Dirut BRI: Enggak Usah Lihat Harga Saham Naik Turun

idxchannel.com
3 jam lalu
Cover Berita

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) tertekan seiring dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) tertekan seiring dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: iNews Media/Anggie Ariesta)

IDXChannel - Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI) tertekan seiring dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan saham perbankan secara sektoral.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi menegaskan, fundamental bisnis BRI masih solid, sehingga investor tak perlu khawatir dengan investasinya di BRI selama tidak berorientasi jangka pendek. Dia menilai, fluktuasi harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan hal yang biasa.

Baca Juga:
Bos BRI Optimistis Ekonomi RI Resilien di Tengah Gejolak Geopolitik

"Anda enggak usah terlalu lihat, karena kita seperti saya juga adalah investor yang jangka menengah dan jangka panjang. Kita enggak usah lihat harga saham naik turun, naik turun itu bikin namanya tekanan darah naik juga begitu kan, stresnya naik," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (30/4/2026).

Hery menyarankan investor untuk mencermati fundamental perusahaan. Selain itu, dia juga menitikberatkan tingginya imbal hasil dividen (dividend yield) saham BBRI yang sangat tinggi, bahkan menyentuh dua digit.

Baca Juga:
BRI Cetak Laba Bersih Rp15,5 Triliun di Kuartal I-2026, Naik 13,7 Persen

Menurut Hery, dengan performa laba yang solid, BRI mampu memberikan tingkat pengembalian (return) yang jauh di atas instrumen investasi lainnya.

"Walaupun harga saham tadi dikatakan bahwa ada mengalami tekanan di bawah sekitar 15-16 persen, enggak usah dilihat itu, (lihat) dividend ratio-nya dan dividen kita kan cukup bagus ya, jadi paling tidak bisa memberikan antara 10-11 persen return per tahun. Mau cari investasi di mana sebesar itu? Deposito saja mungkin hanya 7 persen. Reksa dana pasar uang mungkin sekitar 5,5-6 persen," katanya.

Dia meyakini tekanan pada saham BBRI bersifat sementara. Saat kondisi makroekonomi membaik, baik secara global maupun lokal, harga saham perusahaan berfundamental akan otomatis kembali naik mengikuti indeks.

Sementara itu, Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi sebelumnya menjelaskan bahwa pelemahan harga saham BBRI saat ini merupakan refleksi dari dinamika pasar modal secara luas dan persepsi investor global, bukan penurunan kinerja internal.

Royadi menegaskan bahwa dari sisi laporan keuangan kuartal I 2026, BRI berada dalam posisi yang sangat kuat dengan pertumbuhan laba bersih mencapai 13,7 persen.

"Jadi kalau kita melihat ya, kalau melihat dari fundamental yang bagus, kami mencermati bahwa ini lebih ke faktor S&L (supply and demand) dibandingkan dengan faktor fundamental sendiri. Dari sisi fundamental kita juga selain kita yang bagus, kita juga kemarin baru di RUPS mengumumkan bahwa kita membagi dividen yang rasionya juga cukup tinggi ya, 92 persen dari laba tahun 2025," kata Royadi.

(Rahmat Fiansyah)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gaming Jadi Mesin Uang Baru Bukalapak, Sumbang Lebih dari 80% Pendapatan
• 17 jam lalukatadata.co.id
thumb
Imbas Sentimen Global dan Rupiah, IHSG Ambruk 2% Lebih
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
ASN Wajib Lapor Harta Kekayaan, Hari Ini Terakhir!
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Perkuat Bisnis Minim Emisi, SIG (SMGR) Produksi Semen Hijau Rendah Karbon hingga 38 Persen
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
Menteri Pariwisata puji nilai historis Bukittinggi dan Jam Gadang
• 15 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.