Jakarta: Ancaman spesies ikan asing invasif di perairan Indonesia kian meningkat. Salah satunya yaitu ancaman dari ikan sapu-sapu yang saat ini marak diburu di DKI Jakarta karena mengganggu ekosistem sungai.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gema Wahyudewantoro, mengatakan, Secara global, terdapat sekitar 15 jenis ikan tersebut. Saat ini telah ditemukan mencapai tiga spesies di Indonesia.
"Padahal sebelumnya hanya ditemukan satu spesies, sehingga (ikan sapu-sapu) perlu diantisipasi agar tidak seluruhnya masuk dan memperparah tekanan terhadap biodiversitas perairan Indonesia," ujar Gema, dalam acara Media Lounge Discussion (Melodi) di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (30/4).
Baca Juga :
Potensi Ikan Sapu-sapu Jadi Pupuk Tanaman Hias, Ini Penjelasan PakarGema menyebut, kemampuan adaptasinya tinggi dan juga memiliki mekanisme pernapasan tambahan yang memungkinkan bertahan di perairan dengan kualitas rendah. Menurutnya, ikan sapu-sapu bukan predator, melainkan kompetitor yang kuat.
"Aktivitasnya di dasar perairan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan," jelasnya. Pengendalian populasi ikan sapu-sapu Gema mengungkapkan, dampak keberadaan ikan sapu-sapu tidak hanya pada lingkungan, seperti menggeser ikan lokal dan merusak habitat. Dari sisi ekonomi, ikan sapu-sapu berdampak pada penurunan hasil tangkapan ikan bernilai tinggi.
"Dari sisi kesehatan, beberapa penelitian menunjukkan potensi kandungan logam berat dan bakteri seperti Escherichia coli di dalam tubuh ikan invasif," terangnya.
Untuk mengendalikan populasi, Gema mendorong sejumlah langkah strategis, antara lain penangkapan rutin dan terjadwal, penelitian siklus reproduksi, identifikasi musuh alami, restorasi lingkungan, edukasi masyarakat, serta penegakan hukum. Penangkapan perlu dilakukan sebelum musim reproduksi agar lebih efektif.
Ikan sapu-sapu. Sumber Inaturalist.org
Untuk itu diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui waktu musim ikan tersebut bereproduksi. Di sisi lain, pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif, melalui penguatan kebijakan, riset, dan peningkatan kesadaran publik."Sebagian besar spesies asing masuk karena aktivitas manusia. Tanpa pengelolaan yang baik, mereka dapat menjadi invasif dan mengancam biodiversitas lokal," ujar Gema.




