JAKARTA, KOMPAS - Produksi pupuk Indonesia dipastikan aman dari gangguan kendati terjadi konflik geopolitik di Timur Tengah. Produksi bahkan melebihi kebutuhan dalam negeri. Kelebihan produksi yang mencapai 1,5 juta ton ini rencananya diekspor.
Corporate Secretary PT Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira menjelaskan konflik di Timur Tengah memang sangat krusial karena sebanyak 40 persen pasokan urea dari negara-negara sekitar Selat Hormuz. Karenanya, bukan hanya krisis energi, konflik di Timur Tengah ini bisa membawa pula krisis pangan.
Namun, PT Pupuk Indonesia menggunakan banyak sumber. Phosphat rock diimpor dari negara-negara Afrika Utara seperti Maroko, Mesir, Aljazair, dan Yordania. Kalium chorida diperoleh dari negara-negara sekitar kutub seperti Belarusia, Rusia, dan Kanada.
"Saat ini tidak ada (pasokan bahan baku) dari negara-negara sekitar Selat Hormuz dan PT Pupuk Indonesia bisa memastikan tidal ada gangguan pasokan pupuk dalam negeri," tutur Yehezkiel dalam seminar yang diselenggarakan Lembaga Manajemen FEB Universitas Indonesia bertajuk "Prospek dan Tantangan BUMN di Tengah Krisis Geopolitik Global", Kamis (30/4/2026) di Jakarta.
Seminar ini menghadirkan Wakil Ketua Dewan Pengawas Badan Pengelola Investasi Danantara Muliaman Hadad, Managing Director Legal BPI Danantara Robertus Bilitea, Associate Director BUMN Research Group Lembaga Manajemen FEB UI Toto Pranoto, Direktur Manajemen Risiko PT Pelindo Roy Robyanto, dan Direktur Kepatuhan Jasa Raharja Harwan Muldidarmawan.
Dengan pasokan bahan baku multisumber itu, kata Yehezkiel, tahun 2026 ini produksi pupuk urea mencapai 7,8 juta ton. Adapun kebutuhan dalam negeri sebanyak 6,3 juta ton.
Sementara itu, produksi pupuk NPK sebanyak 4,5 juta ton masih sepenuhnya dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri.
Kelebihan produksi yang bisa diekspor adalah 1,5 juta ton pupuk urea. "ni bisa kami berikan ke negara-negara sahabat tetapi mekanisme pemberian ekspor melalui G to G, bukan B to B. Kalau pemerintah menyetujui, baru kami tindak lanjuti melalui B to B," tuturnya.
Sepanjang 1 Januari sampai 26 April 2026, tambah Yehezkiel, PT Pupuk Indonesia sudah menyalurkan 3.156.109 ton pupuk. Angka ini, lebih tinggi 40 persen dari periode sama di tahun lalu yang 2.283.293 ton.
Kelebihan produksi pupuk di saat kondisi geopolitik tak menentu, lanjut Yehezkiel, menjadikan pupuk sebagai instrumen diplomasi ekonomi.
"Kita memberi pupuk ke Australia dan dari Australia kita akan mendapatkan ternaknya. Nanti juga demikian dengan dengan India," ujarnya.
Ekspor pupuk ke Australia ini menjadi tindak lanjut komunikasi Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Anthony Albanese melalui hubungan telepon 21 April lalu. Saat itu, PM Albanese pun mengunggah percakapannya di akun X @albomp. Selain menyebut kedekatan hubungan Indonesia-Australia, Albanese pun berterima kasih atas pasokan pupuk untuk Australia. Dia juga menegaskan komitmen kedua negara untuk memastikan kebutuhan pokok domestik tetap aman.
Persetujuan ekspor 250.000 ton pupuk urea itu, menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya sehari setelah percakapan tersebut, sudah ditandatangani Presiden Prabowo.
Selain Australia, menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Kamis (23/4/2026), India juga berminat mengimpor pupuk dari Indonesia.
Salah satu faktor yang mendorong permintaan tersebut, menurut Airlangga, adalah harga pupuk Indonesia yang kompetitif. Hal ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menetapkan harga gas bagi industri pupuk di kisaran 6 dollar AS per MMBTU untuk menjaga harga eceran tertinggi (HET).





