iran meradang. Karenanya, mereka menutut ini. Di sini, Iran bermain cerdas bahwa mereka tidak butuh izin AS untuk urusan nuklir. Mereka hanya butuh napas dan menginginkan dunia lupa bahwa di balik tawaran membuka Selat itu, sentrifugasi tetap berputar, pengayaan uranium tetap berjalan, dan inspeksi tim pengawas nuklir (IAEA) tetap dihambat.

Memang, Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran. Ia adalah urat nadi energi dunia. Lebih dari itu, ia adalah simbol kekuatan sekaligus kerentanan global. Ketika Iran menjadikannya sebagai instrumen tawar menawar, pesan yang ingin disampaikan jelas bahwa stabilitas kawasan bisa dinegosiasikan. Namun, hemat penulis stabilitas semacam ini bersifat teknis, bahkan transaksional. Ia sama sekali tidak menyentuh akar dari ketegangan yang telah lama membelah kedua pihak—yakni persoalan nuklir dan krisis kepercayaan yang menyertainya.

Baca Juga:Garis Depan Tak Terlihat: Perang Algoritmik dan Kehancuran Atas Kemanusiaan

Tawaran Iran tampaknya bersikap jebakan dan AS akan mernolak itu. “Buka jalur minyak dulu, bicarakan yang lain nanti”, kata mereka. Ini adalah logika pragmatisme yang memabukkan. Sejarah mengajarkan bahwa ketika Korea Utara diajak step-by-step, yang terjadi bukan denuklirisasi, tetapi “pembelian waktu”. Kini Iran mencoba resep yang sama. Bedanya, Iran lebih terang-terangan dan lebih percaya diri karena ia punya kartu Hormuz, yang tak dimiliki Pyongyang. Ini bukan sekadar soal siapa yang lebih licik. Ini soal integritas diplomasi itu sendiri. Iran perlu mendapatkan pujian karena berani mengajukan proposal—meski setengah hati. Tetapi, kekurangan terbesarnya adalah ketidaksediaan menyentuh isu nuklir sebagai akar dari ketidakpercayaan.

Sebaliknya, pastinya AS akan menolak mentah-mentah proposal tersebut. Dan penolakan itu justru jujur. Namun, sikap ini juga menyimpan kekakuan yang problematis. Dengan menolak pendekatan parsial, AS secara tidak langsung menutup kemungkinan de-eskalasi jangka pendek yang bisa mencegah konflik meluas melamapui kawasan.

Baca Juga:Kasus Ijazah Jokowi, Polda Metro Jaya Digugat Citizen Lawsuit oleh Belasan Purnawirawan TNI

Di sinilah letak problem utama dari proposal Iran tersebut. Dengan menunda isu nuklir, Iran tidak bermaksud menyelesaikan konflik, melainkan menggesernya ke waktu yang tidak pasti. Ini bukan strategi baru. Dalam banyak kasus, diplomasi memang kerap memilih jalan bertahap untuk menghindari kebuntuan total. Tetapi, dalam konflik yang telah berlarut-larut dan sarat kecurigaan, apa yang ditunda sering kali tidak pernah benar-benar diselesaikan. Hanya menunda untuk saling menggempur.

Sejarah konflik Timur Tengah mengajarkan bahwa gencatan senjata tanpa resolusi yang fundamental acap berakhir sebagai jeda taktis. Bukan transformasi strategis. Ia tidak saja memberi ruang menghela napas, tetapi juga memberi waktu bagi konflik untuk beradaptasi dan menemukan bentuk baru. Dalam konteks ini, proposal Iran berisiko menciptakan ilusi diplomasi, yang AS tapaknya akan menolaknya. Dan, penolakan itu justru jujur. Sebab, membuka Hormuz tanpa menyelesaikan masalah nuklir seperti membuka pintu rumah bagi pencuri dengan imbalan ia tidak merusak teras, sedangkan di dalam ia tetap meracik bom. Kira-kira demikian, yang ada di pikiran AS. 

Baca Juga:BMKG: Waspada Gelombang Tinggi di Perairan Indonesia pada 29 Maret hingga 1 April 2026!

Namun, sikap ini juga menyimpan kekakuan yang problematis. Dengan menolak pendekatan parsial, AS secara tidak langsung menutup kemungkinan de-eskalasi jangka pendek yang bisa mencegah konflik meluas. Akhirnya, kedua pihak terjebak dalam logika yang saling mengasikan, meniadakan. Iran menawarkan perdamaian yang mungkin dicapai, tetapi tidak cukup mendalam. AS menuntut perdamaian yang menyeluruh, tetapi sulit diwujudkan dalam waktu dekat. Di antara keduanya, diplomasi kehilangan fleksibilitas sekaligus keberanian. 

Dunia akan kembali menyaksikan paradoks yang berulang, di mana semua pihak berbicara tentang perdamaian, tetapi dengan definisi yang berbeda. Bagi Iran, perdamaian dimulai dari stabilitas kawasan dan normalisasi ekonomi. Bagi AS, perdamaian hanya mungkin jika ancaman nuklir diselesaikan terlebih dahulu. Kedua pendekatan ini tidak sepenuhnya salah. Namun tanpa titik temu, keduanya justru hanya memperpanjang kebuntuan.

Pungkasannya, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan bukan lagi apakah proposal Iran realistis, melainkan apakah ia memadai? Realisme dalam diplomasi acap berarti menerima keterbatasan. Namun, ketika keterbatasan itu berubah menjadi kebiasaan untuk menghindari inti persoalan, maka diplomasi kehilangan maknanya sebagai alat penyelesaian konflik. Tampaknya dunia mesti menunggu lebih lama untuk penghentian senjata permanen.

#nasional

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
VinFast Indonesia Buka Suara Soal Insiden Taksi Green SM di Perlintasan Kereta
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Selidiki Keterlibatan Taksi Green SM dalam Kecelakaan Tabrakan Kereta Bekasi, Kemenhub Bentuk Tim Khusus
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
5 Weton yang Diramal Paling Apes pada Tanggal 29 April 2026, Hindari Bepergian Jauh?
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Datangi Markas PBNU, Forum PWNU Desak Muktamar Digelar Paling Lambat Agustus 2026
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
Spesifikasi VinFast VF e34, Mobil Listrik yang Dipakai Green SM
• 5 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.