Kepala Klinik Pratama Universitas Riau (Unri) dr. Yusdiana, mengungkapkan sosok dokter pria terduga pelaku pelecehan seksual berinisial L. Dokter itu telah dinonaktifkan sementara sejak kasus ini mencuat pada 27 April 2026.
“Benar sudah dinonaktifkan sampai proses selesai. Pihak klinik juga sudah berkoordinasi dengan rektorat dan rumah sakit Unri untuk meminta tambahan satu dokter lagi,” kata Yusdiana, Rabu (29/4).
Yusdiana menjelaskan, selama ini terduga pelaku dikenal memiliki hubungan yang baik dengan rekan kerja di lingkungan klinik. Dalam keseharian, tidak terlihat adanya perilaku mencurigakan.
“Dalam pergaulan sehari-hari di klinik biasa saja, baik dan bisa menyesuaikan dengan rekan-rekan. Kalau ada rapat atau acara juga selalu ikut, jadi di lingkungan kami tidak ada sesuatu yang aneh,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengaku baru mengetahui dugaan kasus tersebut pada Jumat pekan lalu. Selama ini, pihak klinik tidak pernah menerima laporan, baik dari pasien maupun tenaga medis, terkait dugaan tindakan tidak pantas tersebut.
“Saya baru tahu kasus itu Jumat pekan lalu. Sebelumnya tidak ada laporan yang masuk,” tambahnya.
Terkait mekanisme pelayanan, Yusdiana menyebut bahwa pemeriksaan pasien pada umumnya didampingi oleh perawat. Namun, dalam kondisi tertentu, seperti saat jumlah pasien membeludak, pendampingan tidak selalu bisa dilakukan secara maksimal karena perawat harus melakukan proses skrining awal.
“Untuk sebenarnya dokter melakukan pemeriksaan didampingi perawat, tapi kadang pasien numpuk jadi tidak bisa mendampingi karena harus melakukan screening awal,” ungkapnya.
Meski demikian, untuk kasus tertentu yang membutuhkan pendampingan, dokter biasanya akan meminta bantuan tenaga medis lain yang sedang bertugas.
Di tengah mencuatnya kasus ini, Yusdiana memastikan bahwa pelayanan di klinik tetap berjalan normal dan aktivitas pasien tidak terganggu.
“Sampai saat ini klinik masih aman dan pasien masih berkunjung seperti biasa,” tegasnya.





