Amerika Serikat kembali buka suara terkait dengan tekanan ekonominya yang dilakukan terhadap Iran. Pihaknya mengumumkan telah menyita hampir setengah miliar dolar dalam bentuk aset kripto dari Teheran.
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, mengatakan pihaknya telah mengamankan aset kripto senilai sekitar US$350 juta. Sebelumnya, pihaknya juga telah menyita aset negara itu sebesar US$100 juta.
Baca Juga: Gegara Kritik Operasi Iran, Amerika Serikat Mau Tarik Pasukannya di Jerman
“Kami berhasil mengambil sekitar US$350 juta aset kripto, ditambah sekitar US$100 juta lainnya, jadi totalnya hampir setengah miliar dolar,” ujarnya.
Langkah ini merupakan bagian dari kampanye tekanan ekonomi yang disebut Operation Economic Fury.Menurut Bessent, kebijakan tersebut hadir sejak tahun lalu dan kembali diperketat dalam beberapa pekan terakhir.
Selain penyitaan aset kripto, pihaknya juga melakukan pembekuan rekening bank yang terkait dengan Iran. Washington juga meningkatkan tekanan terhadap negara dan perusahaan yang masih berbisnis dengan Teheran.
Bessent menegaskan pihaknya juga siap menerapkan sanksi sekunder terhadap pihak yang tetap membeli minyak dari Iran. Langkah ini menyasar jaringan ekonomi negara tersebut secara luas, termasuk sektor energi, perbankan, dan perdagangan internasional.
Ia mengklaim tekanan ekonomi tersebut telah mendorong pemerintahan negara itu ke dalam kondisi krisis. Kampanye ekonomi ini berjalan bersamaan dengan blokade laut terhadap pelabuhan dari Iran.
Bessent menyebut kombinasi sanksi dan blokade berpotensi menimbulkan kerusakan permanen pada ekonomi dari Teheran. Meski demikian, langkah ini juga meningkatkan ketegangan ekonomi global, terutama di sektor energi dan keuangan.
Sebelumnya, Iran buka suara terkait dengan blokade laut yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Menurutnya, blokade tersebut tidak akan efektif mengingat pihaknya dapat terus memompa minyak di Teheran.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai langkah blokade untuk menghentikan ekspor minyak negaranya belum memberikan dampak signifikan terhadap kapasitas penyimpanan minyak negara tersebut.
“Tiga hari berjalan, tidak ada sumur yang meledak. Kami bahkan bisa memperpanjangnya hingga satu bulan dan menyiarkannya langsung,” ujarnya.
Ia juga mengkritik kebijakan yang sebelumnya menyebut blokade akan memberikan tekanan besar terhadap Iran. Ghalibaf menyebut kebijakan tersebut didasarkan pada persepsi yang keliru.
Menurut Ghalibaf, dampak nyata dari kebijakan tersebut justru terlihat pada lonjakan harga minyak global. Ia menyebut harga telah terdorong hingga di atas US$120 per barel dan berpotensi naik lebih tinggi.
Baca Juga: Uni Eropa: Konflik Iran-Amerika Serikat Akan Berdampak Panjang
Ghalibaf menilai strategi blokade justru merugikan pasar global dan memperburuk ketidakstabilan energi. Pernyataan ini mencerminkan meningkatnya tensi dalam perang ekonomi antara Iran dan Amerika Serikat.





