Mendengar kata Tanjung Lesung di Kabupaten Pandeglang, Banten yang terlintas di kepala kita pasti keindahan alam seperti pantai, matahari terbenam olahraga air serta aneka hidangan laut yang segar.
Namun ada yang beda ketika kami berkunjung ke Tanjung Lesung pada pertengahan April lalu. Siapa sangka, di daerah pesisir Citeureup, Kecamatan Panimbang itu terdapat perkebunan vanili (Vanilla planifolia).
Kebun yang mulai dibuka sejak tahun 2021 itu dikembangkan oleh PT Persaudaraan Anak Bangsa (PAB). Perusahaan yang bergerak di sektor hulu dan hilir vanili ini merupakan kelompok bisnis dari PT Royal Agro Industri (RAI), perusahaan agribisnis terintegrasi milik JHL Group.
Kebun seluas 300 hektar itu memiliki tiga area utama yaitu kebun induk, kebun produksi, serta pabrik pengolahan yang masih dibangun. Kebun induk dan kebun produksi ini dikelola dalam shading house atau rumah peneduh untuk tanaman.
Tanaman vanili pada kebun induk berfungsi untuk menghasilkan benih unggul yang kemudian ditanam ke area kebun produksi.
Penanaman bibit vanili di rumah peneduh (shading house) di pusat perkebunan dan pembibitan vanili PT Persaudaraan Anak Bangsa (PAB) di Citeureup, Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten, Jumat (17/4/2026).
Perawatan tanaman vanili (Vanilla planifolia) berusia 1,5 tahun di pusat perkebunan dan pembibitan vanili PT Persaudaraan Anak Bangsa (PAB) di Citeureup, Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten, Jumat (17/4/2026).
Buah vanili (Vanilla planifolia) hijau sebelum dikeringkan.
Saat kami berkunjung, para pekerja tengah mempersiapkan lahan penanaman yang dilengkapi rambatan bagi tanaman vanili di dalam rumah peneduh yang rangkanya terbuat dari baja ringan. Selain itu rumah peneduh tanaman vanili ini juga dilengkapi atap transparan yang dibalut paranet pada bagian atap dan dindingnya.
Penutup itu digunakan untuk mengurangi panas namun tetap mendapat sinar matahari yang cukup serta untuk menghindari curah hujan berlebih. Penyiramannya pun menggunakan pipa penyiraman otomatis yang terpasang di bagian atas rambatan tanaman. Tanaman vanili memang membutuhkan naungan agar dapat berproduksi secara maksimal.
Sementara itu, di rumah peneduh lain, Deni, salah seorang pekerja dengan teliti memeriksa setiap tanaman vanili. Sesekali ia memperbaiki posisi rambatan vanili. Dengan berbekal cutter ia membuang daun-daun yang layu dan kering.
Saat ini terdapat 37 rumah pembibitan untuk merawat tanaman hingga berbuah. Setiap rumah seluas 2.500 meter persegi ditanami 3.300 batang vanili yang tumbuh merabat.
”Rencananya, kami akan membangun 100 shading house,” ucap Anna Valentina, Chief Executive Officer PT RAI. Saat ini, tanaman vanili baru berusia sekitar 1,5 tahun. Dibutuhkan tiga hingga empat tahun agar tanaman berproduksi dengan hasil 1-4 kilogram vanili basah per tanaman.
Setelah melihat proses budidaya vanili, rombongan bergeser ke area pabrik untuk pengolahan pascapanen. Lokasi pabrik itu masih berada di satu lokasi yang sama. Hanya saja letaknya yang agak tersembunyi di bagian belakang dan berseberangan dengan area kebun.
Jika dilihat dari udara menggunakan drone, terdapat satu bangunan utama yang berukuran paling besar serta empat bangunan lainnya yang berukuran lebih kecil. Bangunan pabrik yang tengah dalam pembagunan itu dipagari melingkar di lahan seluas 5 hektar.
Pabrik ini nantinya mampu menghasilkan 40 ton vanili kering dalam satu siklus produksi, yang berlangsung empat sampai enam bulan. Tahapan pengolahan pascapanen cukup panjang. Mulai dari penyeleksian vanili hijau, pembersihan, pemasakan, fermentasi sebanyak dua kali, pengeringan dengan sinar matahari, hingga pengemasan.
Berat 1 kilogram vanili basah pun susut menjadi 200 gram saat kering. Vanili yang tadinya berbentuk lonjong dan hijau mirip buncis akan berubah menjadi hitam dan berkerut. vanili kering mengeluarkan aroma harum. Tidak mengherankan, jika vanili menjadi komoditas ekspor untuk baha baku parfum dan bahan makanan.
”Itulah kenapa, vanili ini dikatakan ’emas hitam’ (saat kering),” ucap Anna. Ketika baru dipanen, tanaman ini juga disebut ”emas hijau”.
Serupa emas, penanganan tanaman ini cukup kompleks. Kelembaban udara hingga air harus dipantau ketat. Penyerbukannya pun dibantu oleh manusia.
Seperti emas, harga tanaman ini pun tidak main-main. Maklum, vanili kerap dikirim ke luar negeri sebagai bahan baku parfum hingga aneka panganan. ”Harganya fluktuatif, tergantung kualitasnya. Harganya bisa Rp 1,5 juta-Rp 4 juta per kilogram untuk vanili kering,” ujarnya.
PT PAB telah mengolah dan megekspor vanili kering ke China. Selama ini bahan baku diperoleh dari para petani vanili di sejumlah daerah Indonesia. Lalu Vanili itu diolah di pabrik milik perusahaan di Pagedangan, Tangerang.
Anna yakin, perkebunan vanili seluas 300 hektar yang dilengkapi dengan pabrik pengolahannya bakal menghasilkan puluhan ton vanili kering siap ekspor. Adapun tanaman di kebun itu mulai panen tahun 2027. ”Kami juga akan tetap menyerap panen dari petani,” ujarnya.
Kehadiran kebun hingga pabrik vanili di Pandeglang tidak hanya mengembangkan sektor hulu dan hilir komoditas itu, tetapi juga memberdayakan warga lokal. Di area perkebunan saja, setidaknya terdapat 67 warga yang bekerja. Sebagian besar adalah warga daerah Panimbang dan sekitarnya.
Jumlah itu akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya proses produksi jika kebun mulai panen maksimal serta beroperasinya pabrik pengolahan.
Mengutip buku Outlook Komoditas Perkebunan Vanili 2024 yang diterbitkan Kementerian Pertanian, Indonesia tercatat sebagai produsen vanili nomor dua terbesar di dunia di bawah Madagaskar.
Produksi vanili polong kering di Indonesia pada 2024 diperkirakan 1.560 ton. Bahkan, pada 2015 jumlah produksinya mencapai 1.740 ton. Dengan jumlah ini, Indonesia menguasai sekitar 20 persen produksi vanili dunia. Indonesia juga jadi eksportir vanili di kancah global dengan 173 ton pada 2023. Nilainya mencapai 15,16 juta dolar AS.
Saat ini sentra vanili tersebar di Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Jawa Barat, hingga Sulawesi Utara, dengan luas total 10.000 hektar. Keberadaan lahan vanili di Pandeglang akan memperkuat produksi “emas” hitam nasional Indonesia.





