PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencatatkan kinerja positif pada kuartal I 2026 dengan laba bersih sebesar Rp 15,5 triliun, atau tumbuh 13,7 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengatakan capaian tersebut ialah hasil dari transformasi yang dijalankan secara konsisten dan hati-hati.
“Transformasi yang kita lakukan ini kita jalankan dengan serius dan penuh kehati-hatian dan juga untuk membawa BRI yang lebih baik lagi hal ini tercermin pada kinerja keuangan konsolidasi hingga akhir triwulan 1 2026 tetap menunjukkan tren positif,” ujar Hery dalam konferensi pers secara daring, Kamis (30/4).
Dari sisi neraca, total aset BRI tumbuh 7,2 persen secara tahunan menjadi Rp 2.250 triliun. Sementara itu, dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 9,4 persen yoy menjadi Rp 1.555 triliun.
Kata Hery, pertumbuhan DPK didorong oleh peningkatan dana murah atau current account saving account (CASA), yang naik dari Rp 934,9 triliun pada kuartal I 2025 menjadi Rp 1.058,6 triliun pada kuartal ini, atau tumbuh 13,2 persen yoy.
“Pencapaian DPK tersebut ditopang oleh dana murah atau CASA, current account dan saving account yang tumbuh signifikan,” ungkapnya.
Di sisi penyaluran kredit, BRI mencatat pertumbuhan sebesar 13,7 persen yoy menjadi Rp 1.562 triliun. Segmen UMKM tetap menjadi tulang punggung pembiayaan dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun.
Kinerja operasional juga menunjukkan penguatan. Pre-Provision Operating Profit (PPOP) tercatat tumbuh 7,7 persen yoy menjadi Rp 32,2 triliun.
Selain itu, kualitas aset mengalami perbaikan. Rasio Loan at Risk (LAR) menurun dari 11,1 persen pada kuartal I 2025 menjadi sekitar 9,7 persen pada kuartal I 2026.
Dari sisi biaya dana, cost of fund turun dari 3 persen menjadi 2,3 persen. Sementara itu, cost of credit juga membaik dari 3,5 persen menjadi 3,2 persen, seiring peningkatan kualitas aset dan penurunan beban pencadangan.
Perbaikan turut mendorong peningkatan profitabilitas. Return on Asset (ROA) naik menjadi 2,8 persen, sedangkan Return on Equity (ROE) meningkat dari 17,1 persen menjadi 18,4 persen.
Pada sisi pendapatan bunga, net interest income (NII) tumbuh 11,9 persen yoy, dari Rp 35,884 triliun pada kuartal I 2025 menjadi Rp 40,155 triliun pada kuartal I 2026.





