BEKASI, KOMPAS.com — Pelintasan sebidang Ampera di Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, yang telah menjadi bagian dari aktivitas warga sejak era 1980-an, kini berubah menjadi sorotan setelah kecelakaan besar melibatkan KRL dan taksi listrik Green SM di lokasi tersebut.
Peristiwa itu diduga menjadi bagian dari rangkaian kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Jakarta–Cikarang pada Senin (27/4/2026) malam.
Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi, pelintasan tersebut sebelumnya hanya dijaga secara sederhana menggunakan bambu atau gala sebagai palang.
Baca juga: Usai Tragedi KRL vs KA di Bekasi, Pemkot Akan Tutup Pelintasan Ampera–Bulak Kapal
Pengawasan pun dilakukan secara swadaya oleh warga sekitar yang bergantian berjaga selama 24 jam. Tercatat sekitar 30 penjaga tidak resmi selama ini mengandalkan kewaspadaan manual untuk mengatur arus lalu lintas di pelintasan tersebut.
Namun, pascakecelakaan, wajah pelintasan berubah. Kini, pembatas besi dan palang logam telah dipasang di sekitar rel sebagai bentuk pengetatan pengamanan di lokasi yang sebelumnya terkesan minim fasilitas keselamatan.
Ratno (56), warga yang tinggal tak jauh dari pelintasan, mengatakan lokasi tersebut selama ini relatif aman meski pernah terjadi sejumlah insiden kecelakaan.
“Pelintasan di sini sudah lama, dan aman-aman saja. Kejadian kecelakaan memang bukan pertama kali, tapi ini yang paling parah,” ujar Ratno saat ditemui di lokasi, Kamis (30/4/2026).
Ia menceritakan detik-detik sebelum kecelakaan terjadi. Menurutnya, taksi yang berhenti di rel bukan karena menerobos palang, melainkan mengalami kendala teknis.
“Kalau dibilang nerobos ya enggak ya karena kereta masih jauh. Tapi mobilnya mogok. Mobil matic enggak bisa didorong, enggak kuat,” katanya.
Baca juga: Buntut Kecelakaan Kereta, Dedi Mulyadi Desak Polisi Tertibkan Ormas di Pelintasan Sebidang
Ratno menjelaskan, selama sekitar lima menit warga dan penjaga pelintasan berupaya mendorong kendaraan tersebut agar keluar dari rel. Bahkan, sopir taksi ikut membantu. Namun, upaya itu tidak berhasil.
“Orang teriak-teriak, ‘Kereta! Kereta!’, kami dorong-dorong enggak kuat. Enggak lama saya dengar suara ‘brok’ keras banget,” ucapnya menggambarkan momen benturan yang mengejutkan warga sekitar.
Pasca kejadian, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi bersama pihak KAI berencana menutup pelintasan sebidang tersebut setelah pembangunan flyover Bulak Kapal rampung.
Namun, rencana penutupan itu memunculkan beragam respons dari warga. Sebagian memahami langkah tersebut sebagai upaya peningkatan keselamatan, tetapi tidak sedikit yang khawatir terhadap dampak aksesibilitas sehari-hari.
“Kalau ditutup, aksesnya jadi jauh. Kami harus muter, dan yang tadinya rumah di depan, ini jadi belakang,” kata Ratno.
Meski demikian, ia menyerahkan keputusan kepada pemerintah dengan harapan keselamatan tetap menjadi prioritas utama.





