JAKARTA, KOMPAS – Sejumlah sekolah menengah kejuruan menyiapkan siswanya untuk memenuhi kebutuhan sumber daya di bidang kemaritiman. SMK Perikanan dan Kelautan Puger di Jember, Jawa Timur, salah satunya, mengirimkan 21 alumninya ke Jepang untuk magang di sektor maritim.
Hal ini sejalan dengan upaya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang tengah memperkuat mutu dan keterserapan lulusan pendidikan tinggi bidang kemaritiman.
Setiap tahun SMK Perikanan dan Kelautan Puger ini mengirimkan alumninya ke Jepang. Sekolah ini menjadi salah satu penyelenggara pendidikan vokasi bidang kemaritiman yang menyiapkan SDM kelautan global di bidang perkapalan dan perikanan.
Ketua Yayasan Pendidikan SMK Perikanan dan Kelautan Puger, Kuntjoro Dhiya'uddin saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (30/4/2026), mengatakan, “Ini saya mengantarkan 21 alumni untuk magang kontrak kerja di Jepang, sekaligus reuni alumni di Jepang. Ada kesempatan juga nanti mengunjungi industri dan menandatangani nota kesepahaman terkait pengiriman lulusan kami yang terus berlanjut,”.
Menurutnya, untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang siap masuk di pasar kerja kemaritiman, perlu dilakukan sejak di masa sekolah. Hal itu mulai dari pendidikan terkait dengan kompetensi yang diakui internasional, karakter, budaya kerja, hingga pengenalan budaya dan bahasa Jepag dari alumni.
Pada 2022, hasil kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, menunjukkan nilai produk domestik bruto (PDB) kemaritiman pada 2020 sebesar Rp 1.212 triliun atau 11,31 persen dari PDB nasional senilai Rp 10.722 triliun.
Nilai PDB kemaritiman itu turun Rp 19 triliun dibandingkan dengan tahun 2019 sebesar Rp 1.231 triliun sebagai dampak pandemi. Untuk mewujudkan visi Indonesia emas tahun 2045, maka Indonesia didorong menjadi pusat kemaritiman.
Indonesia merupakan penghasil perikanan laut terbesar ke-2 dunia, serta pemasok 3 persen dari pasar ekspor makanan laut global.
Apalagi, ekosistem laut dan pesisir Indonesia berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Indonesia merupakan penghasil perikanan laut terbesar ke-2 dunia, serta pemasok 3 persen dari pasar ekspor makanan laut global. Nilai ekspor kemaritiman berkisar 4,8 miliar dollar AS.
Sebelumnya, guna memperkuat mutu dan keterserapan lulusan pendidikan tinggi bidang kemaritiman, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menggelar Rapat Koordinasi Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Maritim. Rapat ini turut melibatkan mitra industri seperti INSA, Pelindo, dan Pertamina.
Pertemuan pemerintah, pendidikan, dan industri terkait maritim ini untuk mendukung pengembangan SDM maritim agar semakin berbasis kebutuhan nyata lapangan. Tujuannya agar dunia usaha tidak lagi menjadi pihak penerima, tetapi turut menjadi mitra strategis dalam proses pendidikan.
Apalagi di kancah internasional, peluang untuk menyerap lulusan pendidikan vokasi maritim terbuka luas. Industri pelayaran dunia saat ini masih menghadapi kekurangan puluhan ribu tenaga kerja terampil, khususnya pada level perwira. Kebutuhan ini diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan, membuka ruang besar bagi Indonesia sebagai salah satu negara pemasok tenaga kerja maritim dunia.
“Masa depan sektor maritim Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan pendidikan tinggi dalam beradaptasi dengan dinamika global dan kebutuhan industri,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemendiktisaintek, Khairul Munadi.
Lebih lanjut Khairul mengatakan momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat konsolidasi dan kolaborasi antar-institusi pendidikan maritim. “Tujuananya untuk mendorong transformasi pendidikan vokasi yang berorientasi pada lulusan yang terserap dan berdaya saing, dalam menangkap berbagai peluang yang ada,” kata Khairul.
Sementara itu, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemendiktisaintek, Beny Bandanadjaja, menegaskan, masa depan pendidikan vokasi maritim ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan talenta siap kerja dan berdaya saing global.
“Pendidikan vokasi maritim harus menjadi jalur utama penyiapan talenta global Indonesia. Karena itu, penguatan kolaborasi antarperguruan tinggi menjadi kunci agar lulusan terserap optimal, baik di pasar kerja nasional maupun internasional,” ujarnya.
Masa depan pendidikan vokasi maritim ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan talenta siap kerja dan berdaya saing global.
Staf Khusus Menteri Bidang Jejaring Industri dan Kerjasama Luar Negeri Kemendiktisaintek, Oki Earlivan Sampurno, mengatakan peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat kolaborasi, meningkatkan relevansi kurikulum, dan memastikan lulusan vokasi semakin siap menjawab kebutuhan pasar, baik di dalam maupun luar negeri.
“Kita melihat masih ada kesenjangan dalam menyelaraskan lulusan (supply) dengan kebutuhan industri, khususnya di sektor kemaritiman. Ini menjadi tantangan kita bersama untuk merumuskan langkah konkret,” kata Oki.





