JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) mengatakan, Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan semua pihak untuk memastikan keamanan dan ketersediaan energi bagi rakyat Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Juru Bicara Kemenlu Vahd Nabyl Mulachela menanggapi Uni Eropa yang mendorong negara ASEAN tak beralih ke Rusia sebagai sumber pasokan minyak di tengah krisis energi.
“Terkait dengan Uni Eropa, kita juga terbuka untuk menjalankan kerja sama yang lebih kuat dengan semua pihak termasuk dengan Uni Eropa juga untuk mencapai ketahanan energi yang menjamin keterjangkauan, ketersediaan,” kata Nabyl di kantor Kemenlu, Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Nabyl mengatakan, di tengah dinamika geopolitik yang dinamis, pemerintah memprioritaskan ketahanan energi bagi kepentingan nasional yang sangat mendesak.
Baca juga: Kena Sanksi Uni Eropa, Perusahaan Terminal Minyak RI Bantah Tangani Tanker Rusia
Pemerintah, kata dia, bekerja sama dengan berbagai mitra seperti Rusia dan Amerika Serikat.
“Dan kita bekerja sama dengan berbagai mitra termasuk dengan Amerika Serikat dengan Rusia, yang intinya adalah untuk memenuhi kebutuhan energi yang menunjang kebutuhan rakyat dan kepentingan nasional tadi,” ujarnya.
Dilansir Kontan.co.id, Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mendesak negara-negara Asia Tenggara untuk tidak beralih ke Rusia sebagai sumber pasokan minyak di tengah krisis energi yang dipicu konflik Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Kallas usai pertemuan dengan para menteri luar negeri negara-negara ASEAN di Bandar Seri Begawan, Brunei, pada Selasa (28/4) mengutip Reuters.
Menurut Kallas, langkah mencari alternatif energi dari Rusia berisiko memperkuat kemampuan Rusia dalam membiayai perang di Ukraina.
Baca juga: Ketika Iran Membawa Rusia Kembali ke Timur Tengah
Ia menegaskan bahwa pendapatan dari ekspor minyak menjadi salah satu sumber utama pendanaan konflik tersebut.
"Izinkan saya mengingatkan bahwa pendapatan dari minyak adalah pendapatan yang digunakan Rusia untuk membiayai perang ini (di Ukraina). Kami memiliki kepentingan agar perang ini berhenti," ujar Kallas kepada wartawan.
Kallas juga menyoroti bahwa Rusia mendapat keuntungan dari konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Konflik tersebut menyebabkan penutupan efektif Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia serta berbagai komoditas penting lainnya.
Gangguan di Selat Hormuz telah memicu kelangkaan bahan bakar di berbagai kawasan, termasuk Asia Tenggara, sehingga mendorong negara-negara di kawasan tersebut mencari sumber pasokan alternatif.
Baca juga: KSP Dudung Akan Hadiri May Day untuk Dengar Aspirasi Buruh
Pada bulan ini, Uni Eropa telah menyetujui paket sanksi terbaru terhadap Rusia, termasuk pengetatan pembatasan perdagangan minyak.
Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi kemampuan Moskow dalam mendanai operasi militernya.
Dalam konteks tersebut, Kallas menekankan pentingnya diversifikasi sumber energi bagi negara-negara mitra, termasuk di Asia Tenggara.
"Itulah sebabnya kami tentu mendorong diversifikasi sumber daya dan mencarinya dari tempat lain, bukan dari Rusia," tegasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




